Tuhan Pun Sakit, Lapar dan Haus

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Agama
dipublikasikan 09 April 2016
Tuhan Pun Sakit, Lapar dan Haus

Foto : Hola_wallpaper

 

Ketika datang bulan Rajab, salah satu bulan dalam kalender Islam, kita diingatkan dengan peristiwa fenomenal pada empat belas abad silam yaitu peristiwa Isra Mi'raj. Rajab adalah bulan ketika Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan bertemu dengan Tuhan.

Perjalanan "wisata" spiritual, sebuah "kado istimewa" dari Tuhan untuk Nabi kita setelah ditinggal pergi istrinya tercinta, Khadijah dan pamannya yang sangat ia sayangi, Abu Thalib untuk selama-lamanya. Wajarlah, kalau kemudian Nabi merasa kehilangan dan begitu berduka. Sehingga dalam sejarah, saat itu disebut sebagai tahun duka cita ('amm al-huzni)

Nabi kita itu mi'raj, naik bertemu dengan Tuhan. Berada pada zona (maqam) sangat tinggi dalam dunia tasawuf. Zona yang nyaman dan menjadi cita-cita setiap traveller (salik). Tapi Nabi tetap tidak sombong dan tetap tidak lupa untuk turun lagi kembali membumi. Nabi itu hebat. Ketika sementara sebagian orang dan kebanyakan sufi enggan untuk turun saat berada di atas dan keluar dari tempat yang nyaman (comport zone).

Rajab identik dengan salat. Oleh-oleh Nabi dari perjalanan ini, Isra Mi'raj, yaitu diterimanya perintah salat dari Tuhan. Salat lima waktu yang kita lakukan ini. Salat adalah mi'raj, naiknya seorang yang beriman bertemu dengan Tuhan. Wajib ini.Tapi kalau hanya ini saja, percuma bahkan celaka, kata Alquran juga.

Bertemu dengan Tuhan, tidak cukup sekadar dengan salat, puasa, zakat, haji dan ritual-ritual lainnya yang bersifat personal dan simbol kebaikan individu, tapi kebaikan sosial juga wajib. Makanya, Tuhan pun sakit, lapar dan haus. Minta dijenguk, diberi makan dan minum. 

Dalam sebuah hadis Qudsi Allah SWT berfirman,  “Wahai anak Adam! Aku sakit mengapa engkau tidak menjenguk-Ku, ia berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam. Allah berfirman: Engkau tahu bahwa seorang hamba-Ku sakit di dunia, akan tetapi engkau tidak menjenguknya, seandainya engkau menjenguknya sungguh engkau akan dapati Aku di sisinya.”

“Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu, mengapa engkau tidak memberi-Ku? Orang itu berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman: Engkau mengetahui ada dari hamba-Ku yang kelaparan dan engkau tidak memberinya makan, sekiranya engkau memberinya makan, niscaya engkau dapati Aku di sisinya.''

''Wahai anak Adam Aku meminta minum padamu sedang engkau enggan memberi-Ku minum. Ia berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah menjawab: Seseorang meminta minum padamu dan engkau tak memberinya, sekiranya engkau memberinya minum niscaya engkau dapati Aku di sisinya.” (HR. Muslim).

Hampura kula, ya Gusti Allah. Sorry ya Nabi. Saya mah masih suka comro, eeh omdo. Tentang omdo (baca : omong doang), jadi ingat pesan Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa anda mengatakan sesuatu yang tidak anda kerjakan? (Ini) sangatlah dibenci di sisi Allah jika anda mengatakan apa-apa yang tidak anda kerjakan." (QS. 61 : 2 - 3).

 

01 Rajab 1437 H

 

By Muis Sunarya

 

 

  • view 206

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Inspiratif...
    Terkadang ada beberapa sufi yg lupa menapak bumi kembali terlalu asyik dgn 'langitnya' dan 'bersatunya' dgn Tuhan.
    Tetapi, bukankah buah dari agama adalah 'akhlak' yg mulia. Yg menjadi Rahmat sekalian alam. Sekalian alam.
    Mksi telah menulis ini.