Sampai Kapan Aku Hendak Menulis?

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 3 bulan lalu
Sampai Kapan Aku Hendak Menulis?

“Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada.”

- Seno Gumira Ajidarma

 

Pertanyaan yang sekaligus jadi judul bagi tulisan ini lahir setelah aku membaca-baca karya seorang mantan mahasiswi di salah satu kampus negeri di kota Kembang di etalase tumblrnya. Sebuah kampus yang untuk memilihnya saja ketika SNMPTN baik undangan maupun tulis lalu, aku begitu malu-malu. Eh, lebih tepatnya takut.

Di kelas, waktu SMA dulu aku hanya siswa biasa-biasa saja yang tak pernah dapat peringkat 10 besar. “Sudahlah Fan, yang realistis saja!” Barangkali itu bisikan buruk hati ini yang menghembuskan kepesimistisan akan sebuah pencapaian. Bahkan untuk sekadar bermimpi pun aku tak pernah berani.  

Ini hanya pemantik saja sebenarnya. Walaupun memang tak dipungkiri bahwa postingan-postingan di tumblrnya yang kaya akan berbagai sudut pandang, keluasan cakupan tema tulisan, juga tingginya rasa peka terhadap kondisi sekitar dan juga permasalahan global membuatku malu selaku laki-laki. Ditambah ketertarikannya terhadap isu-isu kesalehan sosial. Aku diliputi rasa cemburu.

Desakan lainnya pun lahir dari apa yang kutemukan dari berbagai insan yang menjadikan menulis sebagai rutinitasnya. Menjadikannya nafas untuk terus waras menghadapi dunia yang kian edan dari hari ke hari. Karena memutuskan untuk terus menulis, pasti tak pernah lepas dari membaca. Ia mengekalkan keresahannya setiap saat. Dan tak ada obat lain untuk menghapuskan resah selain mencari tahu jawabannya. Menulis dan bertukar opini salah satu jalan yang sangat memungkinkan.

Akhir-akhir ini aku memang terlampau rajin menulis ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Dan mohon maaf sekali, ini tidak untuk dibandingkan dengan orang lain yang lebih dahulu tumbuh dalam dirinya api yang membara untuk menekuni membaca, menulis, dan berdiskusi sebagai makanan sehari-hari.

Maksudku adalah membandingkan antara diriku di masa lalu dengan diriku saat ini. Syukurlah ada perbaikan. Berarti ada yang bertumbuh dalam diri ini. Kesadaran untuk terus bertansformasi. Aku tak boleh menua tanpa penambahan kadar kemanfaatan juga kematangan dalam berkarya.

Permasalahannya, setelah menulis sekian hari (meskipun tidak setiap hari juga) aku mulai didera ketidakpercayadirian terhadap tulisanku sendiri. Aku hanya menulis hal-hal sederhana dengan cara sederhana pula. Aku menulis dengan tanpa pijakan teori dari buku-buku untuk menunjang pendapatku. Padahal membaca adalah kemestian yang tak bisa dihindari.

Aku takut dengan apa yang dikatakan om Seno dalam cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku bahwa “Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya.” Aku takut bahwa kata-kataku nirmakna.  

Om Seno pernah bilang dalam sebuah kesempatan, bahwa kalau malas membaca lebih baik urungkan saja keinginan untuk menjadi seorang penulis. Pernyataan ini motivasi dosis tinggi walau nadanya memang agak tidak mengenakkan. Seperti menjatuhkan padahal ini upaya untuk mengetes apakah keinginan  menulis ini sekadar keinginan, atau memang layak untuk dipertahankan.

Aku mulai gelisah apakah dengan tulisan-tulisan itu orang-orang yang baca tidak justru buang-buang waktu atau bisa mengambil sesuatu darinya? Apakah tulisan itu cukup menghibur dengan harga yang harus dibayar berupa kuota beberapa mega? Aku mulai diteror dengan berbagai pertanyaan. Dan ini tidak nyaman.

Lagi-lagi perkataan Jhon F. Kennedy tentang banyak informasi yang diketahui hakikatnya membuat kita terlihat lebih bodoh terbukti benar. Hal-hal yang terus kita masukan ke dalam kepala ini tak ubahnya pisau-pisau tajam yang datang untuk mengupas kulit ketidaktahuan kita. Menjadikannya tampak begitu nyata.

Dengan terus meng-input wawasan-wawasan baru, diri kita tengah ditelanjangi perlahan-lahan. Siapa yang siap untuk melihat borok-borok di tubuh sendiri, ia akan memutuskan untuk terus mencari dan menggali. Namun, bagi yang tak rela ketidaktahuannya dipreteli, mungkin ia lebih memilih berlari dengan segenap kebodohan yang dimiliki.

Tak ada bedanya pula dengan menulis. Makin banyak menulis, makin kita merasa bahwa tulisan kita tak ada apa-apanya. Makin kita malu dengan tulisan kita sendiri. Apakah aku lebih baik berhenti menulis? Bayang-bayang pertanyaan seperti ini hadir begitu saja menyelinap ke dalam bilik pemikiran diri.

Suatu ketika aku begitu menggandrungi cerpen dari seorang penulis senior Seno Gumira Ajidarma (SGA). Meskipun tidak membaca secara langsung dari bukunya, yakni lewat cerpen-cerpen yang tersebar di dunia maya cukup membuatku tertampar. Aku mulai dihinggapi rasa enggan untuk menulis cerpen. Merasa tidak pantas saja. Cerpen SGA yang demikian memukau seolah menjadi benteng yang begitu tinggi dan megah sehingga aku mustahil untuk membuat benteng yang serupa atau bahkan hanya di taraf mendekatinya.

Sejak saat itu aku berhenti menulis cerita pendek. Walau untuk membaca cerpen aku terus melakoninya. Pernah pada beberapa bulan lamanya aku rutin membeli koran Republika tiap hari Minggu dengan motif salah satunya ingin membaca cerpen terbaru.

Masalah ini aku tanyakan ke beberapa orang yang kupercayai. Dan ternyata memang aku membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang jauh tak sepadan. Itu kekeliruan yang enggak ketulungan. Wajar saja minder dengan penulis yang lebih dulu terjun menulis cerpen dengan berbagai macam penghargaan yang bejibun. Pesan tersirat dari jawaban tentang pertanyaanku adalah teruslah menulis! Tulisan akan bertumbuh dengan sendirinya.

Jawaban dari dua orang penulis yang kutanyai sedikit meredakan virus minder itu. Bahkan sampai saat ini. Hanya saja tak otomatis menghilangkannya sama sekali. Ketika aku menemukan tulisan baru yang kuanggap secara kualitas bagus, ditambah juga kuantitas menulisnya yang baik, aku dihantui kembali dengan perasaan-perasaan semacam ragu, khawatir, dan takut untuk mempublikasikan tulisanku. Apakah aku lebih baik berhenti menulis saja? Pertanyaan rayuan itu kembali menyeruak.

Aku mulai mencari-cari jawaban pas atas pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jawaban untuk menguatkan diriku sendiri supaya tak berhenti menyusuri gelapnya belantara berkarib dengan kata-kata. Barangkali setiap orang yang meniatkan dirinya untuk menyeriusi aktivitas menulis ini pernah mengalaminya. Aku cukup terhibur. Aku ternyata tidak sendirian.

Yang berhasil melampaui ujian ini adalah mereka yang memang layak untuk mengikuti ujian berikutnya yang tak kalah susah. Mental yang kokoh, keinginan yang kuat hingga berakhir dengan mencapai puncak kesuksesan (secara subjektif) tidak bisa diperoleh dengan cuma-cuma. Tapi harus didapatkan dengan ketahanbantingan yang hebat atas semua goda, coba, dan hina. Tentu atas karya-karya yang telah, sedang, dan akan dicipta.

Pertanyaan yang terkandung di judul tulisan ini tidak akan usai kujawab. Ia akan kujadikan alarm yang terus mengingatkanku bahwa keinginan untuk tak berhenti menulis adalah nikmat yang patut disyukuri. Tidak semua orang diberikan nikmat ini. Tiap hari, jawabannya akan berganti-ganti, berkembang sesuai dengan kapasitas pemahamanku. Menjadi bahan bakar yang membuatku terus menulis tanpa henti.  

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 20 Februari 2017

 

sumber gambar: di sini

Dilihat 58