Karawang - Bekasi Saksi Bisu Perjuangan Si Belut Putih

Muhammad Jaenal
Karya Muhammad Jaenal Kategori Tokoh
dipublikasikan 17 Agustus 2017
Karawang - Bekasi Saksi Bisu Perjuangan Si Belut Putih

Sang Singa Karawang-Bekasi julukan yang memang layak diberikan kepada KH Noer Ali. Pria kelahiran Bekasi,15 Juli 1914 adalah salah satu sosok pahlawan bekasi yang ikut memperjuangkan kemerdekaan indonesia dari para penjajah bangsa. Beliau terlahir dari keluarga petani, ayah beliau seorang petani bernama Anwar bin Layu dan ibunya bernama Maimunah.

Cita-cita yang beliau miliki ialah “Membangun dan menciptakan perkampungan surga” Sungguh suatu cita-cita yang sangat mulia,terucap dari KH Noer Ali semasa kecil. Beliau adalah seorang yang religius, usia lima tahun beliau sudah mampu menghapal surat-surat pendek Al-Qur’an. Menjejak usia tujuh tahun beliau mengaji kepada guru maksum bekasi dan guru mughni, KH Noer Ali banyak mendapat ilmu dari kedua gurunya tersebut ruh-ruh tentang keislaman ditanamkan pada hati KH Noer Ali.

Mengenjak usia remaja beliau belajar kepada ulama besar di betawi bernama guru marzuki disana beliau diajari ilmu-ilmu agama dan ilmu bela diri hingga beliau terkenal sakti dan tidak mampu teretembus peluru. Bahkan penjajah belanda pun kesulitan menangkap KH Noer Ali sering menghilang dan sangat sulit untuk di tangkap hingga masyarakat pun memberi gelar “ Si Belut Putih” yang sangat licin.

Dalam perlawanan beliau terhadap para penjajah tanah air sangat berjiwa patriot nasionalis, tak jarang ketika beliau dikejar para penjajah KH Noer Ali berani mengumpat di dalam rawa-rawa hingga hampir seluruh badan beliau dilekati oleh lintah-lintah rawa beliau memilih kabur menuju rawa-rawa untuk menyulitkan para penjajah belanda menangkapnya, maka itulah selain sakti dan pandai dalam ilmu agamanya beliau juga cerdik dalam menata strategi.

Inilah yang membuatku terinspirasi oleh sosok KH Noer Ali, selain ilmu-ilmu agama dan bela diri sosok beliau yang semangat dan rendah hati yang membuatku kagum dengan beliau. Pada tahun 1934 KH Noer Ali melanjutkan belajarnya di Mekkah tepatnya di Madrasah Darul U’lum, guru-guru beliau antara lain Syeck Ali al maliki, Syech Umar Turki, Syeck umar Hamdan Syech Ahmad Fathani dll. DiMekkah beliau bertemu dengan pelajar asal indonesia seperti Kh Masturo, Kh Sybro Malisi, Kh Hasbulloh dan masih banyak lagi. Hingga beliau memperakarsai membentuk himpunan Pelajar betawi dan Himpunan Pelajar Indonesia karena jiwa Nasionalisme dan prihatin melihat Bangsa Indonesia masih di jajah oleh Belanda.

Setelah menuntut ilmu selama enam tahun di mekkah, beliau kembali ke tanah air dan mendirikan sebuah Pondok pesantren At-Taqwa di ujung harapan bekasi. Selain mendirikan pesantren KH Noer Ali juga mengajak para rakyat bekasi untuk berjuang angkat senjata melawan para penjajah belanda, walau dengan persenjataan tradisional dan sederhana tapi tak menyiutkan nyali mereka. Apa lagi karena KH Noer Ali terkenal dengan kesaktiannya dan kelincahaannya dalam melarikan diri dan menyusun taktik perang.

Beliau pernah menjadi pimpinan Laskar Rakyat Bekasi, dan pernah bergabung menjadi Komandan Batalyon III Barisan Hizbulloh. KH Noer Ali namanya sangat dikenal oleh rakyat dan ditakuti oleh belanda karena keberaniannya dan jiwa patriotismenya.

Seusai masa perjuangan melawan penjajah berakhir, KH Noer Ali kembali membangun dan menyebarkan ilmu islam dan pendidikan lewat dakwah dan pengajaran di pondok pesantren At-Taqwa yang ia bangun di bekasi. Walaupun sosok beliau seorang ulama besar namun beliau masih saja haus ilmu dan beliau pun mengaji kepada Habib Ali Al habsyi Kwitang jakarta untuk bertabaruk.

K.H. Noer Alie juga dikenal sebagai seorang politisi yang hebat. Ia pernah terpilih dan menjabat menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Cabang Babelan. Pada 19 April 1950, ia juga pernah menjabat Ketua Masyumi Cabang Jatinegara, nama Kota Bekasi saat itu. Ia pun tercatat sebagai salah seorañg yang membidani lahirnya Kabupaten Bekasi. Dalam bidang sosial dan pendidikan, K.H. Noer Alie membentuk sebuah organisasi bernama Pembangunan Pemeliharaan dan Pertolongan Islam yang kemudian berganti nama menjadi Yayasan Attaqwa.

Pada tanggal, 3 Mei 1992 KH Noer Ali menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau wafat di usia 78 tahun, kabar itu tentu membuat masyarakat dan para ulama merasa sangat kehilangan sosok beliau sosok ulama besar dan pejuang yang sangat banyak membawa pengaruh bagi perkembangan bangsa sangat berjasa bagi negeri.

Atas jasa pengabdian dan perjuangan serta perannya terhadap pembangunan bangsa pada tanggal 3 November 2006 lewat SK Presiden : Keppres No. 085/TK/2006 beliau mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional, namanya pun di abadikan sebagai salah satu nama jalan dikalimalang bekasi.

Tak hanya itu atas keberaniannya serta jiwa patriotisme KH Noer Ali dalam membela bangsa dan Negara bersama rakyat, telah menginspirasi Chairil Anwar untuk menulis puisi berjudul Karawang Bekasi.

Begitupun denganku yang terinspirasi atas sikap dan semangat perjuangan yang dilakukan oleh KH Noer Ali, sosoknya menginspirasi diriku untuk ikut membangun bekasi dan mengembangan bekasi dengan keahlian serta profesi yang kupunya.

Membangun lewat karya sastra,lewat kemajuan IPTEK serta lewa karya seni dan ikut serta berpartisipasi menjadi masyarakat bekasi yang aktif memberikan input dan respon atas kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Tentu kami sangat bangga dengan sosok KH Noer Ali sebagai tokoh pejuang Pahlawan nasional dari bekasi, tak hanya sebagai pejuang nasional tapi beliau juga turut serta dalam kemajuan dan perkembangan bekasi terutama di bidang pendidikan dan sosial.

Terima kasih pak Ulama Besar KH Noer Ali atas semua jasa-jasamu, namamu akan selalu dikenang bangsa khususnya dikenang oleh rakyat Karawang-Bekasi

 

Sumber : http://www.pojokseni.com/2014/10/artikel-finalis-2-karawang-bekasi-saksi.html

  • view 64