Dusta Cinta

Muhammad Isran
Karya Muhammad Isran Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 18 Oktober 2016
Dusta Cinta

Senyummu indah, bibirmu yang menawan, apa yang mengalir dari sana bagaikan penyejuk bagi jiwaku. Matamu benderang, bagaikan mentari di suatu pagi yang cerah, yang selalu memancarkan cahaya cinta bagiku.

Tapi, itu hanya dulu. Sekarang, kulihat senyummu tidak lagi indah, ia mulai berubah. Senyummu tidak lagi seperti awal cinta kita, senyummu tidak lagi menarik bibirku untuk ikut tersenyum bersamamu. Kulihat bibirmu tidak lagi mengalirkan air yang menyejukkan hatiku. Ia tidak lagi menawan, ia tidal lagi mengalirkan kebeningan, ia mulai kotor, kotor dengan bebagai dusta.

Matamu tidak lagi mencarkan cahaya yang benderang, setiap aku merindumu, setiap kita berjumpa, aku tidak lagi melihat cahaya mentari terbit dari matamu. Aku tidak melihat lagi cahaya benderang yang menghangatkan cinta kita dari matamu. Kulihat cahayanya mulai menjauh, seperti ada yang lain menunggu kehangatan darimu.

Senja berakhir, waktu memang tidak bisa dihentikan, akhirnya malam datang, mentari itu benar-benar tenggelam. Saat ini aku benar-benar tidak lagi melihat mentari itu terbit dari matamu. Berakhir sudah kisah cinta kita. Aku kecewa.

Tapi, akupun sadar bahwa matamu tidak lagi kuat memancarkan kehangatan, bibirmu sudah lelah melepaskan berbagai rayuan, dan kamu sudah capek dengan kepura-puraan.  Aku tahu kamu sudah terlalu banyak berkorban untuk selalu tampil lebih baik didepanku, berusaha untuk selalu menberi perhatian kepadaku.

Sekarang lepaslah lelahmu. Aku disini mencatat semua kenangan, mencoba untuk mengumpulkan berbagai hikmah yang bisa jadi pelajaran untuk yang akan datang. Disini akupun menyimpulkan, pacaran hanya cinta yang penuh dengan kedustaan. 

  • view 1 K