Menjadi Guru yang Dirindu

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Februari 2016
Menjadi Guru yang Dirindu

Kemuliaan profesi guru terletak pada perjuangannya untuk memberikan sentuhan perubahan bagi siswanya. Guru begitu besar jasanya dalam transformasi perubahan suatu bangsa. Lelah adalah barang yang tertemukan setiap saat, namun mereka enggan menampakannya. Letih menjadi karib atas upayanya menransfer apa yang dia miliki berupa pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan. Namun, kecintaan mereka pada apa yang dijalaninya telah meniadakan kemungkinan-kemungkinan negatif untuk mundur dari tugas mulianya: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melalui ketulusan jiwanya, guru memberikan pengetahuan terhadap siswa, sosok-sosok yang buta aksara selanjutnya beralih menjadi orang yang penuh dengan karya. Melalui ketelatenan mengajari tulis, hitung, dan baca kepada anak-anak yang awalnya tidak tahu apa-apa kini buahnya adalah lahirlah para pemimpin-pemimpin bangsa. Terberkatilah para guru yang dengan tulus ikhlas membimbing dan mengarahkan para siswanya.

Pada kenyataannya, guru selalu memiliki dua probabilitas, menjadi sosok guru yang dirindu dan guru yang dibenci. Siswa selalu memiliki sensor kepekaan tentang bagaimana membedakan masing-masing kriteria dari kedua sosok guru tersebut. Rasa cinta yang diberikan oleh guru akan dapat terbaca meski tanpa diumbar dengan kata-kata. Sementara itu, perangai yang dipertontonkan oleh guru bermental pecundang adalah keinginannya untuk senantiasa dihormati siswa. Guru tersebut begitu gandrung untuk menampakan kewibaan dirinya di depan siswa. Keliru sekali jalan pikirannya. Padahal jika ingin dihargai, menghargai saja dulu. Justru reaksi yang siswa tunjukkan adalah hasil dari aksi yang telah dilakukan. Wajar saja apabila siswa tidak respect pada guru yang bersifat demikian. Sekali lagi, guru harus memperlakukan siswa secara manusiawi dengan segala kekhasan potensi yang dimiliki dan berbagai pengaruh dari latar belakang keluarganya yang beragam. Untuk hal ini nampaknya guru mau tidak mau harus membuka lebar-lebar jendela cakrawalanya tentang pengetahuan psikologi peserta didik. Untuk itu rajin membaca dan berdiskusi menjadi hal mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Pada akhirnya, ketika ada kesesuaian frekuensi antara siswa dan guru dalam hal berkomunikasi, maka bukan tidak mungkin akan tercipta kolaborasi yang selanjutnya berpotensi melahirkan berbagai prestasi tinggi. Tidak akan ada lagi cerita siswa secara sepihak langsung dibentak oleh guru hanya karena terindikasi melakukan sebuah kesalahan. Guru dengan analisisnya akan berupaya mencari seribu satu alasan untuk berbaik sangka perihal musabab siswa berlaku demikian. Masalah terselesaikan melalui jalan dialog dari hati ke hati, dari perasaan dan selesai dengan perasaan lega pula. Akan tercipta saling menghargai dan menghormati di antara keduanya. Kalau sudah seperti itu, siswa akan menjadikan gurunya sebagai sosok teladan dan sekaligus menjadi tokoh idolanya di sekolah.

?

Belajar Mendidik dari Sang Teladan Terbaik

Sosok para sahabat Rasul ketika zamannya merupakan hasil pendidikan Islam yang gemilang. Betapa loyalitasnnya dalam memperjuangkan Islam tidak pernah gentar walaupun ancaman demi ancaman kerap dilayangkan. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh Rasulullah sendiri begitu terpatri kuat di sanubari. Melalui proses pendidikan dengan berbagai metode oleh Rasulullah Saw., para sahabat terlahir menjadi generasi yang terbaik dari semua generasi-generasi Islam berikutnya. Mereka bertemu langsung dan menyaksikan bagaimana sosok teladan umat bersikap dan bertindak. Ketika ada kebingungan yang mengemuka, Rasulullah ada untuk selanjutnya ditanyai perihal bagaimana menyikapinya, bagaimana menyelesaikannya. Begitulah betapa keunggulan yang dimiliki para sahabat merupakan akumulasi dan proses pendidikan yang berkelas. Meskipun tidak bernaung dalam kelas-kelas dengan bangunan dengan fasilitas lengkap tidak menjadikan lulusannya berkualitas sekadarnya. Banyak dari murid yang belajar secara langsung pada masa pendidikan zaman Rasulullah yang berhasil menjadi pribadi yang konribusinya tidak diragukan lagi dalam mewujudkan kejayaan Islam. Sebut saja dua di antaranya yaitu Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam. Keduanya merupakan alumnus dari sekolah yang Rasulullah Muhammad Saw. dirikan. Belakangan dua sahabat ini pun menjadi pilar bagi kegemilangan Islam di masa mendatang ketika Rasulullah sudah tiada.

Barangkali kita sebagai guru?calon guru?hendaknya tergerak untuk menelaah buku-buku yang menyajikan betapa Rasulullah mencurahkan rasa cintanya melalui proses pendidikan yang dilakukan. Lantas, mengapa tidak kita tiru jalan mendidik yang dicontohkan olehnya.

Pada akhirnya, upaya mendidik yang kita lakukan semoga bermuara pada lautan keikhlasan. Mendidik menjadi jalan panjang untuk ikut berperan membawa generasi mendatang pada kehidupan yang lebih layak, mengantarkan mereka pada kemederkaan yang hakiki.

  • view 118