Mencintai Dalam Diam, Kisah Fenomenal Ali dan Fatimah

Muhammad Isran
Karya Muhammad Isran Kategori Motivasi
dipublikasikan 02 Desember 2017
Mencintai Dalam Diam, Kisah Fenomenal Ali dan Fatimah

Cinta dalam diam, istilah yang sangat kekinian di jaman now. Terutama dikalangan aktivis dakwah, bahkan mereka menjadikan cinta dalam diam adalah trend cinta masa kini.

Apa itu cinta dalam diam ? Entah seperti apa defenisi tepatnya kita tidak tahu, namun banyak orang yang memahaminya jikalau cinta dalam diam adalah cinta yang dirahasiakan. Namun yang terpenting ialah bukan cinta yang diumbar dalam kemaksiatan berupa pacaran. Memang berat, terkadang ia meresahkan, tapi itu adalah jalan terbaik untuk menjaga rasa cinta itu agar ia tidak terjatuh kejalan yang salah. Semoga sabar dan ikhlas bagi yang sedang menjalaninya.

Kisah menarik dari cinta dalam diam adalah kisah cinta dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri sang nabi.

Pada suatu ketika Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang sangat dekat dengan Nabi Saw, ia telah mempertaruhkan harta, jiwa, dan kehidupannya untuk Islam, selalu menemani perjuangan Rasulullah Saw. Dialah Abu Bakar Ash Shiddiq. Mendengar kabar itu entah mengapa Ali terkejut, muncul rasa-rasa yang dia pun tak mengerti. Namun dibandingkan Abu Bakar Ali merasa apalah dirinya, ia merasa dia hanya pemuda yang miskin, sedangkan Abu Bakr Ash Shiddiq orang yang kedudukannya dekat di sisi Nabi, segi finansialpun Abu Bakar ialah seorang saudagar, tentu akan lebih bisa membahagiakan Fatimah. Hal itu Ali merasa diuji karena apalah dirinya, hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

Melihat dan memperhitungkan itu Ali ikhlas dan bahagia jika Fatimah menikah dengan Abu Bakar, meskipun hatinya tak bisa membohongi rasa-rasa itu. Rasa-rasa cinta yang ia berusaha mengikhlasaknnya.

Beberapa waktu berlalu, Ali mendapat kabar bahwa lamaran Abu Bakar Ash Shiddiq di tolak Fatimah. Kabar itu tentu menumbuhkan kembali harapannya. Ali kembali mempersiapkan diri, berharap ia masih mempunyai kesempatan.

Ternyata ujian Ali belum berakhir, ia mesti diuji lagi dengan munculnya lelaki yang gagah nan perkasa dan pemberani. Seorang laki-laki yang setan aja lari karena takut kepadanya, musuh-mush Allah bertekuk lutut. Dialah yang diberi gelar Al-faruq, ya , dialh Umar ibn Al Khaththab. Ia datang setelah Abu Bakar mundur. Ia yang terkenal dengan pemisah antara kebenaran dan kebatilan datang melamar Fatimah.

Lagi, lagi, Ali harus berusaha ikhlas, Ali ridha jika Fatimah menikah dengan Umar, sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah Abu Bakar. Namun beberapa saat kemudian Ali menerima kabar yang membuat Ali semakin bingung, karena lamaran Umar ditolak.

“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?” Seru sahabat Ansharnya.

“Mengapa tidak engkau yang mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditungu-tunggu Baginda nabi.”

“Aku?” tanyanya tak yakin.

“Ya. Engkau wahai Saudaraku!”

“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa aku andalkan ?”

Sahabatnyapun menguatkan, “ Kami di belakangmu, kawan!”

Akhirnya Ali bin Abi Athalib pun memberanikan dirinya untuk menemui Rasulullah untuk menyampai maksud hatinya meminag putri nabi Fatimah untuk jadi istrinya.

Memang secara ekonomi saat itu bukanlah siapa-siapa, tak ada yang berharga dari dirinya kecuali satu set baju perang ditambah persedian tepung kasar untuk makanannya, sedrhana sekali.

Tapi Ali tidak meminta Fatimah untuk menunggu 1 atu 2 tahundengan alasan mau mengumpulkan uang terlebih dulu. Ali yakin pilihan menikahi Fatimah tidaklah ringan. Namun segala resikonya ia sudah siap. Ia sadar Allah mahakaya dan tidak akan menelantarkan hambanya yang menikah untuk menjaga dir dan menyempurnakan Agam.

“Ahlan wa Sahlan” itulah sebuah jawaban, sebuah jawaban sederhana yang muncul dari mulut Nabi atas lamarannya. Tidak ada kata-kata yang lain, Cuma Ahlan wa sahlan” ia hanya itu saja. Jawaban yang mebingungkan, yang membuat Ali bertanya-tanya apakah lamarannya diterima atau tidak.

Ali pun bertemu dengan sahabatnya, dan menyakan “menurut kalian apakah “Ahlan wa Sahalan sebuah jawaban ?” ia bertanya penuh dengan kebingungan kepada sahabatnya.

“Satu saja sudah cukup dan kau mendapat dua! Ahlan saja sudah berarti ya, sahlan juga. Dan kau mendapatkan dua-duanya, berarti ya,” jelas sahabtnya.

Dan Ali pun menikahi Fatimah dengan menggadaikan baju besinya. Dan rumah yang disumbangkan sahabat-sahabatnya, tapi Nabi Saw, meminta bayar cicilannya. Itu utang.

Itulah kisah perjuangan cinta Ali. Mencintai dalam diam, kuat dalam mengikhlaskan, dan yakin bahwa Allah memberi yang indah. Walaupun ia tidak mempunyai ekonomi yang sempurna, tapi komitmenya sempurna, sehingga Allah memudahkan jalannya.

“Ahlan wa sahlan” itulah jawaban yang indah, yang Allah hadiahkan atas ikhlas, sabar dan komitmenya. Jawaban yang menyatukan cintanya dngan Fatimah.

Itulah cinta dalam diam, cinta yang selalu didasari oleh ketaaatan, yang diutamakan ialah cinta kepada Allah dan RasulNya. Itulah cinta tentang keberania, tanggung jawab, komitmen, dan keikhlasan. Semoga bisa mengambil hikmahnya.

  • view 340