Yang Ditinggalkan Begitu Saja

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Maret 2017
Yang Ditinggalkan Begitu Saja

“Seiring dengan berjalannya waktu, hanya blogger yang benar-benar tekun, passionate, dan konsisten yang akan bertahan dan diterima.”

– Ndoro Kakung, Ngeblog dengan Hati

 

Blog yang ditinggalkan begitu saja berpuluh hari apakah juga akan ditinggali mahluk yang katanya halus? Kalau betul, pegimane? Kasihan blog kita. Itu juga rumah dalam satu definisi tertentu. Disebut rumah barangkali karena ia memang nyaman untuk ditinggali. Bukan secara fisik tapi ditinggali oleh produk-produk pikiran juga perasaan kita.

Aku membayangkan kalau blog adalah makhluk berperasaan yang tugasnya menampung tulisan-tulisan, gambar, juga video mengenai apa yang dikehendaki tuannya. Dibuat dengan penuh kebanggaan pada awalnya. Diisi beberapa postingan lalu dengan berbagai dalih ditinggalkan begitu saja. Persis seperti peribahasa “Habis manis sepah dibuang”. Sesudah tidak enak untuk dikunyah, lantas dienyahkan begitu saja. Setelah dirasa bosan, ada yang baru, dengan mudah pindah ke lain hati. Pasti hatinya hancur sekali.

Aku melakukannya juga. Blog dengan domain blogspot tidak tersentuh lagi setelah aku menemukan kenyamanan di wordpress dan rajin mengisinya dengan tulisan-tulisan yang sebenarnya sisipan curhatan. Aku merasa bersalah dengan dia (blogspot itu). Maafkan.

Jadi berpikir menghapusnya saja daripada membiarkan dia terkatung-katung di dunia maya dengan tanpa didandani sedemikian rupa. Sendirian menanti putusan apakah akan ditalak atau digantung statusnya. Katanya, dibiarkan tanpa kejelasan adalah kepedihan yang tiada akhir. Aku cukup sepakat. Aku pun ngeri kalau mengalaminya. Naudzubillah. Mungkin lebih baik dihengkangkan saja ia dari semestaku. Itu opsi paling mungkin yang bisa kulakukan untuk berhenti menzalimi blogku yang satu itu. Tunggu aku!

Bila kita bisa berlatih urusan kesetiaan dari mana saja, maka menulis di blog adalah salah satu yang bisa dilakukan. Salah lainnya silakan cari sendiri! Kita bisa melatih jiwa produktif dengan rutin memposting sesuatu. Silakan apa pun itu.

Kita bisa mengasah mengenai loyalitas dengan tidak angin-anginan menulis semaunya. Tapi juga harus dipaksakan. Dipaksakan, betul sekali. Orang-orang begitu ambisius ingin digelari writer, tapi memang aku setuju dengan perkataan kang Fahd, jangan-jangan kita lebih layak disebut waiter. Banyak alasannya ketimbang aksinya.

Salah satu kesukaanku tentang aktivitas blogging adalah mencari-cari blog dengan tingkat keseriusan tinggi dalam mengelolanya. Aku melihat berapa banyak postingan perbulan sampai total pertahunnya. Malu sekali kalau ternyata jumlah postingan blogku bolongnya lebih banyak dari yang seharusnya rapat dengan judul-judul tulisan yang bermanfaat.

Kemana terus selama ini sampai segitu tidak sempatnya menulis barang beberapa saat saja? Sibuk juga tidak. Bahkan justru banyak waktu yang terbuang dengan percuma. Memalukan.

Aku adalah pengagum diam-diam dari beberapa blog yang isinya membawa pada arah kebaikan. Sebagian aku ceritakan kepada orang-orang agar mereka juga merasakan apa yang aku rasakan setelah membacanya. Sebagian lainnya aku simpan sendiri. Tidak merasa perlu supaya orang-orang tahu.

Hal yang sama juga sangat mungkin berlaku bagi pembaca blog kita. Mereka diam-diam menunggu postingan kita yang teranyar, tapi tidak berbuat banyak bahkan sekadar menagihnya dari kita lantaran malu. Maka tugas kita lah untuk menyadarinya. Berusaha lebih peka.

Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang kadar kesetiaannya enggak ketulungan. Menyetiai memakmurkan blog salah satu indikatornya. Ini tulisan autokritik bagi diriku sebenarnya. Tidak untuk menyindir siapapun. Adapun ada yang merasa tertampar, ya Alhamdulillah. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 2 Maret 2017

sumber gambar: Doz.com

  • view 63