Jadi Orang Bermanfat

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Renungan
dipublikasikan 12 Februari 2017
Jadi Orang Bermanfat

 

Betul perkataan dari Jhon F. Kennedy bahwa dengan bertambahnya pengetahuan kita, maka kian terasa pula banyak hal-hal yang tidak kita ketahui. Ternyata mengetahui banyak hal tak ubahnya membuka pintu untuk membongkar kekurangan setiap pribadi.

Bagi yang radar kesadarannya masih aktif berfungsi, harusnya itu disikapi dengan gagah berani dan ujung-ujungnya mengakui. Bukan untuk merendahkan diri, tapi sebagai bahan bakar untuk terus mencari dan menggali. Menambah kembali dan lagi. Walau untuk yang masih ada segenggam arogan dalam hatinya, ia akan mencari banyak pembenaran supaya boroknya tidak tercium bahkan oleh dirinya sendiri. Terjebak dalam zona nyaman yang padahal merugikan.

Aku sering merasa malu ketika menemukan orang-orang dengan usia masih muda bahkan seumuran denganku, namun sudah berkarya melampui usianya. Aku kemana saja? Setua ini belum mengukir predikat bernama “berguna”. Hanya menjadi benalu yang menyusahkan, alih-alih memberi manfaat. Malu, aku benar-benar tertohok. Apa yang akan kutinggalkan?

Inspirasi tulisan ini datang sehabis aku baca beberapa blog yang gaya penulisannya ciamik. Dengan hanya baca tulisannya saja ternyata mengalirkan setrum yang tegangannya demikian kuat. Apalagi diskusi empat mata, langsung berhadap-hadapan.

Aan Mansyur pernah bilang bahwa menulis itu bukan persoalan seni berkata-kata, tapi lebih dari itu adalah urusan cara berpikir. Kemampuan ini tidak didapat dengan hanya tiduran menunggu wangsit di tengah malam, tapi diupayakan dengan berlelah-lelah menggelontorkan input ke dalam dirinya. Diskusi, mengabdi, membaca, hingga akhirnya kata-kata berloncatan sendiri dari dalam kepalanya mencari formatnya sendiri-sendiri.

Bacalah, mungkin karena tidak banyak baca kamu juga aku merasa aman-aman saja. Lagi-lagi Aan Mansyur memberikan pencerahan atas ketidaktahuanku. Dia bilang bahwa orang-orang cenderung malas baca karena takut ketidaktahuannya ketahuan. Mungkin ada benarnya. Membaca membuat isi kepalamu terpreteli. Hanya yang siap mental yang berani menanggung konsekuensi ini.  

Berkarya bukan semata urusan mau saja. Ada keterlibatan banyak hal. Kesungguhan, emosi yang besar berupa azzam, keinginan kuat memperoleh ketenangan di jiwa, juga yang tak kalah penting skill dan relasi. Skill membuat keinginan terus terjaga, relasi membikin karya berjalan lebih lancar jaya. Relasi itu menguatkan bisa dibilang. Aku jadi ingin punya relasi, tapi maunya kamu, biar aku jadi kuat. Eh. Suka keceplosan. Lupakan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang kelak ketika dipanggil Tuhan tidak sekadar meninggalkan omongan-omongan tidak karuan. Namun, hidup lama dalam benak orang-orang sebagai sosok yang menjadi jalan kebaikan. Tidak ditepuk tangani ketika sudah pergi, namun ditangisi karena tak akan ada lagi orang kedatangannya dinanti-nanti karena sepanjang hidupnya ditujukan untuk berkontribusi, bukan jadi orang yang gemar mencaci.

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 10-12 Februari 2017

  • view 57