Tentang Mencari

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 2 bulan lalu
Tentang Mencari

Akhir-akhir ini aku dipertemukan dengan beberapa penulis muda yang karya tulisannya bagiku sendiri begitu mengagumkan. Tapi bukan bertemu secara fisik. Hanya menemukan karya-karyanya di dunia maya, seperti misalnya kang Dhiora Bintang (dhioradanbintang.blogspot.com). Ia adalah pemenang Kompetisi Esai Mahasiswa (KEM) Tempo 2011 yang waktu itu masih menjadi mahasiswa di jurusan manajemen Universitas Widyatama Bandung.

Selain esainya yang berhasil memenangkan lomba KEM tersebut (Mengeja Indonesia di Sekolah Persatuan), salah satu tulisan yang bagiku berkesan adalah tentang aktivitas kerelawanan. Tulisannya berjudul Mentari dari Ciburial. Karena ini cukup menjadi tamparan bagiku yang sekarang sedang bergiat di komunitas anak Planet Antariksa.

Awalnya tujuanku mencari di kolom pencarian google bukan tulisan-tulisannya. Aku sedang mengepoi blog salah satu teman yang meskipun angkatan kuliahnya jauh di bawahku namun pencapaiannya tak bisa dibilang sederhana. Kebetulan ia suka memosting beberapa kegiatan atau esai-esai serta tulisan lain di blognya.

Pada blognya aku melihat blog-blog yang diikuti. Penasaran dengan itu, aku pun melihat beberapa blog yang kukira menarik. Hingga akhirnya aku serasa kenal dengan satu nama yang juga dijadikan alamat blognya karena di awal-awal menulis esai akupun membaca esai juara itu. Awalnya aku mencoba mengingat-ingat kembali karena sudah agak lama. Ingat-ingat lupa. Waktu kulihat, ternyata itu memang blog pemenang lomba esai ber-tag line “Menjadi Indonesia” yang berarti mendingan jangan diam untuk Indonesia. Sontak rasa tertarikku muncul untuk men-scroll tiap-tiap tulisan yang diposting.

Ketika kubaca-baca isinya, aku seperti sedang menemukan harta karun yang isinya barang-barang berharga semua. Di awal-awal masa kuliahnya bahkan tulisan-tulisan kang Dhio sudah ajib pisan. Di setiap tubuh tulisannya terasa ada jiwanya yang hidup. Membacanya serasa ada yang menggedor-gedor ruang diotakku untuk tak berhenti menghabiskan satu judul tulisan dan segera beranjak ke tulisan lainnya.

Aku tak terlalu masalah dengan beberapa diksi yang masih asing. Aku bisa buka kamus untuk tahu makna katanya. Lalu coba memahami konteks kalimatnya. Berlanjut pada memetik pelajaran dari setiap gagasan yang dituliskan. Tak lupa mempelajari caranya menulis supaya membuat pembaca tak bosan. Dan ini justru jadi cara efektif untuk menguasai kosa kata yang baru. Sambil membaca, mengoleksi kata-kata. Sambil menyelam minum energen. Susah. Tapi bagaimana lagi kalau seru? Harus dilanjutkan. He.

Masih penasaran dengan kualitas tulisan-tulisan juara lomba esai dari tempo itu, aku pun coba googling karya dari juara 2 & 3 nya, mba Maula Paramitha Wulandaru dan mas  Achmad Choirudin yang keduanya mahasiswa UGM waktu itu. Untuk keduanya aku hanya menemukan esai mereka di KEM Tempo dan tidak menemukan blog pribadinya. Tak apa. Sepertinya ini hanya masalah waktu saja. Perlahan namun pasti, medianya memosting tulisan akan ditemukan. Kecuali kalau memang benar-benar yang bersangkutan tidak memiliki ketertarikan untuk membuat blog.

Lalu aku melanjutkan pencarian. Aku mencari juara 3 di kompetisi Esai Tempo tahun berikutnya. Aku menemukan tumblr dari mba Sabrina Gita Aninta (sagitaninta.tumblr.com) mahasiswa ITB. Sementara blognya mas Robi Irfania dari Universitas Indonesia sebagai juara 2 tak kutemukan. Lalu kubaca-baca beberapa tulisan mba Gita. Bersyukur sekali cukup banyak juga esai-esai di sana termasuk esai LPDP. Kotak harta karun lainnya mulai ditemukan. Kalau aku rajin mencari, kotak-kotak harta karun lain sepertinya sedang menunggu untuk kutemukan dan kubuka.

Blog lain yang kuanggap layak dikunjungi adalah blognya mas Naufil Istikhari. Ia alumni jurusan Psikologi UIN Yogyakarta. Pertama kali aku baca tulisannya adalah ketika ia menjuari lomba artikel di UPI yang berjudul Solidaritas Oplosan pada tahun 2014 sebagai juara ke-2. Lalu aku pun mencoba mencari blognya dan ternyata ada. Alamat blognya secariksenja.blogspot.com. Pemuda yang menyenangi psikologi dan filsafat ini sudah malang melintang menjuarai berbagai lomba menulis.

Yang membuatku lebih tertarik karena mas Naufil alumni dari pondok pesantren An-Nuqoyah, Madura. Sebuah pesantren di wilayah Timur sana yang juga terkenal dalam bidang literasi sehingga melahirkan banyak penulis maupun penyair hebat. Kece lah. Santri yang kemampuan nalarnya luar biasa.  

Setelahnya, aku jadi bertanya-tanya sejak kapan mereka mulai menulis, dari kapan mereka suka membaca, sejak kapan mereka suka bertukar pikiran, sejak kapan mereka mulai turut serta mengentaskan permasalahan sosial, sejak kapan mereka mulai mengasah rasa mereka? Seperti yang kutulis di snapgram-ku hari Jumat tanggal 10 Maret pukul 9.0-an bahwa aku serasa sedang dibelajarkan lewat dipertemukannya dengan berbagai karya yang berkelas dari anak-anak muda berkualitas. Dan aku seperti dibukakan mata bahwa sejauh ini belum melakukan apa-apa. Masih banyak pekerjaan rumah untuk terus belajar kalau ingin mengasilkan karya-karya yang layak dibaca.

Memang aku sepakat dengan ketiga orang yang mengatakan (Pak Karim, Pidi Baiq, dan Kang Puji Prabowo) bahwa bersaing itu jangan dengan orang lain, tapi hendaknya dengan diri sendiri. Itu juga yang dipesankan baginda Rasul. Karena memang berkelahi dengan diri sendiri merupakan lawan yang terberat dibanding lawan-lawan lainnya. Tapi, bagiku bercermin ke pengalaman dan pencapaian orang lain juga bagian dari mengusahakan aku untuk mengubah diriku. Kadangkala berlari sendiri tak memacu adrenalin lebih bergejolak. Lain halnya ketika berlari dengan dua atau banyak orang. Bahkan tanpa dan dengan ketika dikejar anjing akselerasi berlari kita jadi berbeda bukan?

Semoga saja memang benar, dengan diperjumpakan kepada para penulis yang memiliki cara berpikir cemerlang, memiliki gairah baca yang dahsyat, serta ujungnya mampu meramu opini serta sudut pandangnya terhadap sebuah persoalan, aku jadi tergerak untuk belajar lebih banyak. Lebih bagusnya juga timbul keinginan untuk berkarya lebih total dan pantang menyerah. Bukan justru terperosok di lubang rasa minder yang jangankan untuk menulis secara bagus, malah tak selera sama sekali untuk mencoba menulis dengan cara yang baik.

Aku soalnya pernah mengalami virus untuk enggan menulis cerpen gegara baca beberapa tulisan dari sang maestro cerpen, Seno Gumira Ajidarma. Hal ini pun masih berlaku sampai sekarang. Aku sulit terlepas dari bayang-bayang merasa tidak pantas untuk menulis cerita pendek. Sebagai pelarian, aku lebih banyak menulis tulisan dalam bentuk esai.

Karena mungkin referensinya masih agak sedikit, awalnya aku cukup percaya diri untuk lebih produktif dalam bentuk esai. Namun saat ini seiring satu persatu tulisan yang berbobot tinggi berupa esai atau opini kubaca, perasaan yang sama tentang merasa rendah diri untuk menulis cerpen pun pelan-pelan mulai menghantui. Ah…tidaaak.

Tapi aku harus melawannya. Itu barangkali ketakutan yang wajar melanda para-para penulis yang baru menapaki jejaknya semacam aku. Harus kulalui kalau memang mimpi sebagai penulis ingin diwujudkan.“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”Begitu kata Allah dalam Qs. Al-Ankabut ayat 2. Prinsip yang sama mengenai kandungan ini sepertinya cocok bagi kasus yang menimpaku dan juga penulis amatir lainnya. Bahwa dalam proses mengklaim diri sebagai penulis akan menemukan ujian-ujian yang sesuai dengan kadar kesungguhannya menulis.  

Pencarian yang terus menerus akan mengantarkan kita pada menemukan. Kalaupun tidak sampai pada sesuatu yang dituju paling tidak kita akan berjumpa dengan kemungkinan-kemungkinan luar biasa yang sebelumnya bahkan tak pernah disangka.

Itu pelajaran yang kudapatkan dari proses riset kecil-kecilan menemukan tulisan-tulisan yang ditulis tak secara asal-asalan. Ternyata dalam aktivitas mencari memang kita tak hanya akan bertemu dengan sesuatu yang dituju, tapi juga diberi bonus hal-hal yang memang pantas untuk diketahui dan memperkaya kapasitas kita. Meski ada syarat yang harus dipenuhi. Kita harus merasa terus kosong dan menyediakan ruang dalam diri untuk tak pernah merasa puas akan ilmu, wawasan, juga pemahaman. Jika syarat itu ditunaikan, keajaiban-keajaiban dengan serta-merta ia akan datang menghampiri.

Formula tentang mencari ini pun nampaknya berlaku untuk perkara-perkara lain. Pekerjaan, masa depan, juga jodoh. Ah, jodoh lagi jodoh lagi. Bosan. Tapi memang tentang hal itu tak pernah enyah dari kepalaku. Lupakan! Fokus dengan poin mencari saja ya!  Mencarilah kawan, mencarilah dan jangan pernah menyerah!

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 11-12 Maret 2017

 

sumber gambar: qitaqita.com

Dilihat 49