Melupakan

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Januari 2017
Melupakan

 

Kadang-kadang, kau pikir, lebih mudah mencintai

semua orang daripada melupakan satu orang. Jika

ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu

mereka yang datang kemudian hanya akan

menemukan kemungkinan-kemungkinan.

Aan Mansyur dalam Tidak Ada New York Hari ini: Pukul 4 Pagi

Ini adalah salah satu puisi dari penyair yang aku kagumi karyanya. Puisi ini juga yang menjadi satu alasan aku nonton film AADC 2 kali selain juga karena ngefans sama teteh Dian Sastro. Awalnya aku mengira kalau bung Aan itu orang sunda. Lihat saja namanya! Sunda pisan men.  Tapi ternyata aku keliru. Ia adalah keturunan Bugis, Makasar.

Karakter puisi-puisinya yang menurutku genius, membuat aku membeli beberapa buku dan sering mem-play puisi-puisi yang dibacakannya di soundcloud. Bahkan lebih parah, aku putar di malam-malam yang sunyi senyap. Suasananya serasi betul dengan puisi-puisinya.

Meskipun cara baca puisinya standar (kalah sama Nicolas Saputra), tapi aku tetap ngefans sama bung Aan. Dia yang nulis, dia juga yang tahu bagaimana intonasi puisi itu dibacakan. Dan aku kira, tidak setiap penyair jago membacakan puisinya. Coba lihat Opa Sapardi, dia biasa-biasa saja ketika membacakan sajak-sajak cinta yang bahkan bagi sebagian orang begitu melegenda. Coba dengarkan cara Joko Pinurbo ketika membacakan puisinya yang juga tidak kalah keren! Biasa-biasa wae.

Meskipun begitu, tidak lantas aku memukul rata bahwa setiap penyair tidak pandai membacakannya di khalayak. Ada juga penyair yang pintar menulis puisi, jago pula membacakannya. Puisi yang hanya susunan diksi-diksi bisa seolah hidup dan bernyawa. Salah satunya adalah W.S. Rendra. Yang lainnya silakan cari sendiri!

Pada puisi ini seorang Aan Mansyur yang ketika itu begitu menjiwai perannya menjadi Rangga yang diperankan bang Nico mungkin membayangkan sulitnya ia lepas dari bayang-bayang seoran Cinta. Sosok yang begitu berarti di hidup Rangga sang misterius itu. Dan memang aku sempat baca artikel yang mengabarkan bahwa dalam menyusun puisi-puisi  ini bung Aan melakukan riset mendalam. Menonton berkali-kali film AADC 1 baik dengan atau tanpa suara. Katanya menonton tanpa disertai suara ditujukan untuk memberikan kesan masuk ke dalam isi cerita dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Sebegitunya bung Aan totalitas dalam berkarya. Jadi makin suka.

Aku cukup sepakat dengan pernyataan bung Aan tentang perbandingan sulitnya melupakan dengan mencintai seseorang yang pernah mengisi sebagian ruang di hati kita. Seseorang yang pernah kita curahi cinta di hatinya, lalu karena berbagai alasan yang macam-macam, mau tidak mau perpisahan tidak bisa terhindarkan. Bayangnya-bayangnya mau tidak mau sulit untuk dihapuskan dari kita punya kepala.

Terlebih keterpisahan yang memenggal kebersamaan bukan karena keegoisan masing-masing pihak karena menginginkan pasangan lain yang dianggap lebih menarik. Namun, misalnya karena faktor eksternal yang sulit dicampurtangani. Begitupun bukan dengan apa yang membuat Cinta diputuskan dengan cara yang tidak elok sama sekali. Melalui sepucuk surat yang dikira Cinta sebagai surat cinta padahal surat berisi “talak” untuk menyudahi kemesraan keduanya. Belakangan Rangga bersikap demikian karena realistis akibat desakan dari Papanya Cinta waktu berkunjung ke Amerika. Meni apal banget yah? He he.

Kepala manusia memang diberikan kekuatan untuk mengingat hal-hal mengesankan dalam jangka waktu yang panjang. Bahkan bukan hanya kesan baik saja, kesan buruk pun tinggal dalam memori sama panjangnya, malahan cenderung lebih lama. Tengok saja orang-orang yang mesti trauma akibat kejadian-kejadian yang memilukan: akibat bencana, tersebab pengalaman buruk, dan lain-lain.

***

Tentang melupakan aku pernah menulis sebuah dialog imajiner yang menggambarkan bahwa proses melakukannya tidak pernah mudah. Ini dialognya:

F: Kak, bagaimana sih cara menghapus kenangan?

M: Kenapa dek kenangan itu harus banget dilenyapkan?

F: Jangan tanya balik kak! Ayo dijawab aja!

M: Ehm. Kenangan makin berupaya dilupakan, makin ia tumbuh merajalela di kepala kita.

F: Lantas aku harus gimana? Bayangan tentang dia selalu hadir. Aku muak. 

M: Bentar dek, kakak belum beres ngomongnya. Alam bawah sadar kita peka menyimpan hal-hal yang mengesankan. Kesan tak mesti baik saja kan? Ada juga yang buruk. Nah, kenangan manis yang coba ingin kamu lupakan itu ada di kategori yang kedua. Perlahan, kenangan berkesan baik itu akan memangkas dengan sendirinya kenangan yang kamu anggap buruk. Mungkin tidak akan sepenuhnya hilang. Namun, setidaknya seiring bertambahnya kedewasaanmu kamu bisa berdamai dengan kenangan itu.

F: Oh gitu ya kak?

F: Tapi bener juga sih. Makasih kak!

 

Tapi, kukira motif Aan menuliskan puisi itu bukan mengompori untuk tidak melupakan mantan atau sosok-sosok yang kita kagumi, namun itu sebagai bentuk pengabaran saja. Bahwa melupakan memang bukan perkara yang gampang. Hal ini bisa menjadi rambu-rambu untuk tidak pernah bermain-main dengan perasaan. Jangan pernah berpikir untuk mencoba-coba masuk ke dalam kolam bernama perasaan kalau tidak mau baju dan tubuhmu jadi basah. Basah oleh genangan kenangan.

Aku jadi ingat pesan dari Sayyidina Ali bahwa “mencintailah sewajarnya! Siapa tahu kelak dia jadi musuhmu. Membencilah dengan biasa saja! Siapa tahu nanti dia jadi kekasihmu.” Indah benar bukan wanti-wanti dari sang sahabat Nabi?

Bila kita cukup memiliki hati yang bersih, pikiran yang tidak dicampuri keinginan-keinginan manusiawi, maka rumus dari Khalifah ke-4 ini begitu berharga bagi kita untuk tidak terjebak dalam sulitnya melupakan.

Aku pernah sulit melupakan. Bahkan hingga kini. Namun, aku perlahan-lahan mulai menerapkan nasihatku sendiri sebagai tokoh M di dialog imajiner yang kubuat. Tidak mudah, tapi juga tidak mustahil. Memang melakukan selalu lebih sukar ketimbang menasihati orang lain untuk melakukan apa yang kita sarankan.

 

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 6 Januari 2017

 

sumber gambar: di sini

  • view 72