Menggenapkan Agama

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Januari 2017
Menggenapkan Agama

 

Menikah tidak seperti bentuk impian-impian yang lain yang kita miliki.

Mimpi kita mungkin bisa kita wujudkan sendiri tapi tidak dengan

menikah. Untuk mewujudkannya, kita butuh orang lain.

 

Orang lain yang asing, yang mungkin tidak kita kenal dan kira

sebelumnya. Orang lain yang kemudian dengan yakinnya bersedia

mewujudkan impian itu dengan kita.

 

Ada dua kehidupan yang kemudian berjalan bersama-sama. Ada dua

impian yang kemudian diwujudkan bersama. Dan orang-orang yang

menikah, telah berhasil menemukan titik temu di antara mereka.

Kurniawan Gunadi & Aji Nur Afifah dalam Menentukan Arah

 

Tadi siang sang inspirator datang bersama sohibnya ke kontrakanku. Sohibnya itu tak lain ketua angkatan kami di IPAI 2012. Oh iya, kalau ditanya siapa yang paling sering mendapatkan inspirasi perihal jodoh, menikah, dan mengambil keputusan untuk berkeluarga sejak usia muda maka dialah ketua angkatan kami, Agus Pranoto. Biasa dipanggil mas Agus karena berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah sana.

Mas Agus menginap dari kemarin karena ada urusan mengambil beberapa barang yang masih tertinggal di kontrakan kami. Aku dan dia sebelumnya satu kontrakan. Tapi, dia lulus duluan dan diwisuda di penghujung tahun 2016 kemarin. Sementara aku tidak rajin, sehingga harus menunda diwisuda.

Perlahan karena dia sudah mendapatkan pekerjaan di Karawang sana, dia pun mulai pindahan. Dia mendapatkan pekerjaan itu lewat perantara mas Rizka yang memperoleh informasi lowongan kerja itu dari salah satu orang tua siswa di tempatnya mengajar. Orang tua yang juga sudah menganggap mas Rizka sebagai anak sendiri, pun sebaliknya. Orang baik selalu diberikan kebaikan yang berlipat-lipat sama Allah. Ini janji-Nya. Tak mungkin bakal diingkari. Melalui orangtua angkatnya itu berbagai kebaikan yang tidak diduga-duga diberikan Allah kepada mas Rizka. Subhanallah, tidak mungkin manusia memberikan kebaikan-kebaikan tidak henti kalau tiada yang menggerakkan. Inilah kuasa-Nya. Kalau ia mau, apapun bisa terjadi. Termasuk mendatangkan sosok yang menjadi perantara cinta kasih-Nya.

***

Mas Agus memberitahukan bahwa siang nanti pak Taufik akan datang ke kontrakan. Dia memberi informasinya tadi pagi. Aku sih tak masalah. Tapi ada angin apa pak Taufik bela-belain dateng kalau tidak ada udang dibalik batu. Pasti ada motif tertentu. Aku tak menebak kalau kedatangannya adalah untuk menimba inspirasi tentang membangun rumah tangga dari mas Rizka yang lagi di Bandung juga.

Sekitar pukul 14.00 WIB tadi siang, diskusi yang tak direncakan sebelumnya dimulai. Tanpa moderator atau MC. Setiap yang hadir bisa langsung menuntaskan kepenasarannya bertanya ke mas Rizka. Yang hadir juga sebenarnya hanya 5 orang saja (termasuk inspirator). Kelima orang itu mas Agus, Dafa, pak Taufik, dan aku. Kita memiliki quality time untuk menggali hal-hal yang sebelumnya tidak ditahu menjadi sedikit tercerahkan dengan sang ahli praktik. Bukan hanya perkataan-perkataan dari yang cuma sekadar ahli teori mahabbah saja (ATM). Energi yang terpancar jelas beda.

Aku sebenarnya sudah bertanya 4 mata secara langsung kepada mas Rizka seminggu sebelum dia mengucap qabul atas ijab yang dikatakan sosok mertuanya saat ini. Namun, pengulangan atas sebuah ilmu bukan merupakan sebuah kesia-siaan. Justru kembali lagi mengingat-ingat ilmu atau pencerahan begitu dianjurkan. Setiap pertemuan dalam membahas ilmu yang sama dijanjikan akan dipertemukan dengan hal yang berbeda, hal yang baru. Apalagi ini permasalahan perasaan. Permasalahan pernikahan yang tidak pernah main-main kawan. Aku tetap dalam kondisi bersemangat kembali menguatkan tekad untuk menyicil pelan-pelan untuk urusan pernikahan impian kelak.

Kalau kalian lihat mas Rizka sebelum dan sesudah beristri pasti perbedaan signifikan akan kalian dapati. Memang dari dulu dia adalah sosok bersemangat, loyal, komitmen dan sifat-sifat positif lainnya. Soleh? Jangan ditanya! Namun, entah kenapa pertemuan dengannya tadi siang serasa ada peningkatan frekuensi energi yang terpancar dari dirinya. Aku pun terkena setrum itu. Seolah-olah betul perkataan bang Ijonk Muhammad tentang “cinta itu buta dan menikah membutakan mata.” Dalam artian kalau pernikahan itu didasarkan atas ketulusan, disandarkan atas niat yang murni mengharap rida Illahi, semuanya akan berjalan lancar jaya. Akselerasi diri baik isteri dan terlebih suami akan bertransformasi lebih tinggi. Semangat berusaha kian melipat ganda. 

Bahkan dalam sabda Rasulullah ditegaskan bahwa menikah itu akan menjadi jalan pertolongan Allah kepada para pelakunya. 

“Ada tiga golongan yang pasti Allah tolong: orang yang berjihad di jalan-Nya, budak yang berusaha menebus dirinya, dan orang yang menikah dengan tujuan menjaga dirinya.”

Lalu, aku pun mencoba menggoda mas Rizka, “Ka, nyesel yah nikah? Ngga dari dulu-dulu. He”

Dia hanya senyum-senyum saja. Yang lain juga ikut tersenyum renyah.

***

Setiap ada hal menarik yang bikin melting, kami berlima saling pandang dan tertawa tanda bahagia. Bahkan saking girang tak terkira, tak terasa ada di antara kami yang memukul-mukul kasur atau memukul tembok atau juga berseru, “Subhanallah. Lailahaillallah” Ah, rasa-rasanya ingin berubah seperti mas Rizka. Merasakan bagaimana diingatkan untuk bersemangat menjemput rezeki, semangat beribadah lebih giat, dan semangat-semangat lainnya oleh sang isteri. Merasakan bagaimana berbagi cerita dan saling menguatkan untuk bersabar dalam menumbuhkan cinta yang baru dibina serta mencari solusi atas berbagai permasalahan yang wajar ada bagi sebuah keluarga kecil. So sweet.

Dari penuturan mas Rizka aku jadi tidak ragu lagi dengan janji Allah perihal “wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan sebaliknya.” Pengalamannya menemukan separuh jiwa yang sempat hilang merupakan bukti nyata betapa Allah adalah sebaik-baik penyusun rencana. Kita berdo’a A, Allah mengabulkannya dengan A kuadrat. Memberi sesuatu di luar ekspektasi. Menyajikan hal yang di luar perkiraan.

Balik lagi ke tentang cerita inspiratif ini bermula. Kekhawatiran sebagai seorang pemuda yang beranjak mendewasa atas kemungkinan berbagai godaan syahwat yang mendera, mas Rizka merasa resah tak terkira. Itu yang menjadi pelecut baginya untuk mencari jalan keluar atas permasalahan ini.

Berbagai pilihan mungkin bisa diambil baik yang baik atau yang terburuk. Namun, tak pernah ada pilihan yang tak berkonsekuensi. Kalau mengambil yang buruk, akibatnya harus bersiap-siap atas balasan sesuatu yang buruk pula. Begitupun jika pilihan baik yang dilakukan, maka sesuatu yang baik pun siap-siap akan kita terima. Dan mas Rizka memilih jalan baik yang telah digariskan dalam agama. Menikah adalah jalan yang tepat untuk mengamankan diri dari berbagai goda dan saat yang pas untuk menenggelamkan dua manusia dalam lautan pahala. Setiap candaannya (selama baik) dicatat sebagai pahala. Setiap tetes keringat untuk menjemput rezeki yang ditujukan bagi kesejahtraan keluarga ditulis sebagai pahala. Ah, semuanya pahala kawan. Masa ngga tertarik? Hehe. Aku juga tertarik banget. Ini masih mengumpulkan kekuatan dan keberanian.

Sebenarnya masih banyak hal yang bakal membuat kita terkesima mengenai cerita perjalanan cinta mas Rizka, namun agak sulit juga mendeskripsikannya. Perbincangan tadi aku rekam di HP. Silakan kalau mau minta! Tapi izin dulu sama mas Rizkanya. Oh iya, tadi dia bilang, kalau ada yang mau sharing, mas Rizka sangat terbuka. Ia ingin berbagai kebahagiaan kepada orang-orang yang menunjukan itikad baiknya untuk segera menggenapkan agama. Monggo, jangan disia-siakan kesempatan ini!

Selamat malam. Sampai jumpa di jurnalku yang berikutnya. Jangan lupa baca-baca jurnal sebelumnya ya! Boleh request tulisan juga, dengan catatan jangan tema yang susah-susah. He.  

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 8 Januari 2017

  • view 71