Tukang Sakoteng yang Setia

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Buku
dipublikasikan 31 Mei 2017
Tukang Sakoteng yang Setia

"Kuliah teh sing bener! Dan kolot teh nguliahkeun ka anu jadi anak teh lain saalit duit eta teh jang. Ari masalah awewe mah nomer dua. Nu penting mah urang kuliah sing bener, gaduh pagawean. Urang gawena gesit mah yeuh, awewe mah datang sorangan. Karunya, kudu karunya ka anu jadi orang tua.”

- Bapak penjual sakoteng

Istiqomah dalam artian bersetia atas sesuatu yang telah dan sedang dilakukan bagi saya pribadi tak pernah mudah untuk dijalani. Ada godaan yang selalu menyilaukan untuk menjeda apa yang rutin sedang saya lakukan. Lalu mentah lagilah kebiasaan baik yang ditargetkan untuk didawamkan itu.

Semalam saya mendapat sebuah pencerahan mengenai sifat baik ini dari seorang tukang sakoteng yang suka mangkal di dekat Museum UPI. Ini kali kedua saya membeli sakoteng darinya. Saya awalnya keluar malam untuk membeli sesuatu dan entah ingin apa. Saat melintas di tempat si bapak biasa jualan, saya cukup terenyuh karena melihatnya sedang duduk sendiri menanti pembeli. Tapi saya menghiraukan perasaan itu sambil tak nyaman juga di hati ini karena melewatkan kesempatan berbuat baik. Saya akhirnya memacu motor ke Gegerkalong. Ngeng.

Saya jadi teringat tentang salah satu judul tulisan mba Mutia yaitu Otot Kebaikan. Saya merasa kalau otot kebaikan saya jarang dilatih sehingga lemah pisan. Masih payah dan suka loading sama peluang berbuat baik yang tersaji di hadapan. Suka masih mikir-mikir dulu apakah benar yang saya lakukan, apa untungnya buat saya dan pertanyaan-pertanyaan lain yang ujung-ujungnya membuat saya urung berbuat.

Di sana saya tak mendapat apa-apa. Maksudnya hati saya tak condong untuk membeli satu jajanan apa pun. Padahal bagi mahasiswa UPI, kawasan Gegerkalong adalah pusat jajanan serba ada, beda halnya dengan Negla, tempat saya ngontrak rumah. Saya kepikiran bapak penjual sakoteng. Saya berbalik arah.

Motor saya berhenti tepat di depan gerobak sakoteng itu. Penjualnya tak saya dapati ada di sana. Mungkin sedang ke toilet. Kurang lebih menunggu 3-4 menit akhirnya si bapak muncul juga sambil menenteng segelas plastik kopi panas.

Pak hiji,” kata saya.

Dibungkus atawa di dieu?”

Di dieu pak.”

Saya sengaja memesan di tempat agar bisa ngobrol-ngobrol dengan bapaknya. Meskipun awalnya bimbang karena waktu menunjukkan hampir pukul 22. Gerbang kontrakan biasanya sudah ditutup. Saya malas mengetuk pintu rumah bapak kosan karena enggak enak bisi mengganggu.

Semangkuk sakoteng panas disodorkan oleh si bapak. Saya menerimanya sambil bilang nuhun. Asap mengepul dari sakoteng itu menandakan begitu panas airnya. Saya mulai menyeruput sesendok demi sesendok air hangat dari jahe itu. Nikmat.

Semula kami hanya berdiam-diaman. Bapak sakoteng tidak membuka percakapan. Saya harus mulai bertanya, pikir saya.

Pak icalan sakoteng ti iraha?” (Pak, jualan dari kapan?)

Wah jang, tos lami bapak icalan. Ti tahun 1980.” Jawab bapaknya dengan wajar berbinar. (Sudah lama bapak jualan. Dari tahun 1980). Saya tak menyangka bapak ini sudah jualan begitu lama.

Bapaknya sudah berjualan sakoteng dari 27 tahun lalu berarti. Bahkan ketika saya belum lahir, dan mungkin orang tua saya juga belum saling cinta karena belum berjumpa. Katanya bapak itu tak pernah beralih profesi jadi apa pun selain memberi layanan sebuah minuman hangat yang komposisinya terdiri dari air, gula batu, dan jahe merah plus berbagai macam isian khas sakoteng lainnya. Super setia dan loyal terhadap pekerjaannya.

Bagi saya hal ini mengagumkan. Si bapak pasti berjuang agar terus menerus mencintai pekerjaannya memberi fasilitas semangkuk sakoteng kepada orang-orang yang merindukan kehangatan di saat Bandung memang selalu berhawa dingin ketika malam tiba. 27 tahun bukan waktu yang sebentar untuk memutuskan setia pada satu pekerjaan. Pilihan pekerjaan-pekerjaan lain sudah barang tentu berseliweran untuk dicoba dijalani. Tapi bapak satu ini memilih untuk tetap pada pilihannya, menjadi penjual sakoteng, menjadi jalan orang-orang mendapatkan kehangatan. Orang-orang seperti pak penjual sakoteng ini sangat dibutuhkan keberadaannya. Dan saya kira kita jangan malu dan ragu belajar setia pada mereka. Si bapak ini salah satunya.

. . .

Saya cukup lama berbincang dengan beliau sambil menggali banyak informasi tentang persakotengan. Dari pembicaraan itu, saya jadi tahu bahwa minuman sakoteng berasal dari Cirebon. Lalu ternyata pelanggan sakoteng si bapak rata-rata mahasiswa UPI. Katanya kalau lagi aktif berkuliah tak sampai lewat dari jam 10 malam ia sudah pulang tanda jualannya sudah habis. Kalau lagi Ramadhan sekarang, jualannya jadi cukup sepi. Mahasiswa pada pulang ke tempatnya berasal. Si bapak bisa berjualan sampai jam 12 malam atau setengah 1 dini hari.  

Saya juga jadi tahu bahwa hangat dari jahe biasa dan jahe merah ternyata berbeda. Jahe merah lebih memberikan efek hangat yang lebih. Biasanya beliau memasok jahe merah itu dari daerah Jawa. Sekali membawa untuk satu bulan bisa mencapai 1 kwintal. Wow, saya mengangguk-angguk saja. Oh ternyata begitu sistemnya. Kirain sesimpel tinggal beli ke pasar Gerlong atau pasar terdekat lain. Ada proses panjang untuk sekadar menikmati semangkok panas sakoteng.

Katanya untuk sehari bisa menghabiskan 1,5 kg jahe merah. Lalu keuntungan dari sakoteng, ketika tidak habis dan dibesokkan juga tidak akan basi karena tak mengandung santan. Beda halnya dengan bajigur. Kalau tidak habis, ya harus tanggung risiko bajigurnya akan basi. Jadi mau tidak mau harus diupayakan habis. Terimakasih sudah berbagi all about sakoteng pak! Siapa tahu nanti saya tertarik untuk jadi pengusaha sakoteng di Tasikmalaya. Pengetahuannya sangat bermanfaat.

Selain soal konsistensi, tentang integritas (karena si bapak menggunakan gula batu asli dalam air sakotengnya. Tidak seperti penjual sakoteng lain yang dicampur pakai gula biang juga, katanya), makna bekerja keras, bapak penjual sakoteng pun menasihati saya perihal sungguh-sungguh dalam belajar.

Sudah baca nasihat si bapak yang saya taruh di awal tulisan ini? Setelahnya lalu saya bilang kalau “saya jomblo pak.” Dan ternyata tak dihiraukan. Sakiiit. He.Nasihat itu bagi saya tak ubahnya petuah dari seorang bijak bestari yang tak bisa saya bantah adanya. 

Saya jadi teringat dengan nasib skripsi saya yang sudah sekian lama dianggurkan. Meski hambatan saya mangkir dari tugas akhir ini bukan karena awewe (perempuan) sebagaimana yang dipesankan sang tukang sakoteng. Tapi saya jadi berpikir bahwa awewe ini adalah simbol dari semua godaan yang ada tatkala amanah mengerjakan skripsi tiba. Perempuan hanya salah satunya. Ada banyak hal lain sebagai bentuk godaan yang harus dihindari: malas, tawaran kerja yang tak seberapa, berkiprah di bidang lain yang juga tak terlalu berdampak, dan lain-lain.

Saya minta maaf mah, pak, karena berlemah diri atas kemalasan yang seringkali diikuti untuk tak membuka draf skripsi dan malah mengerjakan hal yang bahkan tidak sunah sama sekali. Ya, menjurnal. Saya malah setia membuat jurnal hampir tiap hari padahal ada pekerjaan yang prioritasnya sangat wajib untuk saya kerjakan sebagai syarat untuk mendapat gelar sarjana yang sangat diharapkan dari anak kedua kalian ini.  

. . .

Malam itu saya belajar banyak hal dari bapak asal Cirebon yang pulang 3 bulan sekali ini. Saya yakin perjumpaan yang diawali dari kecenderungan saya untuk berinteraksi dengan beberapa orang yang saya temui adalah bagian dari rencana-Nya. Bisa saja saya semalam tidak membeli sakoteng dan menghiraukan bisikan yang terbersit saat saya di motor dan melihat bapak penjual sakoteng yang tengah duduk. Bisa saja saya kemarin membeli seporsi kebab turki di dekat koramil Gegerkalong atau memutuskan membeli lumpia basah dekat warung tegal langganan. Tapi lagi-lagi ada peran Allah di sini. Saya sedang dibelajarkan. Tidak salah lagi.

Malam nanti atau malam-malam lainnya saya ingin kembali menyeruput hangatnya sakoteng si bapak sambil berharap ada pesan moral lain yang terlontar dari mulutnya. Saya pun jadi berpikir untuk melakukan hal serupa pada pedagang-pedagang lainnya baik di sekitar kampus atau di wilayah Bandung lainnya. Tak lain untuk mendapatkan banyak pencerahan dari mereka. Saya yakin setiap orang punya sudut pandang berbeda tentang satu hal dan layak untuk dipertimbangkan nasihat dan anjurannya.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 31 Mei 2017

  • view 50