Dari Takdir Ke Takdir : Refleksi Atas Kemanusiaan Kita

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Agustus 2016
Dari Takdir  Ke Takdir : Refleksi Atas Kemanusiaan Kita

Macet, Mendung dan Gerimis / Foto Dok. Pribadi

 

Perjalanan itu akan terasa nyaman dan menyenangkan, kalau hati tidak ada beban dan menikmatinya. Soal jarak dan durasi bahkan tidak masalah. Ruang dan waktu menjadi nisbi. Jauh terasa sebentar atau sebaliknya dekat terasa sangat lama.

Menurut filsuf Henri Bergson, itulah yang membedakan waktu dalam pengertian masa dengan waktu dalam pengertian durasi. Waktu dalam arti matematis, hitungan angka-angka, dan waktu dalam arti suasana. Yang pertama lebih bersifat materi dan lahiriah sedangkan yang terakhir lebih bersifat immateri dan ruhaniah.

Sekian tahun kebersamaan yang kita jalani, dalam pengertian waktu yang bermakna matematis dan hitungan angka-angka itu lumayan lama, tapi kalau dilihat dari pengertian waktu yang bermakna durasi tentu saja berbeda. Itu bisa menyenangkan atau juga tidak, bisa nyaman atau sebaliknya. Tergantung hati dan perasaan kita. Hati kitalah yang merasakan.

Hubungan yang tidak jelas arahnya, dihitung-hitung lebih banyak membebani perasaan masing-masing, lebih banyak perselisihan dan saling menyakiti, walaupun ada rasa saling menikmati dan rasa kesamaan yang saling melengkapi tapi tetap saja ada rasa keresahan yang sulit disembunyikan adalah suasana yang kita alami selama ini.

Jadi ibarat membangun rumah, rumah yang kita bangun adalah rumah dari pasir. Tidak kokoh dan rentan runtuh. Itulah kenyataan. Itulah kita.

Berpisah akhirnya adalah pilihan. Pilihan yang dianggap paling baik bagi kita. Untuk apa dipertahankan, kalau lambat atau cepat, akhirnya berpisah juga. Untuk apa tetap menggenggam dan memeluk, kalau pada akhirnya berujung pisah dan lepas juga. Lebih baik diselesaikan saja daripada dibiarkan menggantung tidak jelas. Lebih baik disudahi saja daripada menanggung berlama-lama beratnya perasaan yang sudah mendalam dan mengendapkan keresahan lebih dalam lagi.

Lupakan saja semuanya. Hapus saja segalanya. Kubur apa saja yang sudah berlalu. Tidak perlu diingat-ingat kembali. Biarlah itu menjadi suatu pelajaran hidup yang pernah mewarnai lembaran hidup kita.

Pertemuan kita tidak pernah diduga. Pengalaman kita pun tidak pernah direkayasa. Semua berjalan apa adanya. Mengalir bagai air. Begitu sering kita menyebutnya. Termasuk perpisahan kita ini pun tidak pernah diniatkan.

Ini semua adalah takdir. Kita bertemu adalah takdir. Kita berpisah pun adalah takdir. Dari takdir berujung ke takdir. Berpindah dari takdir yang satu ke takdir yang lain.

Kita pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima apa adanya. Pasrah dan tawakal. Menerima dengan penuh kelapangan. Sepenuh hati. Seikhlas hati. Hati memang harus benar-benar mengikhlaskan. Mau atau tidak mau. Suka atau tidak suka. Begitu adanya.

Hidup memang adalah pilihan. Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan. Kita kadang-kadang bertemu pilihan yang menyulitkan kita untuk menetapkan.

Tapi bagaimanapun kita harus tetap memilih. Memilih atau tidak memilih pun, itu tetap saja adalah pilihan. Itulah resiko. Bukan hidup kalau tidak mau beresiko. Resiko hidup dan pilihan takdir.

Begitulah hidup. Hidup itu mestinya menghidupkan keindahan dan mengindahkan kehidupan. Hidup memang seharusnya indah.

Ketika hidup terasa tidak indah lagi, maka hidup terasa hambar, hampa dan tentu terasa tidak nyaman lagi. Ibarat makan, kita sudah kehilangan selera dan hasrat untuk menikmati makan. Rasa lapar menguap menjadi kenyang. Kenyang sebelum makan. Makanan yang sudah terhidang sangat disayangkan karena menjadi sia-sia dan mubazir.

Inikah yang namanya menjenuhkan dan membosankan itu? Sampai separah itukah kita? Iya bisa jadi.

Kalau sudah begitu, sudahlah benar, tidak ada yang perlu disayangkan dan disesali. Tidak perlu lagi mencari sebab musabab. Atau siapa yang salah dan siapa yang benar. Apalagi mengklaim dan menyalahkan. Mencela dan mencurigai. Maido, istilahnya. Walaupun di hati pasti ada rasa marah, sesal dan kecewa.

Anggap saja ini sudah waktunya berakhir dan berpisah. Dulu kita yang memulai, sekarang kita juga yang mengakhiri. Dulu kita bertemu, sekarang kita saatnya berpisah.

Bertemu dan berpisah adalah sebuah keniscayaan. Itu terjadi secara alami dan manusiawi. Ibarat lakon, kita yang membuka dan kita juga yang menutup. Saatnya lakon itu selesai. Saatnya dongeng itu berakhir. Tamat.

Bukankah mencintai itu tidak selamanya harus memiliki? Hari ini, kita tutup dongeng kita dengan kesedihan dan kekecewaan, untuk kebaikan dan kebahagiaan kita masing-masing. Karena, bukankah kebahagiaan dan kebaikan adalah jika kita bisa membuat orang lain bahagia dan baik?

Ke depan yang terpenting adalah melanjutkan lakon baru kita masing-masing. Merangkai cerita baru. Mengukir senyum dan harapan baru.The show must go on! Pertunjukan harus tetap dilanjutkan, kata Queen.

Berjalan dengan menegakkan kepala. Menatap ke depan dengan membuka mata, hati dan perasaan. Agar tidak lagi dirundung penyesalan di hati di kemudian hari. Me-move on-kan diri. Menghijrahkan diri. 

Ibarat air, ia harus terus bergerak dan mengalir. Dengan begitu ia akan jernih, bersih, sehat dan menyehatkan. Sebaliknya, jika ia tertahan menjadi diam dan berhenti. Mandeg dan mengendap. Dengan begitu, ia akan keruh, kotor, membawa bibit penyakit dan bisa menyakitkan. Demikian pesan Imam Syafi'i bertutur dalam salah satu syairnya. Selaras dengan itu, filsuf Heraclitus mengatakan "everything flows", segalanya mengalir.

Optimis dan penuh harapan adalah suplemen untuk sehat dan makin menyehatkan. Pesimis dan putus harapan adalah gejala sakit dan bisa-bisa tambah menyakitkan.

Tiada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Manusia tidak selamanya benar dan baik, juga tidak selamanya salah dan buruk. Benar-salah dan baik-buruk itu selalu bersemayam dalam diri setiap manusia. Itu adalah fitrah. Karena kita memang manusia, bukan malaikat atau juga iblis. Tapi di situ letaknya sisi kesempurnaan manusia.

Nabi bahkan menyatakan bahwa manusia itu tidak luput dari salah dan lalai. Manusia tidak ada yang tidak pernah bersalah. Dan sikap yang paling baik dari yang pernah bersalah itu adalah melakukan mawas diri, pertobatan dan permohonan maaf.

Dari itu, ada baiknya, kita mawas diri, bertobat dan saling memaafkan. Saling menyadari segala kesalahan, kekeliruan dan kekhilafan kita masing-masing. Kembali pada keinsyafan dan kesadaran diri. Agar semua langkah kita menjadi ringan dan tak ada lagi beban yang memberatkan perjalanan kita ke depan dan selanjutnya. Sambil tetap berharap semoga semuanya baik-baik saja. Tuhan selalu menyertai kita. Amin.

 

 

 

  • view 242