Mengelola cinta tanpa harus terkena dosa

Muhammad Isran
Karya Muhammad Isran Kategori Renungan
dipublikasikan 26 Februari 2017
Mengelola cinta tanpa harus terkena dosa

Naksir, rasa suka lawan jenis, yang akhirnya pengen menindak lanjuti dengan hubungan pacaran sudah menjadi suatu yang umum bagi remaja-remaja saat ini. Nggak ada habisnya pembahasan masalah cinta bagi anak-anak muda, apalagi zaman sekarang, yang lingkungan sehari-hari selalu mengajarkan kita tentang cinta. Baik, sinetron, media sosial, dan lingkungan sekitar.

Namun ketika rasa suka, rasa sayang sudah diartikan dalam bentuk pacaran, masalah cinta belum selesai. Yang ada hanyalah timbul masalah baru, berupa galau, kecewa, patah hati. Dan ketika hubungan jalan lancar pun, hati kecil kita akan tetap merasa bersalah ketika mejalani aktivitas mesra dalam pacaran. Hati kecil kita tetap akan berteriak semua yang kita lakukan adalah dosa, semua percintaan, kemesraan dalam pacaran adalah suatu perbuatan yang salah. Terus bagaimana kita mengelola hati kita yang sudah jatuh cinta, lantas bagaiamana mengelola benih cinta yang sudah tumbuh itu?

Cinta itu seperti anak bunga yang indah. Ia indah, ia menarik, namun ketika kita merawat dengan cara yang salah, ia tidak akan tumbuh menjadi bunga yang indah, ia tidak akan menjadi bunga yang menarik. Namun ketika merawatnya dengan baik, selalu menyiramnya pagi dan sore, maka ia akan tumbuh menjadi bunga yang indah, menawan, indah dipandang, dan menyejukkan.

Begitulah cinta kita. Apakah cinta kita akan menjadi indah dengan kita yang merawatnya denga dosa-dosa aktivitas pacaran? Apakah ia bisa tumbuh menjadi cinta yang suci jika kita merawatnya dengan dosa-dosa? Tidak akan. Maka rawatlah cinta kita kelolah rasa yang tumbuh pada hati kita dengan sebaik-baiknya.

Jauhkan cinta kita dari dosa, yaitu dengan menghindari aktivitas cinta dalam bentuk pacaran. Pengelolaan cinta yang terbaik sampai kita siap menuju bingkai pernikahan ialah menjadi jomblo yang mulia, yang aktivitasnya terjaga dari kemaksiatan, dan cintanya selalu suci dalam ketaatan. Kita bisa mengelola hati kita yang jatuh cinta dengan menyibukkan diri dengan aktivitas-aktivitas yang mendekatkan kita kepada Allah.

  • view 2.9 K

  • Lenny Harahap
    Lenny Harahap
    10 bulan yang lalu.
    Kalau mengacu pada hukum Islam memang sebaik nya sebatas perkenalan namun ada kala nya pacaran di jadikan barometer untuk memilih maju atau mundur, bisa jadi kalau kita dekat kita bisa semakin mengenal sosok nya, bisa jadi kita semakin mantap melangkah ke arah pernikahan bisa jadi lebih baik mundur dari pada menyesal, ada dukungan kuat dari keluarga terutama orang tua yang memberikan kebebasan pada si anak untuk dekat dengan kekasih nya karena banyak faktor takut menjadi perawan tua kalau tidak punya pacar, bahkan ada yang menganggap kalau menikah karena hamil di luar nikah hal lumrah, memang orang tua berperan mengawasi anak-anak nya dan mengajarkan anak-anak nya tentang pernikahan yang suci dan bersih jangan di korpri nafsu sebelum sah menurut hukum Allah dan hukum di negara ini.