Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 6 Februari 2016   23:18 WIB
Sowan ke Rumah Guru

Pertemuan dengan guru?setelah sekian lama tak jumpa?selalu mendatangkan spirit baru dalam hidup sang murid. Ini pun berlaku bagi saya sendiri. Silaturrahimsaya semalam dengan guru (pimpinan pondok pesantren Al-Ikhwan Cibeureum Tasikmalaya) menyisakan spirit yang menjalari segenap rasa untuk kembali berdaya. Efek yang ditimbulkannya menyulutkan sumbu motivasi untuk lebih ?rakus? akan ilmu, dan cinta akan membagikan kebaikan kepada sesama. Bagaimana tidak, pasangan suami isteri pecinta ilmu, penebar kemanfaatan bagi umat, begitu serasi menjalani hari tua dengan penuh senyum simetris?yang tentu tidak hanya tampil di fisiknya saja. Lebih dari itu senyumnya tersungging di dasar hati keduanya. Saya cukup iri?dalam artian positif?kepada Bapak dan Ibu. Suatu saat, saya pun berharap dipertemukan dengan tulang rusuk yang memiliki mimpi yang sama, hidup di hari tua bersama para santri, para pencari ilmu. Merasa begitu cukup dengan hidup di sebuah rumah yang dikelilingi asrama pemburu keridhaan Allah Swt.

FYI, Ibu adalah panggilan kami?para santri?kepada isteri pimpinan pondok. Beliau juga sekaligus guru PAI saya di SMA Negeri 1 Tasikmalaya. Ibu Dr. Eti Tismayati, M.Ag. tepatnya. Sementara Bapak merupakan panggilan untuk pimpinan pondok. Prof. Dr. K.H. Muhsin An-Syadilie, M.Si. adalah nama plus gelar yang tertera di beberapa surat dan raport saya dulu di pesantren. Saya kira gelar dari keduanya ini bukan hanya sekadar hiasan tempel belaka. Secara ilmu pun keduanya begitu mumpuni.

Kesibukan keduanya begitu tinggi untuk seukuran usia menuju lanjut. Waktu begitu berharga bagi mereka. Ketika dulu masih di pondok, ibu selalu terlihat gesit dalam menuntaskan amanah-amanahnya dari mulai urusan dapur, kebersihan kobong, hingga hal-hal yang berkaitan dengan administrasi bantuan untuk SMK. Sementara itu, Bapak pun tak kalah sibuk. Pekerjaannya sebagai dosen di IAIN di Cirebon sana salah satunya. Kemudian aktivitasnya sebagai mubaligh juga begitu padat merayap. Namun, loyalitas dan tanggung jawab dalam mengeksekusi tugas-tugasnya tak patut diragukan lagi. Pasangan yang bertemu ketika bersama-sama mondok di salah satu pesantren ini begitu komitmen terhadap amanah yang dibebankan pada masing-masing pundaknya. Selain itu, Bapak pun pernah menjabat sebagai Ketua DEPAG Kota Tasikmalaya. Sebuah jabatan yang tidak bisa dibilang biasa-biasa saja.

Baik, saya lanjutkan ceritanya. Awalnya saya sedikit ragu untuk bertamu ke rumah bapak dan ibu. Waktu menunjukkan 07.30 (kurang lebih), dan sayapun cukup tahu diri kalau bertamu jam segitu tidak baik?kalau tidak dibilang tidak sopan. Namun, skenario yang Maha Mengatur memang begitu cantik dan tahu apa yang dimau oleh hambanya. Selepas shalat Isya di masjid Al-Ikhwan, saya bersalaman dengan Bapak. Beberapa saat berbincang tentang kuliah di mana, jurusan apa, dan hal-hal lainnya. Setelah itu, masing-masing dari kita menyudahi pembicaraan, mengambil posisi shalat sunat rawatib. Lalu, bapak keluar dari masjid. Saya cukup malu untuk keluar lewat pintu samping?yang didepannya ada Bapak, entah sedang apa. Namun, apa daya, sandal saya ada di sekitar pintu itu. Saya pun akhirnya keluar sambil pamit kembali ke Bapak. Bapak mengizinkannya. Di sela-sela perkataanya, ?Moal ka Ibu heula, Fan?? akhirnya kesempatan itu muncul juga. ?Oh, muhun pak, teu sawios jam sakieu?? ?Iyah, wios.? Kami berjalan menuju rumah Bapak.

?Bu, bu, aya Irfan hoyong pendak?? Bapak memanggil Ibu yang katanya sedang di WC.

Sambil menunggu, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Buku-buku tertata rapi tepat di dalam lemari di hadapan saya. Plakat pembicara dengan nama Bapak tersimpan rapi di atas meja di depan lemari buku. Beberapa foto baik Bapak, Ibu, A Heppy (anak sulung Bapak) menghiasi dinding rumah yang terlihat sederhana itu. Setelah menunggu beberapa saat, ibu datang dengan jalan yang agak ringkih. Maklum saja, sudah hampir setahun Ibu terkena penyakit stroke. Semoga Allah memberikan kesehatan kepada beliau. Semoga sakitnya menjadi penggugur dosanya. Dulu ibu begitu enerjik. Kesehariannya tak pernah lepas dari beragam aktivitas yang berkaitan dengan sekolah, pesantren, Ibu-ibu pengajian DKM Al-Ikhwan hingga aktivitas kuliahnya di S3 UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Tak nyaman rasanya jika meninggalkan apa yang menjadi tanggung jawabnya meskipun waktunya dipenuhi dengan kesibukan. Ini yang saya suka dari beliau. Keteladananannya mengemban amanah begitu dipegang erat. Kini, ibu harus bersabar atas ujian sakit yang menimpanya. Semoga sabar selalu menghiasi hati dan pikirannya.

?Oh, Irfan. Pasti Irfan da.? Ibu tiba di ruang tamu dengan senyum sumringah. Saya memang cukup sering datang ke pesantren. Karena itu, mungkin ibu sudah bisa menebak siapa yang malam-malam bertamu ke rumahnya. Ibu hanya menempelkan kedua lengannya di sekitar dada, sebagai isyarat jabat tangan dari kejauhan. Saya pun refleks mengikutinya.

Lumayan lama kami berbincang. Sekitar 30 menitan lamanya. Arah perbincangan random saja kamana-meni. Namun, yang jelas saya mendapatkan banyak pencerahan dan beragam semangat untuk menjadi pribadi yang berarti bagi orang di sekitar, bagi umat, bagi bangsa, bagi keluarga, dan bagi calon mitoha de el el.

Beberapa yang kami perbincangkan antara lain:

Pertama, Ibu bercerita tentang perjuangan dalam menyelesaikan kuliah S3 nya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Bayangkan saja betapa nestapa mengaliri hati ketika mau sidang disertasi, namun penyakit struk datang menghampiri. Badan menjadi diliputi oleh kelemahan. Bergerak saja sulit, siuman dari hilang kesadaran juga sudah Alhamdulillah, tapi ini untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitian yang dilakukan dalam waktu yang tidak bisa dibilang sebentar menjadi tak kuasa. Siapa yang tidak sedih? Hanya beberapa langkah lagi menyentuh garis finish menyelesaikan studi, namun ada sandungan yang membuat ekspektasi tidak berjodoh dengan realita. Dari kejadian ini, saya pun bisa mengambil sebuah pelajaran, bahwa kehendak manusia selalu dalam kendali kehendak penciptanya, Allah. Kita sebagai manusia menjadi tak usahlah terlalu bersombong diri atas kemampuan yang sejatinya adalah pemberian dari-Nya. Boleh berencana, namun harus siap pula dengan kehendak dari-Nya. Setidaknya harus jaga-jaga atas kemungkinan yang tidak sesuai dengan ingin kita. Supaya tidak ada keluh kesah memaki pemberian-Nya. Atau ketika hal itu telanjur menjangkiti hati, kita bisa langsung menepisnya.

Ibu juga bercerita dengan begitu semangat tentang bagaimana prosesi ketika ibu di dorong dari pintu gerbang UIN Bandung menuju tempat wisuda. Orang-orang melihat siapa yang berada di kursi roda. Lalu setelah berada di tempat wisuda dan ketika nama Ibu dipanggil ke depan, ibu begitu terharu.

?Fan, mun kongang mah ibu teh hoyong nangis? kata ibu sebagai luapan betapa semua emosi tumpah menjadi satu kala itu. Akhirnya lulus juga.

Kedua, Ibu memaparkan pula kondisi guru agama di SMA Negeri 1 Tasikmalaya?yang tak lain adalah almamater saya juga. Dua dari empat guru PAI senior di sana akan segera pensiun, kesatu Ibu dan keduanya pak Tatang. Guru satu lagi yang masih mengajar adalah pak Acep (dulu pembina ekskul Gema Babussalam). Sekarang katanya sudah ada beberapa guru PAI yang masih muda?saya lupa siapa namanya. Kata Ibu, guru muda memang semangatnya sedang tinggi-tingginya, akan tetapi religiusitas dan rasa memilikinya kadang masih labil, belum kuat. Mungkin ada benarnya. Saya mengaminkan hal ini, namun tentu tidak bisa dipukul rata juga. Ada banyak guru muda?terkhusus PAI?yang memiliki niat tulus untuk tidak hanya mengajar di ruang-ruang kelas, namun juga mengkondisikan keadaan sekolah yang kental dengan suasana religius.

Ketiga, ini poin inspirasi dari Bapak. Beliau bercerita banyak tentang kemajuan SMK Al-Ikhwan yang baru berdiri sekitar 5 tahun lamanya. Tepat ketika saya mau lulus dari Al-Ikhwan, SMK ini terlahir. Kini, banyak alumninya yang sudah terserap lapangan pekerjaan. Beberapa di antaranya juga diterima tanpa tes di UIN Sunan Gunung Djati. Bapak dengan bangganya menceritakan prestasi siswa-siswa SMK Al-Ikhwan: ada prestasi nilai UN SMK Al-Ikhwan kedua tertinggi di kota Tasikmalaya?urutan pertamanya SMK 1 Tasikmalaya, juara olimpiade PAI, juara tahfidz al-Qur?an, dan beberapa prestasi lainnya. Saya senang-senang saja mendengar cerita dari beliau. Barangkali dengan berlaku demikian rasa cinta dan rasa memiliki terhadap sekolah tersebut bisa tumbuh dengan subur.

Keempat, masih tentang cerita dari Bapak. Kali ini cerita Bapak adalah tentang proyeknya perihal pembuatan Universitas baru di daerah Pangandaran. Namanya adalah Universitas Soleh Budiman. Kata Bapak, pembuatannya akan langsung membuka 7 fakultas. Lagi-lagi saya tak habis pikir dengan produktifitas, kontribusi, serta dedikasi Bapak terhadap dunia pendidikan. Patut ditiru oleh anak muda seperti saya, pun oleh anak muda lainnya. Mungkin poinnya adalah jangan menunggu berumur dulu baru melakukan aksi nyata merawat pendidikan Indonesia (pun pendidikan Islam tentunya). Saya kira, Bapak pun tidak akan menjadi seperti sekarang ini kalau ketika muda dulu tidak dibiasakan untuk mengasah kepekaan terhadap hal-hal yang berbau pendidikan dan pengabdian.

Pembicaraan tidak hanya seputar itu saja sebenarnya. Masih banyak hal-hal lainnya yang menjadi sasaran pembicaraan. Tapi, barangkali pembicaraan lain tak terlalu urgen untuk diketengahkan di tulisan ini: hanya seputar jurusan saya kuliah sekarang, ajakan Ibu dan Bapak kepada adik saya untuk melanjutkan di SMK Al-Ikhwan dan lain sebagainya.

Semoga suatu saat nanti masih diberi kesempatan untuk kembali sowan ke rumah Bapak dan Ibu. Kembali menimba ilmu dari mereka: ilmu agama maupun ilmu kehidupan.

Sebelum pamit pulang saya menyempatkan diri untuk minta foto dengan Bapak dan Ibu. Sebagai kenang-kenangan dan dokumentasi untuk tulisan ini juga sebenarnya.

Oh iya, saya silaturrahim pada tanggal 8 Januari 2016, tapi tulisannya baru selesai hari ini.

?

Diselesaikan pada pukul 22.04 WIB

Bandung, 10 Januari 2016

?

Sumber gambar: dokumentasi pribadi, foto oleh adik saya, Lutfy Muhammad Hilmy

?

Tulisan ini bisa juga dibaca di sini?

Karya : Muhammad Irfan Ilmy