Nonton Sendirian

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Maret 2017
Nonton Sendirian

Menonton film baru di bioskop dan saya memang suka sama pemainnya juga penasaran dengan kejutan jalan ceritanya adalah opsi yang akhir-akhir ini sering saya pilih. Selain bentuk apresiasi terhadap mahakarya insan-insan perfilman, saya pun ingin merasakan sensasi yang berbeda menonton di ruangan yang memang dikhususkan untuk menonton film.

Ruangan yang luas ditambah efek suara yang mendukung berbagai suasana di dalam film menjadi kepuasan tersendiri. Walau tentu itu semua harus ditebus dengan bayaran yang tak murah. Setidaknya kita harus mengeluarkan uang senilai nasi padang yang harganya terjangkau untuk 3 kali makan. Namun jelas itu merupakan bayaran yang setimpal bagi mereka yang telah mendedikasikan pikiran, tenaga, dan waktunya untuk menyuguhkan tayangan menarik bagi penikmat film. Ya, nonton saja film yang memang benar-benar ngebet untuk ditonton. Jangan seminggu 4 kali juga. Nanti jebol kantong kita. Kantong kering kita bakal makin naik stadium.

Untuk menonton film yang saya suka ternyata tak selamanya mudah. Tak setiap teman ketika diajak nonton bersama secara otomatis mau. Pertimbangannya selain karena tak ada uang, tidak suka sama filmnya, juga karena faktor kesibukan. Tapi ketika tingkat penasaran saya atas satu film itu demikian memuncak, saya suka pergi saja sendirian. Nonton tanpa teman. Berada di satu ruangan dengan orang-orang yang sama sekali tak dikenal. Enggak apalah. Toh yang nonton juga masih manusia. Lain cerita kalau mereka jelmaan dari hantu-hantu gentayangan yang menyukai karya seni umat manusia. Kan menyeramkan.

Saat film AADC 2 tayang bulan April tahun lalu misalnya, saya awalnya ngajak beberapa teman untuk nonton, tapi mereka katanya mau nonton di hari Senin atau Selasa. Sementara itu, rasa ngebet saya untuk melihat akting teteh Dian Sastro sudah tak bisa ditahan-tahan lagi. Akhirnya saya pergi sendiri. Hal yang sama terjadi juga saat film Galih dan Ratna mulai tayang Kamis kemarin.

Ketika saya  mengajak teman yang saya anggap bakal suka, ternyata realitanya tak sesuai dengan harapan saya. Mereka nampaknya biasa-biasa saja. Ya sudah, setelah dari acara open house PPAN Jabar saya langsung ke XXI Ciwalk karena di BIP enggak ada. Begitulah, bareng-bareng hayu, kalau pada engga bisa, ya saya pergi sendirian. Bukan sebuah masalah besar.

Mendengar kalau saya memutuskan untuk nonton sendiri, teman-teman saya biasanya merayu agar saya cari pasangan. Katanya biar enggak kesepian. Rayuannya itu lo suka tak tanggung-tanggung. Sedikit di-bully lah, atau apa lah. Namun itu barangkali sebagai bentuk ekspresi sayang mereka sama saya. Asal enggak dimasukan ke hati, enggak bakal jadi persoalan kok. Makasih udah kasih saran. Tapi bagi saya itu bukan ide yang baik. Alasannya? Ada deh. Itu wen pokoknya mah.

Jangan-jangan Irfan……… Kalau kalian berpikirkan demikian, enggak kok. Saya lelaki normal. Kalau saya suka sama yang sejenis dengan saya, lalu untuk siapa sajak-sajak yang saya tuliskan selama ini? Kan mubazir kalau itu semua diperuntukkan bagi yang bukan perempuan. Singkirkan pikiran macam itu ya, please! Saya enggak seprimitif itu hey. He.

Saya tidak menemukan perbedaan signifikan antara nonton sendirian dengan nonton barengan. Sama saja. Pas nonton juga kita masing-masing fokus sama tiap adegan aktor dan aktris juga konsentrasi memahami jalan cerita dan menangkap pesan apa yang disampaikan. Enggak bakalan diskusi.

Barangkali kita memang jangan sampai anti sosial. Kemana-mana sendirian, sibuk sama dunia sendiri. Tapi jangan juga lantas apa yang ingin kita dapatkan tidak jadi diusahakan gegara tak ada orang yang punya minat sama dengan kita. Setiap orang kan punya persepsi masing-masing terhadap sesuatu. Ada kalanya kita harus beramai-ramai pergi bersama teman-teman, namun jangan lupa juga beri ruang bagi diri sendiri untuk menikmati hal-hal yang kita suka tanpa ada intervensi. Bersolidaritas perlu, mandiri juga mesti. Kita harus pandai-pandai mengusahakan keduanya. Harus adil pada diri sendiri.

Bagi yang pernah tak jadi nonton lantaran malas nonton sendirian, coba deh sekarang lawan kemalasan itu. Nonton saja. Kadang kita harus melakukan hal-hal yang tak biasa disela-sela rutinitas yang itu-itu mulu. Berikan variasi agar hidup kita tak cuma satu warna! Selamat menonton (sendirian).

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 17 Maret 2017

 

Sumber gambar: Papasemar.com

  • view 151

  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    7 bulan yang lalu.
    Iya bener, enggak semua aktivitas selalau bareng sama orang lain, kadang gak harus sendiri terus .. Haha sempet ketawa pas bagian "lelaki normal" surprise > keren-keren .. By the way .. follback yaaa hihi ^_^