Lelaki Penyuka Puisi

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Maret 2016
Lelaki Penyuka Puisi

Kita adalah mahluk lemah yang hanya karena sedikit tatapan mata saja hati menjadi bergemetaran. Aku masih ingat ketika pertama dua sorot mata berada di titik yang sama. Pada koordinat dan derajat yang tepat. Sepulang dari bertemunya aku dengan dia, di kamar langsung kucari buku diari kutumpahkan apa yang kurasakan pada bait-bait tulisan tak beraturan. Jangan heran mengapa tulisanku tak beraturan, perasaanku saat itu memang tak karuan. Senang, malu, kaget bercampur menjadi satu. Menyatu menjadi semacam es campur yang menyegarkan.

Perasaan terkadang mengalahkan logika. Aku lupa tak sempat berkenalan siapa dia? Kuliah dimana atau kalau perlu pin BBM nya. Tapi, aku termasuk orang yang percaya kalau dia adalah calon pangeranku dan aku calon puterinya suatu saat kita akan dipertemukan. Kita akan diposisikan kembali di tempat dan kondisi psikologis yang sama. Berbahagia.

Beberapa minggu kemudian satu harap berhasil terjawab. Aku tak perlu menanyakan siapa dia karena dialah yang mengenalkan siapa dirinya sendiri. Lelaki itu adalah salah satu orang penting di jurusan tempat aku kuliah. Ini ?konspirasi semesta? kalau kata bang Azhar Nurun Ala.

Ini adalah scene dari tiap harap-harap itu. Saksikan betapa apa yang dinamakan do?a mengondisikan apa yang kita inginkan. Semoga ini awal dari keseruan kisah-kisah kita?aku dan dia. Aku harap semoga dia pun sama menginginkan hal serupa.??? ?

***

Ini hampir di penghujung semester. Tugas kuliah mulai menumpuk. Satu persatu harus segera ku selesaikan. Aku memutuskan hari ini pergi ke perpustakaan. Mencari referensi untuk salah satu tugas makalah. Aku pergi. Terpaan angin memainkan jilbab panjangku. Pun membelai pipiku. Sejuk. ?

Hah?ternyata ada dia. Kakak itu?yang kuharap jadi pangeran masa depanku?tengah duduk dan bertemankan laptop hitamnya. Nampaknya sedang serius. ?Kenapa hanya ditemani laptop kak? Aku mau kok menemanimu.? Pikirku lancang berucap.

Aku lurus saja langsung masuk perpus atau menyapanya? ?Kalau aku pura-pura tak menyadari kehadirannya berarti melewatkan momen. Tapi, kalau aku menyapa, aku mau bilang apa? Pusyiiing. Ah gimana nanti saja.?

Akhirnya, ?Sedang apa kak?? Aku mencoba setenang mungkin menyapanya.

Setelah jeda yang agak lumayan panjang, dia menjawab ?Ini dik, sedang menulis ide buat PKM ? terlihat kekagetan di wajah tampannya. Entah karena apa. ?

Sebelum kusapa dia, sebenarnya sudah sekitar satu menit aku berdiri mematung dibelakangnya. Tanpa kusadari aku membaca beberapa baris sajak romantis di layar laptopnya.

Aku penasaran, lantas bertanya lagi. ?Oh gitu. Kok agak puitis kak? Atau PKM nya tentang penelitian sastra??

Dia kembali terdiam. ?Oh, kalau yang itu mah puisi buat mamah. Soalnya besok kan hari Ibu. Mau kakak kirimkan buat beliau.? Aku cukup puas dengan jawaban yang dia berikan meskipun meninggalkan tanda tanya besar. Mungkinkah?

?Ah kakak, kau sungguh keren. Di sela-sela bejibunnya aktivitasmu di kampus, kau masih sempat menuliskan surat untuk ibumu. Untuk ibumu saja kau begitu romantis, apalagi kalau aku nanti jadi teman hidupmu. Sepertinya akan ada puisi-puisi baru yang khusus dicipta untukku. Rasanya aku ingin meleleh dengan sikapmu itu.? Imajiku melayang jauh ke masa depan.

Aku bingung mau berbasa-basi apa lagi. Kuputuskan pamit padanya. ?Kak, aku duluan ya. Mau nyari buku buat referensi makalah.?

?Iya dik.? Senyum manisnya mengiringi kepergianku. Ingin rasanya aku memause waktu.

Bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran kulihat menari-nari ikut bahagia dengan apa yang kurasakan. Angin pun kembali membelaiku. Untung saja aku bawa buku diari, ingin segera kutulis apa yang barusan kurasakan.

Aku tidak lantas mencari buku. Kubuka diari. Kutulis apa saja yang terlintas di benak. Aku berusaha mengingat tiap adegan yang terjadi. Kondisi sekitar, kondisi perasaan dan harapan-harapan untuk masa depan. Aku tenggelam dalam perasaanku sendiri. ???

?

Muhammad Irfan Ilmy?

Bandung, 3 Januari 2015

?

sumbe gambar: di sini?


  • Muhammad Irfan Ilmy
    Muhammad Irfan Ilmy
    1 tahun yang lalu.
    Ini tulisan Dari sudut pandang ceweknya Mas. Coba liat posting an dengan judul perempuan bermata empat, itu dari sudut pandang cowoknya.

  • B.R. Karya 
    B.R. Karya 
    1 tahun yang lalu.
    Mas Irfan, aku suka tulisannya! Terutama yang bagian ini: "Aku masih ingat ketika pertama dua sorot mata berada di titik yang sama. Pada koordinat dan derajat yang tepat." Tadinya aku kira tokoh utamanya cowok, karena biasanya cewek gak mikir seribet itu. Tapi aku tambah suka sama ceritanya pas tau ternyata cewek. Mungkin agak bias soalnya aku sukanya cewek yang mikirnya ribet gitu. Wk