Ketika Menteri Menggagas : Sekali Lagi Tentang Full Day School

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Budaya
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Ketika Menteri Menggagas : Sekali Lagi Tentang Full Day School

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy / Foto  Republika.co.id

 

Bagi saya, sekolah sehari penuh atau full day school, itu sudah tidak masalah, biasa-biasa saja dan tidak aneh. Karena sejak masih kanak-kanak, sekitar tahun 70-an, saya belajar di sekolah dalam kondisi seperti itu. Padahal itu terjadi di pelosok desa yang tidak terlalu jauh dari ibukota Jakarta, sebelum semaju sekarang. Listrik saja belum tersedia dan memang belum masuk ke desa saya.

Desa saya saat itu belum tersentuh dengan yang namanya program listrik masuk desa. Tetapi waktu itu saya belajar di dua sekolah sekaligus. Pagi hari sampai siang, saya belajar di sekolah dasar, sedang setelah dzuhur sampai sore hari, saya belajar di sekolah agama -- masyarakat menyebutnya seperti itu -- atau madrasah ibtidaiyah.

Belum lagi sehabis salat magrib, saya wajib mengaji atau belajar membaca Alquran di surau. Itu saya alami selama enam tahun sampai saya lulus di dua sekolah itu, sekolah dasar negeri dan madrasah ibtidaiyah. Makanya saya punya dua ijazah; yang satu, ijazah sekolah dasar negeri yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan yang satunya lagi, ijazah madrasah ibtidaiyah yang dikeluarkan oleh Departemen Agama.

Terus terang, saya merasa nyaman-nyaman saja, bahkan masa-masa itu, bersekolah, bagi saya sangat menyenangkan. Karena di samping belajar serius berkutat dengan pelajaran-pelajaran sekolah, tetapi diselingi dengan kegiatan-kegiatan lain -- sekarang populer dengan istilah ekstra kulikuler (ekskul) -- yang menyenangkan, misalnya belajar bernyanyi lagu-lagu daerah dan nasional, bermain musik, berolahraga dan termasuk mendengarkan dongeng dari guru tentang tokoh-tokoh sejarah perjuangan kemerdekaan atau tokoh-tokoh sejarah Islam.

Setelah lulus sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, bahkan saya mengalami sekolah yang lebih ekstrim lagi, karena saya melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren, yang tidak saja belajar di kelas seperti biasa tetapi juga ditambah dengan kegiatan-kegiatan lain yang lebih menitikberatkan pada pengembangan kepribadian dan kreatifitas, sosialisaisi diri, keterampilan dan kepemimpinan, yang tentu masih dalam bingkai proses pendidikan karakter atau mental spiritual.

Jadi saya mengalami bersekolah bukan saja sehari penuh (full day school) tadi, tetapi justru mungkin lebih daripada itu. Bersekolah yang lebih ekstrim lagi. Awalnya tentu saja saya kaget dengan kondisi seperti itu di pesantren. Karena ada sedikit kebiasaan yang berbeda. Tapi lama-lama saya merasa terbiasa. Lagi-lagi saya merasa nyaman dan menyenangkan dengan bersekolah seperti itu.

Ada nilai plus yang saya dapatkan. Itu terjadi sekitar tahun 80-an. Saya belajar selama enam tahun di pesantren (setingkat SLTP dan SLTA).  Dan ternyata kondisi serupa itu pun sekarang dialami oleh anak-anak saya selama ini dari sejak sekolah dasar sampai SLTA. Mereka kelihatannya nyaman-nyaman saja dan sudah terbiasa bersekolah seharian penuh atau pulang sekolah sampai sore hari (full day school).

Ini saya ceritakan sebagai respon terhadap topik yang sekarang menjadi issu nasional tentang sekolah sehari penuh (full day school) yang dilontarkan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru, yang akhirmya menjadi tranding topic di media sosial. Artinya bahwa topik ini sebenarnya bukan hal yang baru.

Bagi yang sudah mengalami seperti yang saya ceritakan, tidak masalah. Tetapi bagi yang belum mengalami dan menerapkannya menjadi masalah dan kaget memang, bahkan ada kesan semacam gagasan yang mengada-ada dan semacam pencitraan mungkin bagi pejabat baru.

Munculnya seloroh, "ganti menteri ganti kebijakan atau menteri baru kebijakan baru" itu sudah hal yang lumrah di negeri ini. Kritik dan bernada tidak sepakat dari beberapa kalangan masyarakat terhadap topik ini, di satu sisi, adalah tidak salah, kalau kebijakan ini akan diberlakukan secara nasional di seluruh sekolah-sekolah.

Tetapi di sisi lain, kalau hanya diterapkan di sekolah-sekolah tertentu yang selama ini sudah menerapkannya adalah juga benar. Dus, kalau begitu di mana letak masalahnya? Masalahnya menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru ini mungkin terkesan memaksakan diri untuk menerapkan kebijakan sekolah sehari penuh (full day school) di seluruh sekolah secara nasional.

Kalau ini terjadi tentu kebijakannya kurang bijak dan perlu ditinjau ulang, seperti kritikan yang dilontarkan oleh beberapa kalangan masyarakat. Terus kalau begitu apa maksudnya menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru melemparkan topik ini? 

Maksudnya tentu tidak sekadar mengikuti pepatah "kholif tu'rof",  yang penting berbeda biar terkenal, tapi sudah pasti punya maksud baik dan gagasan bagus., atau tidak sekadar menggagas, seperti mengutip ucapannya, "Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja." Tapi, entahlah. Paling-paling dikaji ulang atau mungkin ditunda. Itu biasa terjadi di negeri antah berantah seperti ini. Kita lihat dan kita tunggu saja akhir dari lakon di panggung jenakanya negeri ini. Selamat menyaksikan!

  • view 161