Tidak Ada Yang Tahu Kecuali Kita

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Maret 2017
Tidak Ada Yang Tahu Kecuali Kita

Suka bisa dibaca dari berbagai tanda-tanda tersurat maupun melalui bukti yang hanya sekilas terlintas. Orang yang tengah terpusat pikirannya pada yang disukai selalu mencari jalan pengekspresian atas perasaannya. Macam-macam pengungkapan dipilih oleh mereka yang sedang jatuh cintanya, terperangkap akal sehatnya. Menulis misalnya.

Orang-orang yang sedang dalam pengaruh cinta seakan mendapatkan ilham mahahebat untuk mencurahkannya dalam kalimat-kalimat indah, dalam bait-bait puisi yang menggugah. Semua hal tentang yang dicintainya menjadi hulu inspirasi tiada henti bagi tulisannya. Sekecil apapun mengenai pujaan hatinya sangat menarik untuk diperbicangkan dalam paragraf-paragraf penuh makna.

Saat sesuatu yang menyenangkan terjadi, maka tulisan bernada optimisme yang hadir. Sementara ketika hal ada pilu yang sedang membelenggu, maka tulisan berjiwa kebencian yang mengemuka. Berhati-hatilah, cinta memiliki kuasa untuk mengendalikan.

Oleh karenanya, radar pikiran sadar harus terus diaktifkan untuk mengawal cinta. Tak boleh cinta membuat telinga kita tuli dan mata kita buta. Walau sebenarnya itu hampir mustahil adanya. Cinta membuat telinga tak bisa mendengar, dan mata tak lagi mampu melihat bukanlah sebuah dusta. Kita mungkin hanya bisa meminimalisirnya. Cinta memang diciptakan untuk memperdaya.

Isyarat tentang cinta juga suka pun bisa dibaca dari gerak-gerik manakala yang mencinta bertemu dengan yang dicinta. Mulut yang biasanya lancar berbicara tetiba seolah dibungkam penjahat tak berperikemanusiaan. Tak lancar mengeluarkan suara. Mata seperti kelilipan, tak fokus melihat ke depan. Begitulah cinta bekerja. Membuat yang biasa menjadi nampak asing dibuatnya. Cinta membuat ketakwajaran-ketakwajaran dalam kehidupan.

Tanda berikutnya begitu kentara manakala yang kita suka berdekatan dengan yang bukan kita. Api cemburu seolah menyala sangat hebat. Membakar apa-apa yang ada di dalam diri kita, hati terutama. Seperti ada jarum tajam yang bersekongkol dengan api yang berkobar untuk menusuk-nusuk jiwa.

Cinta membuat yang dicinta ingin selalu dekat-dekat dengan yang mencinta. Tak boleh ada yang lain di antaranya. Kemesraan hanya boleh menjadi milik berdua. Yang lain hanya boleh melihat dari kejauhan.

Orang-orang boleh menduga siapa yang kita cinta. Sebenarnya, jauh di kedalaman hati, ada sebuah ruang yang hanya bisa diketahui oleh kita dan Pencipta. Orang-orang tak dilarang untuk menerka-nerka siapa dia. Namun, kita sendiri yang berhak menentukan kepada siapa kita melabuhkan cinta. Orang-orang itu hanya sebagai penonton. Tidak berhak mengintervensi jalannya cerita kita. 

Boleh jadi kita seperti mencinta dia karena kedekatan yang seperti menjadi tanda. Ternyata tak bisa  seperti itu dengan serta merta. Hati kita yang tahu kenyataan sebenarnya. Mungkin itu hanya sebagai pengalihan saja atas kekhawatiran diketahui siapa sesungguhnya yang kita suka. Karena ketika tak ada kemampuan menindaklanjuti, berterus terang atas apa yang dirasakan hanya akan membuat yang sebelumnya biasa, menjadi beda. Dan itu adalah sebenar-benarnya bencana.

 

sumber gambar: Pixabay.com

Dilihat 150