Hidup Dengan Penuh Arti

Muis Sunarya
Karya Muis Sunarya Kategori Agama
dipublikasikan 02 April 2016
Hidup Dengan Penuh Arti

Foto Google

 

Hidup di dunia fana ini sementara. Setiap hari umur terus berkurang. Hidup adalah berjalan menuju kepastian (kematian). Kematian datangnya tidak bisa dipercepat atau diperlambat. Kita semua pasti akan menemuinya.

Cobalah renungkan kata-kata hikmah ini :

"Idza hamlta ila al-quburi janazatan fa'lam binnaka ba'daha mahmulu, wa idza wulita umura qawmin sa'atan fa'lam biannaka ba'daha ma'zulu / bila anda memikul keranda (jenazah) ke kuburan, maka ketahuilah bahwa suatu saat anda akan dipikul pula, dan bila anda dipercaya untuk menjadi pemimpin, maka ketahuilah bahwa suatu saat anda akan dimakjulkan juga".

Juga pesan Nabi :

"Ahbib ma ahbabta fainnaka mufariquhu, wa'isy ma syi-ta fainnaka mayyitun wa'mal ma syi-ta fainnaka mujziun bih / cintailah apa atau siapa saja, tapi sadarilah bahwa anda akan berpisah dengan semuanya itu, hiduplah sesuka anda, tapi yakinlah bahwa anda pasti mati, dan berbuatlah sesuka anda, tapi ingatlah bahwa anda akan dapat balasan atas perbuatan anda itu". (H.R. Al-Thabrani)

Umur umat Muhammad saw sekitar 60 atau 70 tahun, dan sangat sedikit yang dapat melampaui umur 70 tahun. Jika kita kalkulasi umur kuantitatif kita sampai pada 60 tahun, misalnya. Setiap hari adalah 24 jam. Setiap hari kita menghabiskan waktu untuk tidur 8 jam, maka 1/3 hidup kita atau 20 tahun digunakan untuk tidur. Sisanya 2/3 atau 40 tahun hidup kita, seberapa banyak kita gunakan untuk bekerja, sosial kemasyarakatan, ibadah kepada Allah dan lain-lain

Bagaimana kita menggunakan dan mengelola umur kuantitatif kita menjadi umur kualitatif?

Lakukan hal yang baik dan bermanfaat. Sebaik-baik keislaman seseorang meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, kata Nabi saw.

Sekarang juga, tidak usah menunda waktu. Sebab belum tentu esok kita masih bisa menghirup udara seperti saat membaca tulisan ini. Maka, teruslah berkarya, teruslah menginspirasi.

Kata bijak, innama al-marú haditsun ba'dahu fa kun haditsan hasanan li man wa'â / sesungguhnya seseorang yang setelah tiada akan menjadi cerita, maka jadilah anda cerita yang baik bagi yang mendengarnya.

April 2016

Muis Sunarya

 

 

  • view 238