Efek Magis Menulis

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Maret 2017
Efek Magis Menulis

“ Menulis itu mudah. Tapi bagaimana agar tiap huruf berarti dan bisa membuat pembacamu bergerak ke arah yang lebih baik, tanpa kau gurui.”

– Helvy Tiana Rosa

 

Ada tulisan yang bikin kangen untuk membacanya, entah kenapa. Mau panjang atau pendek, tidak terlalu mempengaruhi semangat untuk terus melahap isi tulisannya. Di lain sisi, ada juga yang sama sekali tak menarik untuk dituntaskan dibaca karena cara penuturannya tak sesuai selera, juga karena kontennya membosankan. Kukira ini disebabkan efek magis dari ketulusannya menulis.

Hati yang terlibat ketika menyusun kata-kata mana saja untuk disandingkan, ditambah niat tulus waktu menuliskannya adalah semacam semen yang merekatkan bangunan tulisan menjadi kuat. Menjadi tulisan yang tidak hanya selesai sekali baca dalam artian cepat terlepas dari ingatan begitu saja. Tapi meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Tinggal dalam pikiran dan membentuk alur-alur baru rasa ingin tahu. Menciptakan rasa penasaran atas apa yang dituliskan sehingga menggerakkan pembacanya melakukan hal yang penulisnya kehendaki.  

Tulisan memang merupakan penggambaran karakter si empunya. Tidak 100 persen, mungkin sepersekian persen saja. Karena semua yang dirasakan, dipahami, dipikirkan ada dalam kendali penulisnya sendiri, apakah mau orang-orang banyak jadi tahu atau tidak. Itu wilayah kehendak pribadi. Namun setidaknya lewat tulisan bisa menjadikan sebuah kata kunci untuk mencoba menebak-nebak cara berpikir, kepribadian, atau kecenderungan si penulis. Sedikit banyak tulisan akan membantu kita menganalisis sebaik atau setidakbaik apa seseorang.

Tulisan yang dianggap baik akan menimbulkan efek candu untuk terus dan terus membaca karya-karya berikutnya. Ada ekspektasi yang mengemuka terhadap yang selanjutnya akan dituliskan. Pengalaman bermacam-macam seperti bahagia, tercerahkan, menjawab pertanyaan, menenangkan diri, dan rasa-rasa yang lainnya ingin kembali diulangi melalui proses membaca tulisan selanjutnya.

Pernah melihat orang-orang yang telanjur merokok sulit berhenti dari aktivitasnya? Kurang lebih seperti itu apa yang melanda para pembaca ketika mereka sudah ketagihan membaca tulisan penulis favoritnya. Tidak mudah untuk tidak meneruskan lagi. Berharap-harap karya terakhir yang dibacanya itu bukanlah karya pamungkas. Namun berkeinginan untuk terus menyerap saripati makna-makna yang dikemas dalam paragraf-paragraf bernas.

Barangkali penulis bersangkutan harus bertanggung jawab membuat anak orang tetap waras dengan cara melanjutkan apa yang telah dimulainya berupa pembuatan sebuah tulisan. Tugas penulis tidak usai sampai di titik tulisannya selesai saja tapi diikuti dengan konsekuensi untuk tak berhenti memberi pencerahan bagi pembaca setianya. Betul memang mesti begitu? Tidak juga sih. Itu anggapanku saja.

Mari mengerahkan tenaga sekuat-kuatnya untuk membentuk budaya jujur dalam diri kita! Jujur dalam berkata, jujur dalam berbuat, jujur dalam menulis. Jujur adalah amunisi membuat tulisan yang akan terus dirindukan. Kalau terbebani membuat orang lain merasa kangen, setidaknya buatlah diri sendiri rindu untuk membacanya. Kita adalah pembaca pertama bagi tulisan kita sendiri. Kalau baca paragraf saja sudah ogah, bagaimana perasaan dengan perasaan pembaca?

Untuk menutup tulisan yang sebenarnya tidak saya buka, berikut saya kutipkan sebuah perenungan menarik tentang menulis:

“Aku menulis bukan semata-mata karena aku ingin menjadi penulis. Aku menulis, karena aku ingin menulis. Seperti halnya aku mencintaimu. Memang benar, cita-citaku adalah menjadi suamimu (yang mengecup keningmu, ketika kebetulan aku terbangun lebih dulu). Tapi tidak semata karena itu. Aku mencintaimu, karena aku ingin mencintaimu. Seperti itu.”

– Lenang Manggala.

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 1 Maret 2017

sumber gambar: diplomovky-bakalarky

  • view 79