Berharap ada ucap: di antara kita

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Puisi
dipublikasikan 08 Februari 2016
Berharap ada ucap: di antara kita

(1)

Adalah rupa yang menculik perhatian dari titik fokus semula. Rupa memangsa lugu dalam diam tiada tentu. Rangkai aksara menjadi ajang balas dendam atas ketidakmampuan menyatakan. Ketaklukan lemah atas upaya menransfer rasa dari bilik dada

(2)

Aku rajin bercakap dengan aksara, karena ia tak pernah suka bergosip dengan sesiapa. Terimakasih telah menjadi teman tersetia.

(3)

Tak bisa dipungkiri, kerap kali kelebatan imaji mengolok-olok pinta supaya berdaya. Namun, deras gelisah tak kunjung enyah dari muka. Ia menahan langkah, memenjara gerak. Dan ada yang tersublim menjadi kaku menahan laku.

(4)

Lalu waktu dipaksa henti oleh persepsi. Tentu yang terlahir dari kekakuan yang kita karang-karang sendiri. ?Lantas, kita berakhir pada jalan masing-masing. Memilih menahan bertukar kata, namun saling memicu rindu untuk kembali ditakdirkan dalam bingkai temu.

(5)

Didasar pikir, kalau boleh aku berucap apa adanya, ingin sekali ada cakap yang menjembatani kita. Tentu bukan antara siapa ke siapa, bukan pula antara mereka. Tapi, aku ke kamu yang jelas-jelas memelas untuk disapa?meski tanpa suara.

?

Bandung, 14 Juni 2015

Muhammad Irfan Ilmy

?

gambar dipinjam dari sini?

  • view 207

  • Asep Kamaludin
    Asep Kamaludin
    1 tahun yang lalu.
    Tak ada cakap berari tak ada kehidupan. Tak ada kehidupan berarti mati. Mati yang multi tafsir, mati yang membisukan, mati yang membelenggu roda jiwa. Dalam pada itu, akan terkikis angan-angan yang hilang diterjang ombak kemudian mengkristal di antartika. Walau kesejukan yang ingin diraih, namun dengan cara dan langkah apa sebaiknya dijalani.