Jalan Kebahagiaan

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Januari 2017
Jalan Kebahagiaan

 

Tadi sore seperti biasa kami bermain-main dengan para astronot kecil di Planet Antariksa.  Hari Sabtu adalah hari besar kami. Waktu berkegiatan rutin dalam sekali seminggu. Apa itu Planet Antariksa? Planet di sebelah mana Bumi? Atau Neptunus atau Saturnus? Eits.

Planet Antariksa simpelnya adalah komunitas bermain dan belajar anak yang diinisiasi 4 mahasiswa tingkat akhir Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI Bandung. Aku satu di antara mereka. Sekarang, salah satunya udah lulus. Salah tiganya udah tingkat akhir banget kalau tidak dibilang tingkat kadaluarsa. He.

Lebih lanjut, apabila teman-teman yang penasaran tentang komunitas ini, silakan bisa berkunjung ke Instagram kami @planetantariksa. Syukur-syukur teman-teman terketuk hatinya untuk mencoba datang dan merasakan kebahagiaan yang kami rasakan setiap minggunya. Atau kalau mau ketemu langsung juga boleh. Tapi, mending jangan deh. Takut aku jadi baper. Kalau mau, ketemunya sama kami berempat. 

***

Karena minggu-minggu ini (dan beberapa minggu ke-depan) adalah waktu libur bagi mahasiswa UPI, kami cukup bingung perihal mau diliburkan atau tidaknya kegiatan Antariksa. Aku pribadi sih mengusulkan di minggu kemarin buat libur dulu. Memberikan waktu istirahat bagi kakak-kakak pengajar yang barangkali mau me-refresh semangatnya ber-quality time bersama keluarganya. Atau sekadar memberikan ruang rindu buat adik-adik untuk kembali bermain-main dan belajar lagi.

Tapi, usulku ini mental. Kegiatan akhirnya tetap berjalan. Meski di minggu kemarin hanya ada saya dan Ogi. Dan minggu ini, pun hanya ada tiga kakak pengajar: aku, Panji, dan Dafa. Aku memutuskan tidak pulang karena bertekad untuk setia pada jargon “pantang pulang sebelum sidang.”

Apakah kami cukup kewalahan? Tentu. Tapi, aku pribadi selalu mendapat kebahagiaan tiap kali habis berkegiatan di sana. Walau beberapa kali bisikan jahat masuk ke telingaku untuk sekali saja tidak datang ke Antariksa, namun selalu ada seribu satu bisikan baik yang mengalahkannya. Aku kembali berangkat, dan aku pun kembali menemukan semangat untuk jadi golongan orang-orang yang bermanfaat.

***

Tentang perkataan popular di media sosial perihal rumus bahagia itu begitu sederhana, aku sangat sepakat. Bahagia selalu tidak datang dari hal yang muluk-muluk. Bahagia diberikan Allah ketika kita mau mengerjakan hal-hal yang memang disenanginya. Atau menghindarkan diri dari apa-apa yang membuat-Nya murka. Hanya itu saja formulanya. Sederhana sekali bukan?

Justru jalan-jalan-jalan menuju ketidakbahagiaan yang meskipun mahal harganya dan selalu nampak menyilaukan itu tak pernah sepi peminat. Manusia berbondong-bondong berjalan ke arahnya. Malah kadang mereka berlari berlomba tiba di garis finis perbuatan yang sia-sia dan melenakan. Menghambur-hamburkan banyak uang untuk menebus kesenangan semu yang persis seperti cara kerja fatamorgana. Dari jauh nampak indah, ketika didatangi lenyap sudah. Fatamorgana itu hanya tipuan saja.

Sejauh ini aku merasakan bahwa kebahagiaan itu akan diturunkan sebagai sesuatu yang menyejukkan hati setelah melakukan amal-amal baik. Tapi, jalannya sangatlah tidak mulus. Banyak kerikil di sana-sini. Ada duri-duri yang kalau tidak hati-hati justru membuat kita putus asa untuk menghindarinya. Dan kebahagiaan pada akhirnya tidak kunjung kita dapatkan.

Wong, kalau mau melihat keindahan alam ciptaan Tuhan juga kita harus melalui lintasan yang tidak mudah. Kalau mau mendapatkan emas yang berharga kita harus berlelah-lelah. Pun untuk menggapai keridaan-Nya, harus ada harga mahal yang jadi tebusan untuk mendapatkannya. Harga mahalnya adalah godaan, rasa malas yang begitu tak terkira, dan hal-hal yang mengalihkan untuk tidak melakukannya.

***

Berkegiatan tiap minggu adalah salah satu sumber kebahagiaan kami. Bermain-main bersama, bernyanyi lagu-lagu dengan riang gembira, bercerita kisah-kisah penuh hikmah, makan bersama meski kadang alakadarnya dan dipungkas berfoto sambil bilang cis atau serempak bilang aaaa. Ah, ini kebahagiaan yang sulit didapatkan. Aku tidak tahu sampai kapan kekonsistenan ini akan terus berjalan. Tanpa Yang Maha Mengatur Lintasan-lintasan Pikira, tanpa turut campur-Nya memberikan semangat, aku hanyalah seorang manusia yang lemah tak berdaya.

Mari lebih peka pada jalan-jalan kebahagiaan yang padahal berserak di sekitar kita. Dekat saja. Cari yang jauh-jauh mah susah.

Selamat malam. Jangan lupa berbahagia!

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 7 Januari 2017

  • view 55