Perempuan bermata empat (2)

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2016
Perempuan bermata empat (2)

Barangkali menulis dapat menerapi hati yang tengah menunggu atau ditunggu.

Sudah kukatakan kemarin bahwa aku sangat suka perempuan bermata empat—terlebih dia. Sejak flashdisk ku hilang saat itu, aku makin suka dia.

***

Tulisanku sudah selesai. Tidak ada alasan untuk diam di perpustakaan lebih lama. Aku ada agenda membeli sesuatu untuk kuberikan kepada Ibu di hari ibu sekaligus hari ulang tahunnya esok hari. Aku lantas pergi ditemani si putih, motor Vario ku. Aku dan motorku melenggang di tengah kemacetan kota kembang.
Aku sampai di tempat tujuan. Mencari barang bidikan. Merogoh kocek sesuai kebutuhan. Lalu hadiah sudah di tangan aku lantas kembali pulang.
Sesampainya di kamar aku meneguk segelas air bening dingin. Haus. Udara di luar sana membuat tenggorokan terasa kering.
“Dimana flashdisk?” Aku bergumam sambil mencarinya di saku celana, baju dan jaket. Hasilnya nihil. Ah, cerobohnya aku.
Flashdisk itu sebenarnya hanya flashdisk biasa dengan kapasitas 16 giga. Tapi, isinya itu lho, lebih berharga dari 1 tera film percintaan Korea. Aku menyimpan perasaanku di sana. Puluhan sajak, puisi, dan prosa hingga beberapa penggalan dialogku bersamanya ada di flashdisk berwarna hitam itu. Jujur aku sempat mengalami kegundahan yang oleh remaja saat ini dikenal dengan istilah “galau”. Tapi, aku lantas teringat bahwa aku punya yang lebih dari sekedar flashdisk. Aku punya Allah yang Maha Segalanya. Hilang flashdisk ngga ada apa-apa nya dibanding kehilangan Allah di hati kita—meskipun masih belum menerima sepenuhnya kehilangan flashdisk itu. Atau mungkin Allah cemburu dengan dia. Makanya kehilangan flashdisk itu menjadi jalan aku untuk kembali mengingat-Nya. Ya sudahlah.

***

Bunyi notifikasi pesan masuk di facebook mengagetkanku. Aku sedang membaca buku hujan matahari karya Kurniawan Gunadi waktu itu. “Ah, paling juga dari teman kelas” pikirku. Tapi penasaran juga. Akhirnya kubaca.
“Ka..hilang flashdisk ya?” pesan dari dia ternyata.
Aku lantas memperbaiki posisi duduk menjadi lebih tegap. Entah dari mana dia bisa tahu akun facebook-ku. Semoga saja sebenarnya dia sudah lama ingin mengirimkan permintaan pertemanan tapi karena sesuatu, dia mengurungkannya.
Aku mendadak hilang keseimbangan. Mengetik beberapa kata saja sampai gemetaran.
“iya Dik. Kok bisa tahu?” masih dengan gemetaran aku tekan tombol enter untuk mengirim pesan balasan.
Selang beberapa saat, kulihat di layar “sedang menulis”. Jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Apa lagi ya yang mau dia sampaikan?
Akhirnya. “Kak, kemarin saya nemu flashdisk warna hitam di tempat kakak kemaren nulis ide PKM. Pasti saat ini kakak sedang bingung mencari di mana flashdisk itu ya? Punya kakak kan? Merk nya Advance.”
Alhamdulillah ternyata dia yang menemukan. Paling tidak flashdisk itu berada di tangan yang tepat. Kejadian ini semakin meyakinkanku kalau tak pernah ada yang kebetulan di dunia ini. Selalu ada sutradara Maha Keren yang mengatur jalan hidup pemainnya.
“Oh iya dik, itu punya saya. Alhamdulillah ketemu. Nitip dulu ya!”
“Iya kak, besok ketemu di tempat yang kemaren saja ya? Aku bisanya jam 10.30 kebetulan ngga ada kuliah.”
“Okey..makasih sebelumnya dik”
Dia hanya membalas dengan emoticon senyum.
Aku tak sabar untuk menanti esok hari.

***

Lagi-lagi aku kembali mendapat bertubi-tubi inspirasi. Aku melihat senyumnya yang manis dari emoticon yang dia kirim di pesan terakhirnya. Aku kembali menulis. Menulis tentang siapa lagi kalau bukan tentang dia.

Sejak saat itu, aku rela hilang flashdisk berkali-kali, asalkan dia yang menemukannya.

Diselesaikan pada jam 13.55 di ponselku.
nb: Ini hanya fiktif belaka. Semoga bisa menjadi nyata.

  • view 157