Tentang Pelatihan Pemimpin Bangsa #8 (Bagian 1)

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Maret 2017
Tentang Pelatihan Pemimpin Bangsa #8 (Bagian 1)

Niat untuk menuliskan pengalaman mengikuti PPB #8 ini sudah ada di awal pelaksanaannya. Bahkan sejak dari Bandung sendiri saya sudah berencana ini akan jadi kontribusi yang bisa saya berikan kepada Indonesia melalui tulisan pengalaman yang mudah-mudahan bisa memberikan inspirasi kepada mahasiswa lainnya supaya mengikuti acara ini di tahun berikutnya.

Pada kenyataannya, hingga sekarang sudah terlewat dua tahun lebih, dua penyelenggaraan PPB selanjutnya, dua lebaran terlampaui, tulisan itu pun belum juga naik posting. Saya serasa memiliki utang yang harus dibayarkan. Bukan kepada orang lain sebenarnya, utang itu harus dibayarkan kepada diri sendiri. Saya yang sudah membuat komitmen tersebut, dan saya sendiri yang harus menghargai komitmen itu sebagai bentuk sikap ksatria yang semestinya dimiliki setiap pemuda.

Pelatihan Pemimpin Bangsa #8 merupakan event nasional yang pertama kali saya ikuti. Sejak pertama kali melihat poster yang tersebar di grup facebook, saya mulai tertarik dan ingin sekali mengikutinya. Magnet yang membuat saya begitu ingin mengikuti acara ini adalah karena beberapa pembicaranya yang keren. Sebut saja Pak Habibie dan Kang Emil.

Pak Habibie terkenal di seantero negeri, bahkan juga seluruh dunia. Siapa yang tidak kenal sosok presiden ke-3 ini? Lalu, kang Emil adalah seorang walikota yang prestasinya tak diragukan lagi. Sebenarnya karena domisili saya di Bandung, kesempatan bertemu atau mengikuti acara beliau sangatlah terbuka. Meski saya juga bingung bagaimana cara membuka pintu pertemuan itu.

Alasan terkuat seseorang mengikuti sesuatu menjadikan semangat tersendiri sehingga halangan macam apapun tidak bisa menghalangi keinginan mengikutinya. Saya kira modal saya untuk bisa mendapatkan banyak pencerahan dari orang-orang yang telah banyak berkiprah dalam merawat dan meruwat Indonesia ini sudah sangat cukup untuk mengikuti acara di kota Yogyakarta sana. Alasan itu dalam perjalanannya akan menggandakan diri dengan hal-hal menarik yang ditemui selama perjalanan, Alasan terkuat makin berkali lipat menguat.

Saya tidak terlalu berpikir bahwa semua pembicara yang tertera di poster akan ada yang tidak datang. Saya percaya saja. Meski pada kenyatannya kedua pembicara yang menjadi alasan terkuat saya untuk mengikuti acara ini pun tidak datang. Namun, itu tidak mengurangi kesyukuran diri saya telah menjadi bagian dari Pelatihan Pemimpin Bangsa #8, di akhir bulan September tahun 2014 lalu.

Persyaratan seleksi menjadi peserta PPB #8 bisa dibilang tidak sederhana. Saya harus membuat esai, resume dari beberapa buku yang sangat asing (ketahuan kalau saya kurang baca), motivation letter, surat rekomendasi dan persyaratan lain yang lazim ada untuk mengikuti sebuah pelatihan kepemimpinan.

Karena waktu itu, saya sedang menjadi panitia dari sebuah acara akbar kampus, Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) keinginan mengikuti acara ini sempat memudar. Waktu untuk menggarap persyaratannya sedikit tersita dengan tugas mendokumentasikan acara. Ya, sudahlah, mungkin acara ini belum berjodoh dengan saya. Batin saya waktu itu.

Saya tidak berharap ada perpanjangan waktu penerimaan persyaratan seleksi pada awalnya. Saya mencoba menerima kenyataan semi pahit itu. Akan tetapi, entah karena alasan apa ternyata panitia memperpanjang deadline penerimaan berkas seleksi sekitaran satu minggu. Keinginan saya kembali terpantik untuk mencoba melengkapi berkasnya. Buku-buku yang memungkinkan untuk saya resume mulai dicari. Saya mulai googling siapa tahu menemukan beberapa ebook yang dimaksud. Saya pun nanya-nanya ke kakak tingkat barangkali ada yang pernah membaca dan punya buku tersebut.

Dari beberapa buku yang menjadi opsi untuk di resume saya menemukan satu buku fisik yaitu Di Bawah Bendera Revolusi karya Bung Karno. Buku ini milik adik tingkat saya yang memang bacaannya aneh-aneh. Keren nih kalau buku ini dilahap habis. Salut. Buku ini begitu tebal dan bahasanya ditulis dengan ejaan lama. Saya sulit memahaminya. Bacanya juga sudah malas, apalagi mencoba mengerti. Akhirnya saya tidak jadi meresume buku itu.

Untuk persyaratan, saya meresume buku yang lain. Yang satu buku Kapita Selekta Jilid 1 karya Muhammad Natsir dalam bentuk ebook dan yang kedua buku Ekonomi Kerakyatan karya Revrisond Baswir. Keduanya sama sekali tak saya baca tuntas. Hanya dibaca sekilas dan dituangkan dalam bentuk resume yang tak lain lebih layak disebut proses memindahkan namun dengan penggantian bahasa versi saya. Jujur, meresume sesuatu adalah salah satu kelemahan saya. Tapi karena ini untuk menjadi syarat lolos satu pelatihan yang begitu ingin saya ikuti, ya tetap saya usahakan.

Saya sudah tidak ingat lagi selang berapa hari dari penutupan penerimaan berkas ke pengumuman peserta yang berhak mengikuti acara. Tapi kabar baiknya adalah saya menjadi satu dari sekian ratus peserta yang berkesempatan untuk berperan serta di acara yang telah menginjak tahun ke-8 itu. Sekarang udah tahun ke-10. Dapat ditebak bagaimana perasaan saya waktu itu. Ya, mahasiswa tingkat 3 yang waktu itu masih polos-polosnya bisa menjadi delegasi satu-satunya dari kampus UPI untuk berada dalam satu forum bersama pemuda-pemuda terpilih dari sekitar puluhan kampus di Indonesia.

Persoalan tidak berhenti sampai saya dinyatakan lolos sebagai peserta. Uang registrasi sebesar 200 ribu ditambah uang transportasi beserta uang untuk membeli perlengkapan semacam sepatu pantofel, kemeja, baju polo dan lain-lain juga harus diusahakan. Waktu itu saya sangat buta perihal mengajukan dana bantuan ke kampus.

Sudah saya coba meraba-raba berjalan sebisanya supaya pihak kampus berbaik hati memberikan recehannya bagi hamba yang membutuhkan ini. Tapi karena berkas pendukung pengajuan dana hanya berselang seminggu menuju keberangkatan agak sulit untuk memperjuangkannya. Alhamdulillah, orang tua men-support keduanya untuk mengikuti pelatihan yang banyak melahirkan change maker di lingkungannya masing-masing ini. Makasih Mah, Pak.

 

Berangkat Menuju Kota Gudeg

Dari awal, saya merencanakan untuk pergi dari Tasikmalaya tidak langsung dari Bandung. Alasannya supaya saya bisa melepas rindu lebih dulu dengan keluarga sekaligus mengumpulkan banyak semangat untuk menjadi lelaki kuat yang dipenuhi rasa berani untuk menghadapi banyak kemungkinan-kemungkinan kesulitan selama pra, sedang, dan pasca acara. Selain juga sebenarnya karena berangkat dari Bandung dirasa bakal sangat lama di perjalanan alias ngampleng pisan.

Saya berangkat waktu itu naik bis langsung dari pool-nya, yaitu pool Budiman. Entah teteh, bapak, atau mamang saya yang mengantarkan dari rumah ke tempat naik bis. Maklum sudah 3 tahun yang lalu. Sudah sangat tidak ingat. Sekitar jam 8.30 malam bis meninggalkan kota Resik itu. Selamat tinggal sementara Tasikmalaya, juga kota Bandung tercinta. Saya menuju kota Yogya untuk kembali lagi.

Sekitar jam 3.30 pagi saya tiba di terminal Giwangan setelah sebelumnya menanyakan ke teman SMA saya yang kuliah di Teknik Mesin UGM. Saya pada awalnya salah sebut. Malah bilang waktu pak kondektur bertanya di mana akan turun, saya jawab saja terminal Lempuyangan. Pak Kondektur agak bingung lalu bilang, Giwangan mungkin. “Oh, iya Pak. Giwangan Maksudnya,”

Setelah shalat di mushola terminal, teman saya yang anak UGM tadi (sekarang udah lulus), Erwan tiba di terminal setelah sebelumnya kami janjian. Suara motor yang kami naiki membelah jalanan Jogja di pagi hari yang masih lengang.

Saya memiliki satu hari free untuk istirahat karena tiba di Jogja H-1 acara. Saya tak terlalu ingat detail aktivitas di hari yang masih bebas itu. Paling hanya diam di kosan sambil maen internet sesekali dan keluar kosan untuk makan kalau sudah lapar. Yogya begitu panas bagi saya yang terbiasa dengan suhu daerah sekitar Lembang yang dinginnya tak tertahankan.

 

Pembukaan PPB #8

Waktu satu hari serasa tak lama. Saatnya mulai masuk ke dalam pusaran kegiatan yang bagi saya begitu wah. Acara berskala nasional dan diikuti berbagai delegasi dari sekitar 30 kampus di Indonesia. Pasti orang-orang yang terpilih untuk mengikuti kegiatan ini bukanlah mahasiswa yang rata-rata.

Saya menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang berani. Berani mencoba, karena kalau penakut, mungkin mereka tak akan ada di sana bersama saya. Mereka juga para pemuda yang memiliki mimpi besar bagi negaranya. Buktinya berbagai macam halangan dan rintangan tak lantas membuat nyali mereka menciut untuk bisa menempa diri di pelatihan ini.

Saya kembali diantarkan Erwan ke tempat pembukaan sekaligus acara di hari pertama. Ruangan yang digunakan adalah auditorium Fakultas Kedokteran Hewan. Ketika tiba di sana, para delegasi sudah banyak bertebaran dengan koper pakaian yang besar-besar. Menandakan kalau acaranya tidak akan sebentar dan membutuhkan banyak dress codeyang harus disediakan. Sebuah pemandangan yang menarik. Persiapan maksimal untuk sebuah acara yang istimewa.

Saya sulit memanggil kembali ingatan dengan detail peristiwa yang lengkap. Yang jelas saat itu sekitar pukul 8 kami melakukan registrasi ulang dan satu persatu mulai masuk ke dalam ruangan. Hal yang paling pertama terlihat kentara adalah spanduk acara PPB #8 dengan warna dominan merah dan putih bertuliskan tag line “Membawa Indonesia Memimpin ASEAN”.

Saya sempat tak menyangka kalau saat itu saya memang sedang ada di sana. Maklum lah itu benar-benar acara wah yang saya ikuti. Selama kuliah belum banyak gaul dengan mahasiswa lintas universitas. Dan ternyata saya benar-benar ada di sana. Menimba ilmu kepada para pemateri hebat. Juga kepada para peserta yang potensi dan kemampuannya luar biasa. Saya mah hanya buih ombak yang ketika disentuh dengan mudah akan pecah.

***

Di bagian pertama saya cukupkan sampai di sini tulisannya. Siapa tahu ada yang memberi respon untuk membantu saya melengkapi data-data mengenai PPB #8 ini. Tentang siapa saja pemateri di tiap harinya. Tentang materi apa yang disampaikan. Tentang momen-momen tak terlupakan. Dan tentang-tentang lainnya.

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 19 Maret 2017

  • view 163