Jarak

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Januari 2017
Jarak

 

Kalau kemarin aku berbincang tentang rindu, maka di jurnal ini aku mau sedikit mengemukakan mengapa rindu itu bisa mewujud.  

Rindu ada karena terdapat sesuatu yang memisah. Ada ruang di sela-sela dua benda. Atau dalam hal ini katakanlah dua hati yang menyimpan satu perasaan: ingin bersua. Kita mungkin lebih familiar perihal ini dengan kata jarak.

Kamu tidak akan pernah menderita ditikam rindu ketika kamu dengan orang yang kamu sayang tak pernah sekaliwaktu pun berpisah. Terus menerus dalam kebersamaan selamanya tanpa ada jeda.

“Wah, kamu bohong Fan. Buktinya lelakiku cuma pergi ke kantor saja aku tak bisa menghindari penyakit rindu itu,” ujar seorang teman dalam imaji.

“Lah, bukannya lokasi kantor dan tempat tinggalmu mengandung jarak. Walaupun jauh-tidaknya itu relatif. Tiap orang memiliki persepsi masing-masing tentang dekat dan jauh.”

“Oh, kenapa aku tak berpikir sampai kesitu?”

***

Aku sekali waktu bermain-main dengan pikiran. 

Apakah jarak benar-benar ada? Atau hanya khayalan pikiran saja? Bagi yang tak putus-putusnya mendo’akan, jarak nampaknya hanya jadi ilusi. Sementara, di dalam hati, antara itu tidak pernah ada. Batas itu hanya semu semata.  

Namun, orang-orang mungkin akan menertawakan pemikiran egois ini. Tidak masuk akal. Hanya membual. Begitu mungkin komentar mereka. Jarak itu nyata adanya.

Baiklah, aku akan mengalah. Katakanlah jarak itu benar-benar ada. Lalu kamu mau apa? Menuntut padaku untuk bertanggung jawab karena telah memberikan keterangan palsu tentang sesuatu yang tak pernah sama sekali terdengar lucu. Katanya jarak hanya rekaan. Hanya definisi yang diciptakan dan diada-adakan. Aku terima tuntutan itu.

Maafkan aku yang begitu lancang. Bilang kalau jarak itu tak pernah ada. Mungkin ini buah dari kasus khusus yang pernah kualami dan dengan tidak adilnya aku coba menggeneralisirkannya. Membuatnya menjadi satu konsep yang supaya berlaku pada semua orang. Jujur, saking hebatnya rindu yang mampir di langit-langit perasaanku padanya, rindu itu menelan habis jarak yang sesungguhnya ada. Seakan-akan meniadakan semua batas-batas, antara-antara, dan jurang-jurang yang memisahkan kami berdua. Ralat, aku saja tepatnya. Aku tidak pernah benar-benar tahu kalau dia merasakan apa yang aku rasa atau tidak.

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 5 Januari 2017

 

sumber gambar: di sini 

  • view 53