Menampilkan Wajah Ramah Islam

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Agama
dipublikasikan 06 Februari 2016
Menampilkan Wajah Ramah Islam

Islam harus tampil dengan mengedepankan keramahan sebagai manifestasi salah satu pilar Islam yakni akhlak mulia. Bukankah melalui role model yang ada pada sosok Rasulullah Saw. kita selaku muslim harusnya mampu untuk bersikap lembut dan bijak dalam memandang suatu hal? Tidak lantas naik pitam atas perkara yang dianggap janggal. Tergesa-gesa dalam bersikap menjadi salah satu indikasi adanya kedangkalan terhadap pemahaman akan nilai-nilai dan ajaran Islam. Tak ubahnya ?tong kosong yang cenderung nyaring bunyinya?. Padahal jika dilakukan pengkajian mendalam dengan analisis yang disandarakan pada berbagai literatur hasil tulisan para Ulama, bisa saja hal yang diributkan sudah ada solusinya. Hati-hati, ketergesaan itu datangnya dari syaitan. Kita harus lebih jeli dalam menghadapi permasalah yang menuntut penyelesaian.

Semboyan ?Islam ramah? harus digaungkan kembali oleh umat muslim yang menyayangi agama agung ini. Kesadaran untuk menyemainya di bumi ini hendaknya timbul dari masing-masing pribadi. Stigma tentang ?Islam marah? sepatutnya menjadi kegeraman bersama yang kita sulut dalam rangka mendepak dari masing-masing pribadi muslim. Tentu mulai dari diri kita?saya terutama. Islam yang dikatakan sebagai rahmat bagi seluruh alam perlu dilindungi citranya dengan apa lagi kalau bukan dengan perilaku pemeluknya. Kita perlu berkaca diri, membaca sejarah, menelaah Alquran, menggali tafsir-tafsir, membuka kembali lembar demi lembar sirah Nabi Muhammad Saw. sebagai bentuk kehausan akan sikap-sikap teladan darinya?sosok mulia yang tanpa cela.

Tidak cukupkah Qs. Al-Qalam [68]:4 mengabarkan mengenai label yang disematkan pada teladan umat sepanjang masa?Rasulullah Saw.?sebagai sosok yang berakhlak Alquran? Beliau berbudi pekerti agung dan selalu mengedepankan rasa-rasa (akhlak) di atas logika?yang terkadang condong berlaku pongah. Rasulullah Saw. mengajak umatnya melalui perangai. Tak ada ?seringai? seperti yang dipertontonkan segelintir golongan ekstrimis umat Islam dalam mendakwahkan Islam.

Kesantunan Rasulullah dalam bersikap dan beradab terabadikan secara apik dalam berbagai kitab. Banyak sekali interaksi lemah-lembut, bijak, sopan, menghormati dan menghargai keyakinan yang meskipun bersebrangan dengan ajaran yang dibawanya.

Berdasarkan hal tersebut, marilah kita sama-sama belajar tentang berislam, hidup di tengah-tengah bangunan perbedaan, bersikap dan bertindak dari perilaku Rasulullah Saw. Bahwa sebenarnya kedamaian?yang merupakan salah satu arti etimologis dari kata Islam?yang coba diciptakan agama sempurna ini jangan sampai ternodai dengan emosi-emosi untuk merasa paling benar sendiri.

Barangkali, marilah berislam dengan filosofi ilmu garam. Garam selalu dibutuhkan dan fleksibel untuk dimasukan terhadap berbagai masakan. Memberi rasa tanpa meninggalkan warna-warna. Bukan malah seperti gincu yang hanya menawarkan keindahan warna namun mengesampingkan makna-makna. Dan bukankah Islam masuk ke Indonesia melalui filosofi ilmu garam tersebut. Sehingga sampai saat ini Islam begitu harmonis dan diterima dengan penuh keterbukaan.

  • view 166