Jalan-jalan

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2016
Jalan-jalan

?

Minggu-minggu ini adalah masa liburan bagi anak SD, SMP, dan SMA. Adik saya yang merupakan siswa kelas IX MTs (sederajat SMP). Dia tipikal orang yang selalu ingin belajar. Rasa ingin tahunya tentang sesuatu begitu besar. Pengetahuannya tentang nama-nama daerah di Indonesia, plat nomor tiap daerah di Indonesia, dan beberapa pengetahuan umumnya?kalau boleh jujur?jauh melesat ketimbang kakaknya ini. Terkadang saya malu juga. Namun, itu sebuah potensi yang seharusnya saya dukung selaku kakaknya.

Beberapa waktu yang lalu dia bilang ingin maen ke Bandung. Saya membalas pesan singkat untuk datang saja ke Bandung. Sendirian. Nanti, kita pulang bareng naik motor. Beberapa kali dia beralasan kalau tidak punya uang. Uang yang ada direncakan sebagai bekal untuk studi tour ke Yogyakarta. Namun, tetap saya coba untuk menggunakannya dulu untuk liburan kali ini. Untuk studi tour nanti insya Allahbakal ada gantinya. Akhirnya dia luluh juga. Keputusan mau jadi ke Bandung adalah hari Selasa. Dan akhirnya hari Rabu dia berangkat sendiri naik bis Budiman. Sorenya saya menjemput dia ke terminal Cicaheum. Saya ingin membelajarkan dia tentu saja. Disamping itu, sebagai seorang kakak saya ingin lebih dekat dengannya. Dan liburan disinyalir akan menambah kedekatan di antara kami?saya dan dia.

Jalan-jalan yang saya maksud ini dilaksanakan pada hari Jum?at, tepat pada tanggal 1 Januari 2016.

Kawasan museum KKA dan Gedung Merdeka

Destinasi pertama adalah sekitaran musem KAA. Setelah motor diparkir rapi di samping gedung PLN, saya dan adik mulai petualangan seharian ini. Orang-orang banyak sekali di sana. Menghabiskan momen libur tahun baru bersama keluarga. Ada orang tua yang tengah mengambil gambar anaknya. Ada anak yang sedang makan es krim. Ada pula pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk asmara. Lingkar tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Tidak sadar ada yang mengawasinya?dengan wujud yang ghaib. Stan makanan berjajar rapi di samping museum. Wangi aroma berbagai jenis makanan menggoda hidung, namun mendzolimi kantong juga kalau pesonanya diikuti. Harganya itu lho mahal-mahal kalau untuk ukuran kantong mahasiswa. Ya sudah, foto-foto saja dirasa cukup. Toh adik saya juga tidak rewel meminta jajan. Atau mungkin saya yang tidak peka?

Di spot pertama ini kami hanya berfoto-foto saja. Menjepret momen denganbackground yang disediakan pihak panitia?Djarum.

Shalat ashar dan popotoan di sekitaran masjid agung Bandung

20160101_155204.jpg

?

20160101_160116.jpg

Beberapa saat lagi waktu ashar akan tiba. ?Kami melangkahkan kaki menuju masjid agung yang lokasinya dekat dengan tempat pertama kami berfoto. Sepanjang perjalanan kami terus berfoto di tempat yang sekiranya iconic?seperti monumen yang terdapat quote dari bung Karno. Nama monumennya saya kurang tahu. Puas berfoto di sana kami terus melanjutkan perburuan foto. Akhirnya kami tiba di halaman masjid agung Bandung. FYI ini kali pertama saya menginjakan kaki di atas rumput hijau sintetis yang digagas oleh walikota kebanggaan Bandung, kang Emil. Di sana terlihat banyak sekali orang-orang. Seperti biasa, tengah menikmati quality time bersama keluarga, banyak pula yang belum berkeluarga namun berlagak seperti sepasang suami isteri. Padahal ini lingkungan masjid. Astagfirullahal?adzim. Setelah berfoto dengan latar masjid agung kamipun lantas persiapan melakukan shalat ashar.

Popotoan lagi di sekitar jalan braga

Momen tahun baru menjadi saat tepat bagi beberapa event organizer untuk menyelenggarakan acara perayaan tahun baru, tak terkecuali rokok djarum. Pihak Djarum?sebagai upaya promosi juga nampaknya?mengadakan acara di sekitaran jalan Braga. Kita dapat menikmati suguhan stan-stan makanan?tradisional atau modern?, musik dari band-band indie, aneka games menarik dan lainnya. Para pemburu foto pun dimanjakan dengan aksesoris yang dibuat khusus untuk para pengunjung, seperti papan bertuliskan ayo move on dari 2015.

Mencoba game di acara DCDC

Setelah menyusuri jalan braga dengan berbagai keindahan arsitektur bangunannya, kami menuju kembali ke arah tempat parkir. Namun, pesona games yang diadakan oleh pihak Djarum bertajuk DCDC (saya tidak tahu apa artinya) membuat saya menghentikan langkah kaki. Sekitar 30 menit saya mencoba beragam gamesederhana yang tersedia. Sebut saya game mancing botol yang tujuannya adalah memberdirikan botol kosong dengan pancingan khusus yang diujungnya ada ringdari besi untuk mengaitkan ke leher botol. Saya mencoba dua kali (masing-masing diberi 3 kali kesempatan)? dan hasilnya saya belum berhasil. Tapi, tak apa. Poinnya adalah mencoba dan bersenang-senang, itu saja. Selain game mancing botol, saya juga ikut menuliskan resolusi dalam kertas post it dan menempelkannya di menara perasaan. Langkah selanjutnya (setelah menuliskan identitas dan twitter) saya memfoto diri dengan background menara perasaan. Saya lanjut menguploadnya di instagram. Kalau beruntung, ada hadiah berupa kaos sebagai reward bagi foto yang terbaik. Meskipun tidak keluar sebagai juara, saya tetap senang. Satu foto yang sayaupload ternyata dicetak oleh panitia dan boleh diambil. Saya lalu mengambilnya. Lumayan untuk kenang-kenangan. Game berikutnya yang saya ikuti adalah ?gamerasa coklat?. Teknis game ini adalah kita diminta untuk melempar bola kecil yang tersedia untuk dimasukkan ke dalam lubang dengan nama rasa coklat. Hal yang menarik dari game ini, para peserta berdiri membelakangi lubang yang tersedia (ada lubang rasa lain sebagai pengecoh). Peserta dibantu dengan sebuah kaca spion untuk melihat lubang. Setelah menghabiskan sekitar 5 bola, saya tidak kunjung memasukkan bola ke dalam lubang rasa coklat. Hadiahpun urung didapat. Tapi, keikutsertaan saya di game ini membuat percik bahagia mulai tersemai.

Waktu kian beranjak. Kami memutuskan untuk pulang.

Shalat maghrib di Mesjid Al-Ukhuwah

Kami memutuskan untuk shalat di Masjid al-Ukhuwah. Sebelumnya saya menawarkan untuk shalat di masjid ini ke adik, dan dia ternyata mau. Ini untuk memberikan pengalaman juga ke dia untuk shalat di salah satu masjid yang mempunyai desain arsitektur keren. Selepas shalat maghrib kita langsung menuju Gramedia merdeka.

Maen ke gramedia, BIP, dan BEC

Di Gramedia tidak ada uang yang terogoh?kecuali uang parkir?karena kita memang tidak membeli apa-apa. Kita berjalan-jalan saja melihat-lihat barang-barang yang ada di sana. Banyak sekali buku-buku dengan harga murah di sana. Tapi, itu tak cukup memikat kami untuk membelinya, he he. Nanti-nanti saja nampaknya kalau uang di saku sudah cukup.

Setelah puas berjalan-jalan kami pun melangkahkan kaki menuju BIP (tepat di sebrang gedung Gramedia Merdeka). Karena hujan menyapa kota kembang, kami pun mengambil langkah seribu untuk segera tiba di BIP. Sesegera mungkin supaya tidak terlalu kuyup kena air hujan. Setibanya di sana, seperti biasa kami hanya melihat-lihat saja, tidak membeli apapun. Tapi, ini tidak mengurangi esensi kami berjalan-jalan. Dari awal memang tidak ada rencana untuk belanja apapun, hanya menghabiskan waktu untuk mengenalkan sedikit tentang Bandung ke adik saya saja.

Kemudian, sebelum pulang kami mampir ke BEC. Namun, toko-toko sudah mulai tutup. Niat untuk melihat-lihat barang elektronik tidak terealisasi. Tak perlu menunggu lama kamipun lantas kembali ke lantai pertama dan segera menuju tempat parkir.

Setelah lelah berjalan-jalan, kami memutuskan pulang. Hujan masih turun namun tidak sederas tadi. Akhirnya agenda main tertuntaskan juga. Semoga dia (adik saya) puas dengan jalan-jalan hari ini. Suatu saat nanti semoga berkesempatan main ke tempat yang berbeda. aamiin.

Diselesaikan pada pukul 10.22 WIB

Bandung, 11 Januari 2016

  • view 96