Damai dalam Ramai

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Desember 2017
Damai dalam Ramai

Sunyi dalam ramai itu amat pedih. Entah berapa kali saya mengalaminya sejak teman-teman satu jurusan di kampus satu persatu sidang lalu wisuda. Ditidak-tidak juga hati saya seperti ditusuk-tusuk. Ucapan selamat bagi mereka, senyum yang ada di foto-foto bersama mereka tak benar-benar sebahagia itu kenyataannya. Bukan berarti saya tak bahagia mereka lulus lebih dulu. Namun, di balik ekspresi muka ceria terselip sedih yang tidak bisa dibilang biasa-biasa saja.

 Akan sangat bagus jika kawan-kawan membaca terlebih dulu tulisan saya tentang Sunyi dalam Ramai di sini dan di sini

Inti masalahnya ada di diri saya yang lemah terhadap kemalasan. Diperparah dengan kondisi nyaman yang menjebak. Sementara mereka kuat berlelah-lelah mengerjakan skripsi dengan fokus dan menerjang berbagai rintangan yang datang dari banyak pihak. Dosen pembimbing salah satunya.

Banyak sekali perjuangan para mahasiswa yang tumbang di sesi skripsi. Di semester-semester sebelumnya aman-aman saja. Beranjak ke tahap akhir sebagai syarat meraih gelar sarjana, banyak dari mereka yang tergiur penawaran-penawaran: entah kerja, atau kegiatan lain yang sepertinya menarik. Padahal sebagaimana pesan ketua prodi saya, “setelah ibadah wajib yang utama, selanjutnya kewajiban kalian sebagai mahasiswa tingkat akhir yaitu mengerjakan skripsi.”

Nasihat yang amat berharga. Baru terasa saat memang keterlambatan bergelar sarjana benar-benar dialami sendiri. Saya menjadi salah satu orang yang sempat tumbang di fase ini. Namun alhamdulillah tepat hari Jum’at tanggal 29 Desember kemarin saya berhasil sidang dan dinyatakan lulus. Sunyi yang menyayat jiwa saya seperti beberapa sidang dan wisuda sebelumnya telah berubah jadi damai dalam ramai. Nikmat yang sangat tak terhingga bagi saya di penghujung tahun 2017 ini.

 

Gagal Sidang

Saya awalnya berniat sidang di bulan Oktober untuk mengejar wisuda di bulan Desember kemarin. Namun rencana saya terbentur realitas yang tak berpihak. Waktu itu pembimbing 2 saya belum meng-acc skripsi. Pembimbing 1 yang juga ketua prodi padahal sudah menyuruh saya sidang.

Ini salah saya juga sebenarnya sebab sudah lama tidak bimbingan, lalu datang ke beliau dan dari jeda bimbingan sebelumnya ke bimbingan di mana saya menyatakan diri untuk mengikuti sidang. Tapi tetap ada hikmahnya.

Bila saja saya tidak ngebet ingin sidang bulan Oktober lalu, barangkali di sidang kemarin saya akan gagal lagi. Itu kesalahan yang berulang kali saya lakukan. Tidak benar-benar belajar dari kejadian sebelumnya yang bilangnya ingin sidang tapi skripsi tidak kunjung dipaju.

 

Saatnya Bertempur

H-1 sidang saya masih baru menyerahkan draf skripsi sebagai salah satu persyaratan sidang. Amat tidak disiplin. Tentu hal ini jangan sampai terulang untuk kedua kalinya saat kelak mengerjakan tesis. Kalian pun jangan sampai seperti ini yah! Jelek. Saya memang takut dibantai prof. Endis. Walau setelah diedit lagi ternyata pembantaian tak betul-betul sirna. Tapi saya jadi berpikir, sudah diedit saja banyak sekali yang dicoret, apalagi kalau enggak disunting dulu.

Masih di satu hari lagi menuju sidang saya baru mencari jas dan menyewanya di daerah Padasuka-Cicaheum. Tak lupa sepatunya juga masih belum ada. Untuk tempat penyewaan jas saya dapat informasinya dari OLX. Sementara sepatu, setelah pulang-anting dari toko ke toko di BIP ternyata sepatunya mahil-mahil. Jadinya saya pinjam sama adik tingkat, Fajar yang bulan Oktober lalu dia sidang duluan. Amanlah untuk sepatu mah. Tapi masih ada lagi yang belum selesai. Apa itu? Yap, slide untuk presentasi. Bahkan belum dimulai sama sekali pengerjaannya.

Slide presentasi untuk sidang pun sekitar jam 11 malam setelahnya saya pergi tadi baru saya kerjakan. Energi dan fokus saya terpusat pada slide ini meski nyeseknya ternyata di hari H tidak digunakan. Saya hanya diminta oleh sang Prof. untuk menjelaskan selama 5 menit saja. Padahal harusnya saya membaca keseluruhan skripsi dan memahaminya juga mempersiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditanyakan penguji.

Saya mengerjakan beberapa slide hingga pukul 2 dini hari sebelum akhirnya tewas tertidur. Untunglah saya terbangun sekitar pukul 03.30 dan langsung dikebut lagi. Skripsi masih belum dibaca secara khusyu. Inilah yang kemudian menjadi penyebab saya tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan basic dari penguji di ruang sidang kemarin. Memalukan. Sidang skripsi memang harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari agar setidaknya kita bisa mempertahankan skripsi di depan penguji. Agar pembantaian tidak terlalu terasa sadis-sadis amat.

Saya berangkat dari kosan sekitar pukul 7 kurang bareng Reyza (teman satu kosan sekaligus adik tingkat yang juga sidang bareng). Saya tidak ingin terlambat walau sebenarnya pembukaan sidang pukul 08.00. Saya pikir slide yang belum usai pun lebih baik dikerjakan di kampus ketimbang nanti keteteran karena terlambat datang.

Setibanya di kampus, leb IPAI masih tutup. Padahal saya berencana mengerjakan slide presentasi di sana. Akhirnya saya dan minta ke pak Endang untuk ikut mengerjakannya di ruangan prodi karena saya memang butuh colokan listrik untuk suplay listrik buat laptop. Maklum laptop sepuh, sudah uzur kekuatan baterai HP nya.

Di sana baru ada saya sama Reyza. Yang lainnya belum datang. Baru beberapa saat kemudian Sufyan dan Ana tiba. Tsani lalu selanjutnya menyusul. Kami lalu saling berbincang tentang hal-hal yang berkaitan dengan sidang. Baru sekitar pukul 8 kami diminta turun ke lantai 1 untuk berkumpul di ruangan 1.03. Pembukaan sidangnya memang di ruangan ini. Tempat saya tahun kemarin seleksi mapres tingkat fakultas.

Pembukaan sidang kemarin dihadiri pak Udin, Prof. Endis, pak Iman dan pak Wakil Dekan 1 FPIPS. Ada beberapa wejangan yang disampaikan pak WaDek untuk menguatkan kami, para sidangers. Bahwa sidang skripsi ini katanya merupakan ikhtiar akademik sebagai rangkaian terakhir dalam perjalanan kuliah sembari juga sebagai gerbang awal untuk memasuki dunia yang sesungguhnya. Di mana tempaannya begitu keras lebih-lebih dari apa yang didapat selama kuliah di kampus.  Sepakat untuk wejangannya pak.

Saya dapat giliran sidang ke-2 setelah Tsani. Pengujinya Prof. Endis, pak Udin, dan Pak Agus. Apa yang saya rasakan saat sidang? Seperti lotek, campur aduk. Antara senang, sedih, geumpeur, enggak percaya diri dan lain-lain. Saya enggak akan terlalu cerita banyak tentang apa yang dialami selama sekian puluh menit di ruangan “eksekusi” itu.

Pokoknya, untuk adik tingkat dan siapa pun yang hendak sidang, persiapan kalian kudu matang. Skripsi betul-betul harus dikuasai. Alternatif perkiraan pertanyaan yang bakal diajukan serta jawabannya harus terset rapi di pikiran. Apa pun bisa terjadi saat sidang. Itu setidaknya pelajaran yang amat berarti bagi saya sendiri untuk kelak jangan sampai terulang saat sidang tesis dan disertasi. Aamiin.

Akhirnya tuntas sudah saat-saat menegangkan itu. Saya keluar dengan setengah gontai sekaligus tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Tapi begitulah kenyataannya. Saya harus kuat dan mesti move on sesegera mungkin. Pekerjaan lain serta tahapan hidup berikutnya sudah menanti. Termasuk tentunya revisi dari pak Profesor yang tidak bisa dibilang sedikit. Habis sidang skripsi terbitlah revisi. Dan ingat bahwa skripsi itu fana, sementara belajar (mesti) abadi. Hidup tidak hanya soal skripsi. Itu pengingat untuk saya sendiri.

 

Amat Damai

Yudisium dijadwalkan pukul 2 siang. Jam segitu saya dan yang lain sudah ready di lab IPAI. Waktu sudah melebihi yang ditargetkan tapi belum kunjung dimulai. Pak Endang dengan terengah-tengah lalu memberi tahu kami bahwa pak WaDek dari tadi sudah menunggu di ruangan tempat pembukaan sidang tadi pagi. Akhirnya kami bersorak. Ternyata ada miskom. Kami bergegas ke bawah.

Penutupan pun dimulai. Pak Wawan yang memandunya. Laporan hasil sidang pun dibacakan. Saya harap-harap cemas. Saya amat yakin kalau hasil sidang saya tidak terlalu baik dan besar kemungkinan direvisi mayor. Satu persatu nama mahasiswa disebut beserta IPK dan nilai sidangnya.

Saya setengah enggak percaya kalau saya bukan satu orang yang disebut pak Wawan harus revisi mayor. 

Lalu, tiba-tiba ada setrum yang menyerang pelupuk mata saya saat pak WaDek 1 memberikan selamat sambil meneruskannya dengan nasihat-nasihat bijak dan amat bermanfaat. Mata saya mulai berlinang dan saya tertunduk sembari menahannya agar tak terjatuh. Saya terharu. Saya teringat orang tua dan saudara-saudara di rumah. Saya terkenang dengan semua perjuangan selama kuliah plus betapa tak mudahnya melawan kemalasan akut saat mengerjakan skripsi. Akhirnya saya berhasil juga melalui tahap ini dan sejak saat itu pula saya resmi mengemban gelar sarjana. Sebuah gelar yang bukan untuk dibangga-banggakan melainkan jadi pengingat terus menerus. Apakah saya layak jadi sarjana?

Saya pun akhirnya merasakan apa yang teman-teman lain rasakan saat mereka berhasil sidang dan selanjutnya diwisuda di Gymnasium serta diantar orang tua dan keluarganya. Saya bisa keluar dari belenggu merasa sangat sunyi di tengah ramai itu. Kini saya merasakan Damai dalam Ramai tahap 1. Sebab tahap berikutnya barangkali adalah saat-saat wisuda dua bulan lagi nanti.

Kami lantas beranjak lagi menuju lab IPAI. Di sana bersama adik tingkat lainnya kami bergembira dan melanggengkan momennya lewat bidikan lensa kamera (smartphone). Entah berapa cekrek yang kami ambil pada saat itu. Berfoto bersama pun dilanjutkan di depan gedung Isola. Berfoto di sana sudah seolah menjadi hal yang wajib saat sidang dan wisuda selain tentunya ketika di awal-awal menjadi mahasiswa baru dulu. Ini barangkali hal yang lumrah. Merayakan keberhasilan lewat mengapresiasi diri sendiri dengan berfoto bersama-sama.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung. 30-31 Januari 2017

  • view 83