Tentang Open House PPAN Jawa Barat 2017

Tentang Open House PPAN Jawa Barat 2017 Tentang Open House PPAN Jawa Barat 2017

Siapa yang ingin pergi ke luar negeri? Dibayarin. Tentu saya sambil bertanya pun bakal juga mengacungkan tangan sebelum orang lain. Siapa yang tak ingin berkunjung ke belahan dunia lain. Melihat berbagai budaya yang berbeda, tempat-tempat eksotis, mendapatkan sudut pandang baru tentang keberagaman dan lainnya.

Sebenarnya banyak sekali program yang bisa diikuti baik ketika masih SMA, kuliah, maupun sudah tak menjadi mahasiswa lagi baik yang berbayar atau yang full dibayari. Tapi tak dipungkiri, ternyata hanya segelintir orang saja yang mau berlalah-lelah mencari informasi perihal hal ini.

Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) dari Kemenpora adalah salah program untuk pergi ke negeri lain dengan fasilitas dari negara yang menggiurkan. Tiap tahun biasanya negara yang bekerjasama relatif sama meskipun kadang ada juga yang sedikit berubah sesuai kebutuhan.

Program PPAN ini antara lain ASEAN Students Visit India (ASVI), Australia-Indonesia youth Exchange Program (AIYEP), Indonesia-China Youth Exchange Program (IChYEP), Indonesia-Canada Youth Exchange Program, Indonesia Korea Youth Exchange Program (IKYEP), Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program (IMYEP), Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP). Penjelasan lebih lanjut bisa klik http://pcmijabar.org/.

Pada tahun 2014 saya pernah mencoba mengikuti seleksi. Apakah saya lolos? Tentu tidak. Kalau lolos, mungkin tulisan tentang pengalaman mengikuti PPAN akan saya posting di blog. Ikut 2 kali seleksi, keduanya selalu gagal bahkan di seleksi administrasi. Saya cukup tahu diri kenapa belum bisa berhasil. Kapasitas saya belum layak untuk diberi kesempatan bersama-sama dengan para pemuda berprestasi dari berbagai daerah, atau paling minimal dari berbagai kabupaten/kota di provinsi saya, Jawa Barat.

Saya dapat banyak pelajaran dari kebelumberhasilan saya lolos seleksi—bahkan di tahap 1, seleksi administrasi. Ternyata mengikuti seleksi program-program bergengsi seperti PPAN harus direncanakan dari jauh-jauh hari. Persyaratan administrasi prosesnya tak bisa dilakukan hanya dalam sehari, seminggu, atau sebulan.

Mengisi formulir administrasi, menulis esai, mungkin bisa. Tapi tentang kemampuan berbahasa, potensi kemampuan seni, pengalaman berkegiatan sosial, kemampuan public speaking, juga prestasi yang diunggulkan kan tidak bisa diraih hanya dalam waktu singkat. Makanya, penting sekali bagi yang berencana mengikuti program ini untuk menyicil tiket-tiket untuk bisa terpilih menjadi orang-orang beruntung ini.

Kalau perlu, les bahasa Inggris intensif dari sekarang. Juga aktif mengikuti kegiatan kerelawanan. Mengambil peran-peran strategis di organisasi. Mulai mempelajari kesenian-kesenian daerah maupun baca-baca tentang kesenian Indonesia secara keseluruhan. Juga mulai tergerak mengasah pengetahuan umum tentang kebangsaan.

Yang terpenting juga jangan lupa untuk rajin-rajin ikut ke acara-acara yang membahas tentang PPAAN ini. Misalnya sharing, talkshow, hingga Open House PPAN ini sendiri. Yang terakhir menurut saya adalah yang paling direkomendasikan. Karena di sana segala penjelasan seputar PPAN dibahas tuntas. Tentang gambaran umum PPAN, tips-tips hingga pengalaman dari para PCMI (Purna Caraka Muda Indonesia).

 

Open House PPAN di Graha Kompas Gramedia

Saya tidak terlalu menanti-nanti pendaftaran PPAN 2017 sebenarnya. Tapi ketika ada informasi mengenai open house PPAN di berbagai media sosial menandakan pembukaan seleksinya memang sebentar lagi akan segera dimulai jujur menggelitik rasa penasaran saya. Saya pun langsung registrasi waktu tahu kalau ada 2 alumni PPAN Jabar yang akan berbagai mengenai pengalamannya ikut PPAN. Masing-masing adalah teh Susan, dan Kang Ega  (nama lengkapnya Endang Ghani A.). Lalu di beberapa hari sebelum acara ada penambahan pembicara, yakni kang Karim. Adanya kang Karim di sharing session ini membuat saya kian punya alasan kuat untuk mengikutinya.

Sebelumnya, saya mengikuti acara Youth Action dari Youtful Social yang salah satu pematerinya kang Karim sebagai Executive Director of Sahabat Pulau pada tanggal 9 April 2016. Salah dua dan tiganya kang Panji Ajiz Pratama sebagai Founder of NGO Istana Belajar Anak banten, dan mba Anindya Restuviani sebagai Project Office Crative Save the Children. Waktu itu saya mulai menaruh simpatik padanya. Karena masih muda dan juga sangat peduli pada Indonesia. Terlebih juga sebenarnya karena ia orang Tasik, meskipun bukan orang kabupaten, tapi orang kota. Sementara saya asli kabupaten Tasik. Tidak terlalu masalah. Yang penting ada embel-embel Tasik. He.

Hari Minggu pun tiba. Saya seperti tak berniat untuk datang. Buktinya pagi-pagi sekitar jam 7 bersama teman-teman malah pergi ke Saung Semesta untuk membuang sampah sisa kegiatan Planet Antariksa yang kemarinnya kedatangan tamu dari Himpunan Mahasiswa Manajemen STIE Ekuitas Bandung. Lalu, dilanjut untuk makan bubur ayam mang Jeki di belakang kolam renang UPI. Harusnya, kalau saya benar-benar niat ikut open house PPAN, saya sudah mandi sedari pagi karena acaranya mulai dari jam 9.

Tiba di kosan ternyata jam 9.01 kurang lebih. Dan kenapa saya santai-santai saja, karena pihak panitia tidak memberikan konfirmasi apakah saya termasuk peserta yang bisa ikut open house atau tidak. Tapi tiba-tiba ada teman yang bertanya via line apakah akan hadir atau enggak. Saya pun jadi memutuskan untuk ikut. Saya nunggu sampai sekitar jam 9.30 karena ingin mengajak pergi bareng teman saya. Namun karena katanya enggak ada kuota, line saya enggak dibalas lagi (ini diketahui pas ketemu di lokasi acara).

Setelah sebelumnya bertanya ke panitia via IG, akhirnya meskipun telat, saya masih bisa ikut acara dan sangat ditunggu katanya. Ya sudah, saya pergi sendiri. Jok di belakang masih kosong. Enggak ada teman, engga ada kamu. Bukan teman saya yang tadi yah, tapi kamu. Kamu wen pokoknya mah. Abaikan bagian ini, he.

Sekitar jam 10 saya tiba di gedung Kompas. Setelah registrasi ulang, saya pun masuk ke ruang duduk di kursi kosong sebelah kiri baris ke-3. Bertepatan dengan saya duduk, di depan sedang berlangsung penjelasan mengenai teknis seleksi PPAN tahun ini oleh kang Ega. Tapi saya hanya mendapat penjelasan yang sedikit. Untungnya kakak MC mengadakan tantangan kepada peserta untuk mengulas kembali penjelasan mengenai seleksi. Saya jadi cukup tahu walau tak banyak. 

Penjelasan mengenai seleksi PPAN 2017 oleh kang Ega

Sebelum berlanjut ke sesi berbagai, MC memanggil para alumni PPAN yang hadir untuk ke depan. Masing-masing dari mereka memperkenalkan diri, berasal dari kabupaten mana, program beserta angkatannya. Bagian ini tak kalah menginspirasi. Di depan sana ada pemuda-pemuda yang telah mengharumkan keluarga, kabupaten, hingga Indonesia di kancah dunia.

Pengenalan alumni PPAN berbagai angkatan dan negara tujuan. 

 

Sharing Session About PPAN

Sesi ini dimoderatori oleh kang Rendi (perwakilan dari Kab. Bogor). Untuk programnya saya lupa lagi. Tapi mantep menjalankan tugas mengatur jalannya sharing. Enggak krik-krik. Kang Rendi mulai memanggil masing-masing keynote speaker dari mulai teh Susan, kang Ega, terus yang terakhir kang Karim untuk duduk di kursi sofa yang telah disediakan. Ketiganya masing-masing angkatan program di tahun 2012, 2013, dan 2012.  

Sebagai informasi, teh Susan adalah alumni SSEYAP (Kapal Pemuda Jepang) angkatan 2012. Nilai IELTS-nya tinggi banget. Disebut oleh moderator sebesar 8,5. Terus diralat sama teh Susan, tapi saya enggak dengar jelas. Kisaran 8 kalau enggak salah. Selain itu, teh Susan juga awardee LPDP PK 2 dan kuliah di RMIT Australia. Bisa dibayangkan, berarti si teteh awardee di angkatan awal-awal. Bandingkan dengan kang Karim, dia awardee PK 102. Selisih 100 angkatan. Beda sekitar 3 tahunan. Begini nih kalau orang keren mah, udah jadi alumni program kece, juga dapat beasiswa yang sekarang sedang digandrungi anak muda. Bisa dibayangkan sendiri kualitas diri mereka.

Berfoto dengan teh Susan

Selanjutnya, kang Ega adalah alumni IChYEP (Program Pemuda Indonesia-Tiongkok) yang juga tak kalah keren. Ia pun memperoleh kesempatan mengikuti program dari Erasmus + untuk belajar di Burgas Free University, Bulgaria. Sewaktu terpilih menjadi wakil dari kabupaten Bekasi untuk mengikuti program, kang Ega belum kuliah. Ia waktu itu masih kerja. Tapi tidak dijelaskan mengapa pilihan itu yang ia ambil. Sekarang kang Ega masih kuliah, dan bentar lagi skripsi karena kemarin selama 10 bulan ke Bulgaria tea. Hebat kagak bray?

Yang terakhir kang Karim. Kang Karim adalah alumni ICYEP (Program Pemuda Indonesia-Kanada) Durasi program ini selama 6 bulan. 3 Bulan fase Kanada, dan 3 bulan lagi fase Indonesia. Untuk fase Indonesianya bertempat di daerah Garut. Bersama partner dari negara lain, kang Karim menjalankan program di sana. Lalu, beberapa bulan yang lalu ia pun berkesempatan menjadi awardee program STARS, Erasmus + (EVS) Tenerife, Spanyol. Beuh, keren pisan si akang ieu.

Berfoto dengan Kang Karim

Ada beberapa poin yang saya tangkap tentang arahan mengenai PPAN dari para pemateri. Menurut kang Karim untuk mengikuti PPAN kita harus mengenali diri lebih dalam. Mengetahui potensi diri kita serta kecenderungannya ke arah mana. Lalu juga berupa arahan untuk menceritakan apa yang telah dilakukan. Bercerita mengenai hal yang dilakukan berarti tidak bisa dikarang-karang, melainkan benar-benar harus mengalami sendiri. Berarti memang harus banyak-banyak gaul dalam rangka berbuat sesuatu pada negeri ini.

Kang Ega kemudian menjelaskan kunci dirinya bisa lolos program ke China. Menurutnya, ia percaya diri saja terhadap kemampuannya juga enggak tahu diri. Maksudnya ia kan waktu itu belum kuliah, tapi karena memiliki hal lain yang diunggulkan akhirnya ia pun diberangkatkan pada tahun berikutnya sebagai angkatan pertama program Indonesia-Cina.

Kemudian biasanya ada sistem penambahan kuota. Apalagi Jabar memiliki kepercayaan tersendiri dari tahun ke tahun. Nah, kalau enggak salah, kang Ega juga langsung dihubungi kang Karim yang waktu itu sebagai tim penyeleksi, entah diseleksi lagi atau langsung ditarik. Tapi ini bukan karena kedekatan tersendiri yah, namun memang data base mengenai para peserta seleksi memang tersimpan rapi. Ketika ada yang mengundurkan diri atau penambahan kuota, dengan mudah bisa dikondisikan. Dan mungkin inilah salah satu yang dinamakan jodoh.  

Menurut kang Ega, PPAN adalah tempat orang-orang yang memiliki space dalam dirinya untuk berkembang. Wajar saja kalau ada beberapa orang yang dinilai pantas untuk lolos namun kenyataannya tidak. Karena kalau seseorang sudah keren, tanpa difasilitasi lewat PPAN pun bisa sendiri. Senada dengan itu, teh Susan pun berpesan untuk jujur dan menjadi diri sendiri serta jangan berpura-pura dalam proses seleksi. Intinya, lakukan yang terbaik, do your best selama mengikuti seleksi ini.

Mengenai gambaran umum kegiatan selama program dijejaskan oleh masing-masing pembicara. Teh Susan misalnya, di program Kapal Pemuda Jepang dikumpulkan bersama orang-orang dari negara lain untuk diakrabkan dan making friends. Di sana berbagai aktivitas digelar seperti menampilkan tarian-tarian masing-masing negara, bernyanyi, olahraga pagi rutin dan lain-lain.

Menurut teh Susan, program ini seperti menciptakan dunia sendiri di atas kapal, karena memang kegiatannya dominan di atas kapal Jepang tersebut. Sesekali singgah di suatu tempat, baik 1,2, hingga seminggu untuk selanjutnya melanjutkan ekspedisi. Momen paling mengharukan sebagaimana disebutkan teh Susan adalah ketika harus berpisah dengan warga-warga yang tempat tinggalnya disinggahi. Jadi, berdasarkan video yang ditayangkan memang para warga mengantarkan para pemuda di program ini di pelabuhan. Suasana haru, juga lambaian tangan menghiasi pelabuhan setiap kapal akan kembali mengarungi samudra.

Untuk program IChYEP, menurut kang Ega beberapa kegiatannya antara lain berkunjung ke kementerian pemuda dan olahraganya Cina, melakukan kunjungan ke beberapa instansi dan perusahaan, berkunjung ke google-nya Cina (Baidu), berkunjung ke Youth and Media(institusi media yang besar dan berisi anak-anak muda Cina untuk menayangkan kreativitas mereka di sana). Selain itu, peserta program ini pun mengunjungi sebuah kota kecil di Cina (saya lupa) untuk melihat pusat UMKM di Cina seperti pengrajin kaligrafi Cina, pabrik pengolan gabah dan lainnya.

Lalu terakhir berkunjung ke Guangzhou. Di sana ada pusat tempat latihan olahraga. Kang Ega menjelaskan bahwa kenapa Cina selalu unggul dalam hampir seluruh cabang olahraga, karena memang setiap hari Sabtu dan Minggu para orang tua membawa anak-anaknya ke sana untuk berlatih olahraga sesuai minatnya masing-masing. Anak-anak tersebut berlatih dari mulai usia 6-7 tahun dan dipersiapkan untuk menjadi profesional di bidang itu untuk mengikuti Olimpiade. Di samping itu, ada jalan-jalan juga ke tembok besar Cina, Forbidden Kingdom, dan lain-lain.

Sementara itu, untuk program di ICYEP, menurut kang Karim setiap peserta dipasangkan dengan peserta dari negara lain. Sebutannya apa gituh, saya tak ingat. Tapi ini seperti pacar karena harus tahu segala hal tentangnya, namun tak bisa dimarahi, dan satu gender. Selain itu, mereka pun difasilitasi keluarga angkat selama program, baik di Kanada maupun di Indonesia.

Selama di Kanada, kang Karim menjalani magang di sebuah tempat untuk mempelajari pola pendidikan dari tiap jenjang, dari mulai pre school sampai senior high school. Jadi tiap hari Senin-Rabu kegiatannya ngantor: ikut meeting baik bertemu dengan Walikota juga kepada Dinas Pendidikan, kemudian hari Kamis biasanya melakukan FGD dengan tema-tema yang ditentukan sebelumnya dan menarik untuk dibahas. Untuk hari Sabtu-Minggu biasanya jadwalnya main. Misalnya nonton, main hockey atau iceketing atau kegiatan bersantai lainnya.

Untuk 3 bulan fase Indonesia program ini berlangsung di daerah Garut. Seperti ketika fase di Kanada, kang Karim beserta peserta lain pun tinggal di rumah ketua angkatnya. Bedanya kalau di Kanada fasilitas yang didapat bagus, kalau di sini ya sederhana saja. Berbeda 180 derajat. Misalnya tempat tinggal kang Karim dan partnernya di Garut ini hanya memiliki toilet jongkok dan terletak di luar rumah juga tanpa penerangan.

Ada satu cerita menarik mengenai fase yang di Indonesia ini tentang temannya kang Karim itu. Jadi temannya makan sambel mendekati malam, dia itu sok-sok-an ceritanya kalau dia suka sama sambel. Lalu di tengah malam perutnya mulas dan minta bantuan kang Karim untuk BAB. Karena kondisi toiletnya yang seperti saya ceritakan sebelumnya, kang Karim pun harus menunggu tepat di depan tempat BAB itu untuk menyinari tempatnya yang gelap. Sebuah pengalaman yang tak bisa terlupakan katanya.

Pembicaraan selanjutnya membahas mengenai mitos selama program, hal-hal yang berkesan selama program, apa yang berubah setelah mengikuti PPAN, kendala selama pra maupun ketika pelaksanaan program, hingga informasi mengenai kemungkinan-kemungkinan selama pelaksanaan seleksinya, seperti penambahan kuota. Dijelaskan pula benefit mengikuti kegiatan ini. Misalnya kang Karim mengikuti program Erasmus + di Spanyol pun dapat link dari anggota PCMI. Pun begitu halnya dengan kang Ega.

Nah itu barangkali apa yang bisa saya jelaskan ulang tentang Open House di hari Minggu tanggal 12 Maret kemarin. Masih banyak hal-hal menarik lainnya sebenarnya. Tapi saya kira itu pun sudah cukup memberikan rasa penasaran bagi kita untuk mencoba mengikuti seleksinya. Siapa tahu kita berhasil terpilih menjadi pemuda yang mewakili Indonesia pada program PPAN ini.

Saya merekam sharing session ini. Jadi kalau teman-teman ada yang tertarik, silakan kontak saya saja. Asli, ini informasi yang penting buat kita-kita yang suka sama hal-hal baru dan menantang diri kita untuk maju.

Sampai jumpa di jurnal selanjutnya. Komentar teman-teman sangat saya nantikan sebagai feedback buat saya. Hatur nuhun.

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 13-14 Maret 2017

 

sumber gambar: dokumentasi pribadi

Muhammad Irfan Ilmy

Tentang Open House PPAN Jawa Barat 2017

Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian dipublikasikan 20 Maret 2017
Ringkasan
Sebenarnya banyak sekali program yang bisa diikuti baik ketika masih SMA, kuliah, maupun sudah tak menjadi mahasiswa lagi baik yang berbayar atau yang full dibayari. Tapi tak dipungkiri, ternyata hanya segelintir orang saja yang mau berlalah-lelah mencari informasi .
Dilihat 59 Kali