Efek Magis Kata-kata

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2016
Efek Magis Kata-kata

Aku bahkan bisa duduk di mana saja demi bersegera melumat habis tulisan yang dibuat dengan gaya semi puitis. Di tempat parkir sebuah toko buku misalnya. Karena di beranda facebook terpampang sebuah status berisikan tulisan singkat buah dari kegelisahan, aku bisa langsung jongkok tanpa khawatir ditertawakan. Mengagumi setiap kemolekan tubuh tulisan utuh. Menyelami alam pikiran penulisnya yang bisa ditebak dari caranya bertutur.

Terimakasih kepada para pawang kata-kata yang telah membidani lahirnya tak berhingga kalimat-kalimat yang syarat akan semangat, dipenuhi banyak pesan tersirat. Tanpamu, mungkin dunia hanya akan berjalan sepi saja. Keseharian luruh tanpa bekas yang bisa diingat ulang, kecuali dengan ingatan yang terkadang diserang lupa. Momen canda-tawa, tangis-duka terlewat begitu saja bersama hempas angin yang tak lagi pernah sama. Mungkin hidup hanya puas dengan sekadar menunaikan rutinitas: bekerja, makan, hingga merebahkan badan. Terlalu kaku bagiku. Dengan hadirnya kata-kata yang menjelma cerita, hidup terasa seakan lama?meski pada nyatanya hanya sesingkat minum kopi, habis dalam sekali duduk.

Aku hanya berharap keintimanku pada kata-kata terus berlanjut hingga tua nanti. Semoga saja Allah memberikan amanah bagiku berupa kesempatan untuk bisa mengajak bermain cucu-cucunya kelak. Memberikan buku milik kakeknya ini untuk kemudian dibacanya, lalu didiskusikan. Syukur-syukur ia tergerak untuk mengikuti jejak kakeknya yang selalu meradang dalam kata. Kalau Fahd Pahdepie menjadikan menulis sebagai bentuk dendam sejarah karena ia lebih mengenal Soekarno, Hatta, dan pahlawan-pahlawan lain ketimbang kakeknya sendiri karena tidak meninggalkan karya yang bisa dibaca, maka aku pun terinspirasi untuk menulis karena itu salah satunya. Alasan terkuat lain tentu masih banyak. Bukankah para ulama dulu juga menjadi guru sepanjang masa karena ia mengabadikan pemikirannya dalam kitab-kitab sebagai referensi bagi umat? Itu tradisi yang terwariskan sejak beribu tahun lamanya. Masa kita yang dengan kemudahan akses malah terlena dengan kemapanan saja. Kan tidak elok.

Aku tidak mengajak semua orang untuk menulis?toh yang menulis ini saja belum punya buku. Mengajak tanpa berbuat sebagaimana termaktub dalam surat cinta-Nya adalah sesuatu yang amat dibenci. Ini semacam ajakan pada diri sendiri juga harapannya menjadi pengingat ketika malas datang menghampiri.

Menulislah untuk orang-orang disekitarmu: orang-orang yang kamu kasihi. Kita akan berpulang: dari tiada kembali ke tiada, meninggalkan keluarga, teman-teman dekat atau siapapun itu. Kalau tak pernah ada manuskrip pikiran, mereka akan dengan mudah melupakan. Meski di ruang tengah ada foto wisuda sarjanamu yang terpajang di samping lemari, itu tidak cukup untuk membantu mereka kembali mengingat bagaimana kepribadian kamu. Sekali lagi, ayolah menulis. Akrablah dengan huruf-huruf, lalu tulis seminimal-minimalnya satu puisi, satu cerpen, satu esai, satu artikel dan satu surat cinta. Biarkan ia semua menjadi juru bicaramu ketika ketiadaan menghempaskanmu dari dunia.

Entahlah, akhir-akhir ini aku sangat menggandrungi tulisan-tulisan pendek namun kaya makna. Lalu berefek pada tergeraknya jemari untuk menari di atas keyboard laptop milik Bapak yang kupinjam namun tak kunjung kukembalikan ini. Menghasilkan tulisan-tulisan yang entah berjenis apa untuk selanjutnya diposting di blog milik sendiri lalu membagikannya di media sosial. Ini sebuah kepuasan yang tak ternilai. Tak dibayar pun tak jadi soal, tapi kalau ditawari untuk nulis buku oleh yang membaca, tentu saya tak akan menolak. Pamali, kalau kata orang sunda mah.

Bandung, 4-5 Februari 2016

Muhammad Irfan Ilmy

gambar dipinjam dari pixabay

  • view 170