Literasi Di Era Digital Saat Ini

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Maret 2017
Literasi Di Era Digital Saat Ini

Hal-hal yang berbau menulis, baca, berdiskusi selalu saja membuat ketertarikan saya untuk membaca, mempelajari, atau mengikuti acara yang yang berkaitan tentangnya. Tema literasi kalau saya ibaratkan kuliner adalah masakan padang. Rasanya itu gurih dan bikin nagih. Kala lidah ini enek untuk mencecap nasi dengan lauk yang itu-itu saja, nasi padang dengan beragam lauknya, sebut saja misalnya rendang, selalu sukses membuat air liur saya terproduksi lebih banyak. Nafsu makan saya normal kembali. Begitulah literasi bagi saya.

Kali ini (Jum’at, 10 Maret 2017) HIMA Satrasia UPI Bandung bersinergi dengan Smart Fren melalui Corporate Social Renponsibility-nya juga Relawan TIK Bandung menggelar sebuah acara yang dikemas santai perihal menulis dikaitkan dengan era digital. Tentu ini berkaitan erat dengan dunia literasi.

Ini bagian nyata dari campaign mengajak generasi muda, dalam hal ini mahasiswa untuk menengok kembali sejarah bahwa ketiga aktivitas literasi di atas telah diteladankan oleh pendiri bangsa ini. Dengan membaca, berdiskusi, dan menulis, mereka tidak hanya berhasil melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, namun juga berhasil menransfer pemikiran berisi perubahan bagi generasi yang jauh setelahnya.

Tanpa menulis buku misalnya, apakah kita masih bisa mengetahui apa gagasan-gagasan besar Soekarno? Apakah kita akan tahu konsep-konsep kenegaraan versi Hatta? Apakah kita akan bisa mengikuti jejak emansipasi yang diusung Kartini? Yang ada kita akan terombang-ambing dalam kondisi zaman yang serba edan ini karena tak ada rujukan berupa arah perjuangan.

Ketika tahu ada info diskusi itu, saya tak berpikir panjang lagi, saya langsung mendaftarkan diri. Ditambah lagi acaranya free entry yang sangat cocok sekali bagi mahasiswa seperti saya. Iming-iming Mifi & Smartphone Smart fren juga tak ketinggalan menjadi salah satu motivasi untuk mengikuti acara ini. Tapi jujur, alasan terbesar saya mengikuti acara ini adalah ingin mendengar paparan materi dari kang Zulfa Nasrullah. Entah kenapa, serasa ada magnet besar yang membuat saya harus mendengarkannya. Ada semacam wangsit kalau pemateriannya bakal keren.

Dan ternyata, ekspektasi saya terbukti. Realitanya membuat saya tak merasa rugi datang ke acara itu. Penuturan kang Zulfa bikin saya terperangah. Tiap hari baca berapa jam? Tiap hari menulis berapa halaman? Tiap hari berdiskusi berapa lama? Mulutnya seperti mesin pencetak kalimat-kalimat sarat makna dan gurih dikonsumsi. Saya lalu pulang dengan kembang senyum yang merekah sebagai bentuk kepuasan dan tiba di kosan dengan bermacam resah yang membuncah. Saya belum berbuat apa-apa bagi Indonesia. Dan mungkin juga saya belum layak memperoleh gelar sarjana. Duh.

Setelah acara dibuka, dilanjut dengan pembacaan tilawah Alquran agar lebih berkah, perwakilan dari Departemen Bahasa Indonesia menyampaikan sambutannya. Isinya berupa kegembiraan atas diprakarsainya acara yang disingkat Disahara ini. Ini adalah ajang untuk menyebarkan virus mencintai aktivitas tulis-menulis di kalangan insan akademik terutama mahasiswa.

Acara ini terbagi menjadi tiga sesi. Pertama adalah sesi penulisan karya tulis ilmiah. Kedua, sesi mengenai peluang dari pemanfaatan 4G di era saat ini kaitannya dengan karya. Dan yang terakhir adalah sesi mengenai penulisan sastra & pemanfaatan internet beserta problem yang ada serta solusinya.

Pemateri sesi penulisan karya tulis ilmiah ini adalah Dr. Yulianeta, M.Pd. yang juga merupakan dosen sekaligus Sekretaris Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pengalamannya yang malang melintang dalam hal menulis ilmiah membuat pematerian kali ini begitu menarik dan tidak membosankan. Materi jadi mudah diserap dengan mudah. Keikutsertaannya dalam beberapa konferensi baik nasional maupun internasional membuat peserta termotivasi untuk ikut mencoba menulis karya ilmiah dan mempublikasikannya.

Di sesi ini pemateri mengawalinya dengan menjelaskan tentang menulis secara singkat. Lalu dilanjutkan dengan kenapa harus menulis beserta benefit-nya bagi kita. Kemudian dipaparkanlah mengenai teknis-teknis menulis karya ilmiah secara detail disertai penjelasan-penjelasan untuk memudahkan peserta diskusi memahaminya.

Sesi berikutnya memperbincangkan mengenai peluang jaringan 4G LTE untuk menunjang kelancaran aktivitas kita di zaman yang serba cepat saat ini. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan jaringan ini adalah E-marketplace, menulis blog, dan menjadi seorang youtubers. Ketiganya apabila diseriusi akan mendatangkan timbunan uang yang berlimpah. Syaratnya dua, serius dan tidak pantas menyerah.

Sesi 2, penjelasan tentang pemanfaatan teknologi 4G oleh kang Andhika Cahyarifian (Team Product Smartfren) & kang Angga Anggara (Team Network Smartfren)

 

Sebelum sesi terakhir ada hiburan berupa pertunjukan musik dan penampilan stand up comedy. Tapi saya tidak menyaksikannya karena masih di masjid Alfurqon. Nah, di sesi terakhir, seperti yang saya sebutkan tadi adalah tentang pembahasan mengenai penulisan kreatif sastra yang diisi oleh kang Zulfa lalu diteruskan oleh pemateri ke-2 yaitu kang Lathif sebagai relawan TIK Bandung. Kang Lathif ini juga tak lain adalah teman kang Zulfa di UKM ASAS UPI. Mereka terlihat akrab dan tidak canggung.

Dari sekian sesi, yang paling berkesan bagi saya tentu pematerian di sesi terakhir. Penyajiannya beritu menarik karena penguasaan materinya begitu mantap. Peserta pun diberi hardfile tulisan kang Zulfa yang berjudul “Yang luput dari Peneliti Bahasa dan Sastra Kita.” Tulisan inimerupakan acuan dalam penjelasan materinya.Ternyata ada masalah yang begitu serius dalam ruang akademik kita saat ini, dan itu kompleks. Butuh pembenahan secara sistematis.

Sesi 3 pematerian oleh kang Zulfa (kritikus sastra) & kang Lathif (Relawan TIK Bandung)

 

Acara-acara semacam ini harus terus digalakan dan menjamur di kampus yang diadakan oleh banyak kalangan. Ormawa-ormawa maupun jurusan-jurusan hendaknya memiliki keseriusan untuk ambil bagian dalam mengentaskan masalah literasi pada bangsa ini. Minat baca, diskusi, bahkan menulis yang kurang diminati tak boleh dianggap bukan apa-apa dan justru harus dipandang sebagai penyakit menular yang akut. Pembiaran berkepanjangan akan berakibat fatal. Akan merusak organ vital bangsa ini berupa generasi muda yang fungsinya demikian sentral dalam kelanggengan sistem keorganisasian maha besar negara kita.

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 11 Maret 2017

 

sumber foto: dokumentasi pribadi.

Dilihat 101