Tulisan Yang Jujur

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Februari 2017
Tulisan Yang Jujur

“Semangat kejujuran ada dalam hati, dalam batin, dalam sukma yang mengatasi ikatan-ikatan yang membatasi diri kita.”

- Arswendo Atmowiloto

 

Pertama kali saya mengetahui tentang tulisan jujur adalah dari semacam campaign yang selalu dipopulerkan oleh Mba Mutia (prawitamutia.tumblr.com). Jujur saja, tumblr dari penulis buku Teman Imaji ini salah satu tumblr yang dinanti postingan terbarunya. Lagi-lagi karena tulisannya selalu jleb ke hati. Tak ubahnya tulisan alumnus Akuntansi FE UI ini seperti pisau super tajam yang menusuk-nusuk kalbu. Atau jangan deh, nanti hatinya pada bolong. Serupa embun saja. Yang membuat hati jadi lega. Mungkin inilah yang dinamakan yang berasal dari hati akan sampai ke hati lagi.

Dengan tidak ditulis secara rumit, tulisan yang berasal dari kebeningan perasaan, kejernihan pikiran, ketajaman keinginmajuan setiap keadaan, dan keikhlasan, pesonanya begitu tak terkira. Tulisannya boleh tidak rumit, namun kontennya sangat keliru kalau tidak dibilang rumit. Maknanya memiliki tingkat-tingkat yang berlipat. Lapisan-lapisan aneka pembelajaran sangat berlimpah.

Terkait hal ini, saya jadi tak ubahnya pemburu yang selalu mencari-cari mangsa berupa tulisan-tulisan yang ditulis dengan sangat jujur. Sampai saat ini, saya menemukan blogger yang memiliki gaya menulis semisal Mba Mutia. Misalnya kang Satria Maulana (satriamaulana.tumblr.com) serta beberapa blogger lainnya seperti mba Gita Savitri (gitasavitri.blogspot.com), mas Iqbal Hariadi (iqbalhariadi.com) dan mas Ilman Akbar (ilmanakbar.wordpress.com). Untuk yang lainnya silakan kontak langsung saya saya. Nanti saya rekomendasikan blog-blog yang sering saya baca.

Untuk yang lainnya, maaf masih dirahasiakan ya. Takut disangka saya ngefans sama dia. Meskipun ditidak-tidak juga saya memang ngefans sih. Soalnya ini perempuan. Juga sebenarnya saya tidak mengenalinya. Hanya menjadi secret admirer lewat tulisan-tulisannya saja. Tidak ada alasan bagi untuk tidak mengidolakan kepribadian, kecerdasan, juga keinginannya untuk menjadi sosok kontributif bagi agama, nusa, dan bangsanya.

Meminjam istilah guyon yang kerap dilontarkan teman saya, menemukan sosok perempuan dengan idealisme tinggi, visioner, salehah, juga suka menuliskan perasaan juga pemikirannya ini teh“suka jadi ingin menafkahi.” He. Semoga masih tersisa satu orang untuk saya nanti.

 

 Jujur Itu Seperti Apa?

Salah satu makna dari sifat jujur adalah tulus ikhlas. Dalam artian tidak ada bumbu-bumbu berlebihan yang membuatnya giung. Pernah makan sayur atau lauk makanan dengan penyedap rasa yang kebanyakan? Bagaimana rasanya? Kalau saya, jujur saya tidak suka. Selain tidak sehat, juga menyebabkan selera makan berkurang keberadaannya.

Begitu pula halnya dengan tulisan. Kalau banyak rekaan di mana-mana, begitu hiperbol, bukannya suka, justru muak yang menyeruak. Tapi ini beda halnya dengan puisi. Saya tetap menyukainya. Jujur yang dimaksud di sini adalah pada tulisan yang sifatnya perenungan, bukan jenis karya sastra.

Jujur pada tulisan ini bermakna keterbukaan atas pemaknaan yang timbul atas pergumulan keresahannya. Respon atas suatu kondisi yang membuat pikiran jadi tidak keruan, namun juga masih lemah untuk memilih opsi mengubah. Jujur di sini semacam curhat yang diikuti berbagai macam kemungkinan-kemungkinan solusi penyikapan.

Bisa dicari sendiri tipe-tipe penulis seperti ini. Alih-alih bosan terus menerus membaca tulisannya, justru kita akan ingin lagi dan lagi menyeruput manisnya air kesegaran dari tulisan-tulisan yang mereka sajikan. Itu paling tidak yang saya rasakan pascamembaca karya-karya penulis jujur seperti ini. Semoga kalian secepatnya menemukan tulisan-tulisan yang selain mencerahkan, juga menyejukkan.

 

 Tulisan Jujur Itu Menggerakkan

Bagi saya, tulisan jujur itu membuat kita bergerak menuju frekuensi yang dipancarkan si penulisnya. Ini hal yang ajaib. Mungkin penulis yang bersangkutan sebenarnya tidak muluk-muluk menujukan tulisannya untuk dibaca khalayak. Tapi dasarnya sudah murni berasal dari hati, opininya pun serasa jadi tamparan buat kita sendiri. Membuat kita tersadar, kalau ternyata perbuatan atau sikap yang kita jalankan, tidak semestinya kita lakukan.

Sebagaimana raga kita butuh aneka nurisi, jiwa kita pun memerlukannya. Tulisan jujur adalah nutrisi yang harus rutin kita konsumsi untuk membuat jiwa kita halus, sikap kita lembut. Tidak sebentar-sebentar mengutuk keadaan atau lebih parahnya rajin menyebarkan kebencian. Tulisan yang jujur membikin semangat kita diliputi rasa optimis ketimbang pesimis. Tulisan yang jujur menyebabkan hidup kita tenang daripada banyak tegang.

Sampai saat ini saya juga masih sedang dalam proses ikhtiar untuk melembutkan hati. Ini modal terpenting untuk membuat tulisan menjadi jujur. Tidak mudah. Susah. Dan membuat hati terkondisikan adalah projek sepanjang masa. Prosesnya lama. Mari tetap berusaha!

Bentuk syukur telah dipertemukan dengan tulisan-tulisan yang jujur adalah dengan membuat tulisan-tulisan jujur selanjutnya. Membuat orang lain merasakan paparan tulisan jujur yang begitu memukau. Dari tangan kita sendiri. Dari hati kita sendiri. Dari kepala kita sendiri. Dari perenungan kita sendiri. Mari menjadi sumber bagi tulisan-tulisan menggerakkan itu!

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 19 Februari 2017

 

sumber gambar: di sini

  • view 106