Belajar dari Talk Show dan bedah buku

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2016
Belajar dari Talk Show dan bedah buku

?

Hari Sabtu tanggal 12 Desember 2015. Di hari libur ini? ada banyak pilihan acara yang menggiurkan untuk diikuti. Beberapa gratis, adapula yang berbayar. Namun, seringkali ketika pun kita mau mengikuti kesemuaannya karena materinya menarik, kita harus memilih. Karena pada kenyataannya kita sebagai manusia tidak bisa menduplikasi diri. Harus ada keputusan yang dijatuhkan untuk memilih salah satunya. Dari beberapa informasi acara yang diketahui sebelum hari Sabtu ini, saya menjatuhkan pilihan untuk mengikuti acara hexafest yang diadakan oleh salah satu himpunan mahasiswa yang ada di UPI (Himpunan Mahasiswa PKK). Pertimbangannya adalah karena ada salah satu penulis favorit saya yang menjadi pematerinya. Sebut saja kang Azhar Nurun Ala, yang sampai saat ini telah membuat 4 buku dari tangan dinginnya. Pada kesempatan acara tersebut beliau akan membedah buku terbarunya yang berjudul Cinta Adalah Perlawanan (CAP). Saya sangat tertarik untuk mengikutinya.

Saya datang ke tempat acara sekitar pukul 09.30 WIB. Ternyata acara sudah dimulai. Ketika saya sampai di sana, kang Azhar sedang membawakan materinya yang (entah benar atau tidak) berkaitan dengan cinta dan (mungkin) pernikahan muda yang dilakukannya. Setelah duduk berselang sekitar 5-7 menit pematerian dari beliau pun selesai. Aduh, sayang sekali. Tapi, barangkali ini juga akibat dari kelalaian saya yang sengaja datang terlambat. Setelah itu, moderator mempersilakan pemateri berikutnya untuk menyampaikan materinya.

Kang Irfan Firdaus S.E.

Beliau masih terbilang muda. Seorang pengusaha muda alumni manajemen FPEB UPI Bandung. Beliau produk asli UPI jebolan UKM HIPMI PT UPI. Pemuda kelahiran tahun 1990 ini juga pernah?diamanahi sebagai ketua pedagang muslim selama dua tahun. Beberapa usaha pernah dicobanya sejak kelas 3 SMP. Jatuh bangun tentu menjadi karib yang senantiasa membersamai pertumbuhan kapasitas dirinya dalam bidang bisnis. Kang Irfan juga ternyata merupakan salah satu beswan beasiswa MRUF Envoy keluarga UNO. Dari sana ia mendapatkan pencerahan bahwa para beswan dihimbau untuk mampu mempunyai minimal 1 karyawan. Meskipun tidak melulu harus menjadi seorang entrepreneur. Lalu jalan ini?bisnis?menjadi pilihan yang ingin difokuskannya.

Ia datang bersama dengan calon isterinya. Mahasiswi jurusan bahasa Inggris UPI angkatan 2011 ini memakai jilbab warna ungu. Saya hanya melihatnya dari kursi belakang. Kata kang Irfan, dia sengaja membawa serta calonnya supaya ia tahu track record calon suaminya. Dari sana diharapkan sang calon isteri memiliki kepedulian yang tinggi terhadap suaminya kelak. Sebuah momen yang menurut saya bisa dibilang so sweet. Semoga cepat mengutuh kang!

Saat ini ia memiliki usaha dalam bidang perlengkapan muslimah seperti kaos kaki, manset, kerudung dan aksesoris muslimah lainnya. Saya tidak memperhatikan dengan detail perihal brand bisnis beliau. Sekarang sudah bisa dibilang stabil apa yang telah diperjuangkannya sejak dulu. Ketika menanam adalah aksi yang dilakukan maka sekarang ia tengah memanen hasilnya.

Ibu Siti?Muntamah

Ibu Siti adalah isteri dari wakil kepala daerah kota Bandung, yaitu Bapak Oded. Sebelumnya saya belum tahu beliau. Beda halnya dengan isteri kang Emil yang terkenal di seantero Bandung karena kecantikannya yang merupakan buah dari masifnya aktifitas kang Emil di media sosial. Belakangan saya tahu kalau beliau merupakan ibu dari 7 orang putri. Disebutkan kalau tiga orang putrinya sudah menikah. Hal yang menarik buat saya adalah proses pernikahan ketiganya begitu singkat. Anak pertama menikah setelah 3 minggu proses perkenalan. Sementara itu, anak ketiga hanya berselang 3 hari dari perkenalan langsung melaksanakan akad nikah. Untuk anak ketiga saya tidak mengetahui karena tidak fokus mendengarkan. Bahkan beberapa putri beliau tengah mondok di Ciamis. Beliau mengatakan bahwa satu orang putrinya sudah hafal 30 juz al-Qur?an. Satu putri yang lain sebentar lagi menyelesaikan hafalannya. Sebuah potret keluarga yang ideal menurut saya. Kebersamaan sosok ayah dan ibu dalam merencakan masa depan anak-anaknya bisa terlihat jelas dari rumah tangga bapak Oded dan Ibu Siti ini. Barangkali ini menjadi sebuah referensi bagi kehidupan rumah tangga kita kelak (bagi yang belum menikah). Tentu sangat berarti bagi pembendaharaan perihal ilmu rumah tangga bagi saya sendiri: yang mau nikah, entah kapan. Doakan saja!

Ibu Siti mengawali materinya dengan beragam fakta mencengangkan berkaitan dengan kondisi Bandung. Bukan dari segi prestasi, melainkan fakta negatif yang menunjukan bobroknya moral sebagian besar warga Bandung yang meliputi pergaulan bebas, perceraian dll. Jadi masalah terbesar yang tengah melanda manusia di zaman sekarang adalah karakter. Hal ini menimbulkan efek domino bagi permasalahan lain. Sumber daya alam yang melimpah menjadi tidak ada artinya jika kualitas pengolahnya (sumber daya manusia) tidak becus mengurusinya.

Ibu Ina

Pernah mendengar bisnis kuliner dengan brand Ina Cookies? Bagi yang update perihal perkue-an mungkin sudah tidak asing lagi dengan brand ini. Saya sejujurnya pernah sekilas mendengar nama ini. Namun, untuk merasakan bagaimana cita rasanya saya belum pernah (kalau ada yang mau nraktir, ngga bakal nolak, he). Ibu Ina tampil dengan pakaian modis seperti masih muda kisaran 40 tahunan. Tapi ternyata beliau sudah memiliki cucu. Dugaan saya meleset.

Perjalanan sukses bisnisnya bukan ujug-ujug saja diraih. Ada jatuh bangun dan pengalaman pahit yang menimpa dan menempa dirinya. Cerita sukses Ibu Ina berawal dari masa mudanya yang saat itu ikut sang suami bertugas di Aceh. Di sana sangat sulit sekali menemukan tempat makan. Hal itu menjadi pintu bagi turunnya ide kreatif untuk membuat kue. Selang beberapa lama ternyata upaya membuahkan hasil. Berbagai kreasi kue berhasil diciptakannya. Namun, selang beberapa lama ternyata antusias maling lokal untuk mencuri di rumah bu Ina begitu tinggi. Menurut penuturannya sudah 5 kali maling mendatangi rumah ibu Ina. Sebuah kenyataan yang membuat tidak nyaman ternyata. Akhirnya, setelah kejadian tersebut Ibu Ina dan suaminya pindah (saya lupa ke mana). Setelah itu beliau beralih pada usaha ekspor jahe. Kurang lebih 15 hektar lahan ditanami dengan tanaman jahe. Singkat cerita ternyata ekspornya gagal karena alasan tertentu (saya juga lupa apa sebabnya). Jahe yang dihasilkan dari lahan sebanyak itu ternyata mengalami kegagalan untuk dijual. Siapa yang tidak stress atau down? Tak terkecuali ibu Ina ini.? Namun, dari kejadian tersebut beliau bisa memetik banyak hikmah.

Selanjutnya karena hidup harus berlanjut maka Ibu Ina meniti kembali usaha kue nya. Waktu dulu ia tidak memiliki peralatan untuk membuat kue yang lengkap. Ia mengandalkan kemampuan bicaranya untuk meminjam (entah ke tetangga atau saudaranya). Begitulah, orang yang sukses selalu dihadapkan pada berbagai kejadian pahit yang menguji mentalnya di awal-awal merintis sebuah tujuan?baik itu bidang akademik, profesi, usaha dan lain-lain.

Sekarang, siapa yang tidak kenal dengan brand Ina Cookies? Beberapa kali diliput oleh televisi nasional seperti RCTI, TV One dan yang lain.

Bedah buku Cinta Adalah Perlawanan

Di awal-awal pembicaraan kang Azhar membahas tentang perjalanan menulisnya. Menurutnya, menulis tidak mesti mempunyai motivai makro. Semacam terdorong menulis karena ingin mengubah dunia, ingin meraih nobel dan hal semacamnya. Cukuplah hal-hal mikro yang dalam mewujudkannya kita tidak merasa dibebani. Beberapa buku kang Azhar seperti ja(t)uh, seribu wajah ayah dan cinta adalah perlawanan misalnya diinspirasi dari hal-hal mikro tadi. Ja(t)uh ditulis dengan maksud untuk merapikan kenangan. Seribu wajah ayah didorong dari keinginan untuk menaruh kata pengantar dari sosok ayah kang Azhar di bukunya. Lain lagi dengan buku Cinta Adalah perlawanan di mana motifnya adalah sebagai bentuk pendokumentasian kisah cinta. Bagi kita yang ingin menulis, tips ini bisa diterapkan. Saya juga sedang mencobanya.

Motivasi berikutnya kang Azhar nulis buku adalah sebagai bentuk balas budi kepada para penulis yang telah membuat buku dan bukunya telah menjadi bahan referensi dan perenungan.

Cinta adalah perlawanan, ada yang sudah pernah baca bukunya? Menarik. Buku ini merupakan perjalanan cinta penulisnya, kang Azhar Nurun Ala. Diceritakan dari pra menikah sampai akhirnya menikah sekarang. Di tiap bab ada ilustrasi menarik yang digambar oleh mahasiswi asal kota kembang, namanya saya lupa.

Saya penasaran dengan maksud judul bukunya ?Cinta adalah perlawanan?. Ada yang aneh ngga sih? Jadi cinta itu melawan, atau bagaimana? Ternyata maksud dari cinta adalah perlawanan adalah dengan karunia cinta tersebut kita semestinya melawan ketakutan yang diakibatkan olehnya. Seperti takut untuk berkomitmen, takut bertanggung jawab, takut seseorang yang kita cintai pergi dan hal-hal semacamnya. Judul buku ini juga terinspirasi dari lagu berjudul love is resistence dari Muse.

Laporannya dicukupkan segini dulu. Ada beberapa hal yang belum saya tuliskan sebenarnya. Tulisan ini ditulis dari Sabtu ketika acara itu selesai sebenarnya. Namun, karena kelemahan saya yang takluk pada rasa malas, akhirnya tulisan ini tidak kunjung beres. Hari ini saya memaksakan untuk mempostingnya di blog meskipun mungkin lahir dengan premature. Kurang sempurna. Tapi, tak apa. Daripada tulisan ini diposting di tahun depan, kan sayang banget.

Bandung, 29 Desember 2015

Diselesaikan di Lab IPAI UPI (tempat favorit saya di kampus).

?

sumber gambar: panitia hexafest

  • view 127