Memilih Diam

Muhshonah Mujahidah
Karya Muhshonah Mujahidah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Februari 2016
Memilih Diam

Ada seseorang yang memilih diam. Karena menurutnya diam itu akan lebih aman daripada mengungkapkan. Memendam sendiri dalam diam bagaimana sebenarnya gemuruh perasaannya. Ada kekhawatiran yang dia takutkan.?

?

Dan itulah aku.

?

Akan berbeda jadinya jika aku mengungkapkannya kepadamu. Aku lebih suka seperti ini. Memandangimu dari balik rumpunan bougenville yang tumbuh di taman kampus kita. Memandangimu bercengkrama dengan teman-teman akrabmu. Berdiskusi dalam satu forum. Berdebat dalam tema-tema yang mengasyikkan. Ataupun berkumpul bersama teman-teman lain sejurusan untuk membahas event tertentu.

?

Akan beda jadinya jika aku mengungkapkannya kepadamu. Mungkin saja kamu yang notabene nya memang irit berbicara terhadap laki-laki, akan semakin menghindariku. Setidaknya bahkan menolehpun nanti kamu akan enggan. Aku tidak bisa lagi memandangimu dari balik rumpun bougenville seperti yang biasa aku lakukan untuk bercanda bersama teman-temanku. Padahal alasan sebenarnya aku berdiam diri disana hanya ingin bisa mencuri pandang ke arahmu.

?

Mungkin aku terkesan pengecut. Karena laki-laki sejati tidak seharusnya menyimpan perasaan seperti ini. Tapi menurutku perkara mengungkapkan perasaan itu bukan hal sesepele itu. Aku adalah tipe laki-laki yang sekali berucap, akan bertanggung jawab penuh terhadap perkataanku. Aku tidak sepakat dengan beberapa temanku yang menjadikan kaum-mu sebagai piala pencapaian atas sebuah tantangan pribadi. Yang kemudian setelah didapatkan bisa dipamerkan dihadapan teman-teman. Kamu tidak akan pernah aku perlakukan seperti itu. Karena menurutku, bertaruh, medapatkan hadiah lalu memamerkannya kepada teman-teman adalah kerjaannya anak kecil. Anak-anak yang masih ingusan. Tidak bertanggung jawab.

?

Bagiku, diam untuk saat ini adalah cara terbaik yang bisa kulakukan. Tapi aku sadar, diam pun akan ada batasnya. Dan semoga jika saatnya nanti aku sudah berani untuk berbicara, itu dihadapan kedua orang tuamu. Dan ini risikonya, semoga aku tidak keduluan orang lain.

  • view 224