Rindu

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Januari 2017
Rindu

Dalam bait aksara yang kamu reka

aku menerka-nerka

apakah kamu yang tak peka

atau aku yang salah sangka

 

Dalam buaian rindu

yang aku rasa

aku menganalisa

jugakah kamu menyimpan rasa

atau semua hanya salah sangka

 

Aku seperti mendengar rindumu

tapi aku takut salah mengartikannya

akukah yang terlalu perasa

 

Semua aksaramu bagai pertanda

tapi aku takut salah membacanya

benarkah kamu menyimpan rasa?

semua masih diagnosa

 

Karena semua masih dalam tanya

dan kepastian belum ada

jadi biarlah ku menunggu

mengharap ikhlas dalam do’a

 

Ini teka teki rasa.

 

Ahimsa Azaleav

 

Demikianlah lirik lagu Teka-teki rasa sebagai soundtrack buku Teka teki rasa mba Ahimsa Azaleav. Aku sendiri mengenal karya pertama kalinya dari buku berjudul Ephemera yang berisi kumpulan cerpen. Menarik konten ceritanya. Waktu itu, adik kelasku memberitahukan ada sebuah buku berjudul Ephemera itu. Lalu diam-diam aku stalking IG nya dan ternyata cukup menghibur. Dan ujungnya justru dia sendiri yang nitip ke aku untuk pre order bukunya.

Buku yang salah satu inspirasinya bersumber dari pengalaman patah hati penulisnya memberikan kesan tersendiri pada setiap aliran cerita-cerita yang tersedia. Buat yang pernah patah hati atau bahkan sedang mengalaminya, aku rekomendasikan untuk baca buku ini. Cukup bisa mewakili apa yang kita rasa.

Namun, malangnya buku itu sekarang entah di mana rimbanya. Dulu pernah ada yang pinjam, tapi aku lupa dia siapa. Sekarang buku itu raib hilang tanpa jejak yang bisa dilacak.  

Untuk buku keduanya ini aku belum membacanya. Dulu ketika masa-masa pre order memang aku belum terlalu penasaran. Paling hanya menikmati soundtracknya yang liriknya aku sadur di awal tulisan ini. Ini adalah lagu yang sering diputar selain lagu Tuhan Maha Romantis dari Nov yang liriknya diciptakan kang Azhar Nurun Ala (penulis yang sedikit banyak mempengaruhi gaya nulisku).

Sekarang, setelah lagu teka-teki rasa sering diputar, ternyata kepenasaranku pun mulai menumbuh. Aku begitu ingin membaca bukunya. Prinsip yang kupegang apabila buku yang ingin kubaca itu kualitasnnya baik, aku secara otomatis ingin memilikinya. Bukan hanya puas dengan meminjam ke orang lain. Itu bentuk penghargaan atas karya sang penulis yang telah menjadi jalan kebahagiaanku. Selain tentu dengan memilikinya aku bisa leluasa membacanya kapanpun. Dan bisa merekomendasikan itu kepada teteh, adik, atau teman-temanku yang lain supaya mereka merasakan apa yang aku rasakan.

Kepenasaranku untuk membaca karya ini disiasati dengan membaca beberapa review yang bisa dicari di opa google. Cukup meredakan kerinduan jenis kedua versi kang Fahd di revolvere project. Rindu yang bahkan tercipta bukan karena pernah bertemu tapi begitu ingin merasakannya saja. Meskipun aku tak tahu apakah ketika sudah kesampaian dipertemukan, realitanya sesuai dengan ekspektasiku.

FYI, salah satu poin di buku itu adalah tentang kerinduan. Rindu antara satu tokoh terhadap tokoh satunya lagi yang merupakan seseorang yang diharapkan memiliki rasa yang sama dengannya.

Rindu adalah satu kata yang tak pernah lekang di makan usia. Para penyair mengotakatiknya menjadi berbagai puisi padat makna dan kaya rasa dari setiap rima yang tercipta.

Bahkan, para pecinta yang amatir sekalipun membahasakan rindu menjadi puisi-puisi yang bunyinya kadang terdengar hambar, tapi kadang mereka tidak peduli akan hal itu. Lempeng-lempeng saja. Mereka bangga telah menjadi penyair yang tidak punya karya buku puisi namun memiliki beberapa puisi saja di media sosialnya. Itu sudah membuat mereka girang bukan kepalang. Yang penting niat untuk membuatnya begitu luar biasa. Tercermin dari keinginan kuat untuk berlama-lama membuat sajak cinta meski tak punya bakat juga.

Kamu pernah merasakan rindu? Kasihan kalau tidak pernah. Hehe. Rindu memang membuat pedih. Tapi sesekali kalau menurut aku, kita harus mengalaminya sendiri. Belajar mengatasinya. Karena mau tidak mau, suatu saat pelan namun pasti, rindu akan menjajah sebagian fase dalam hidup kita. Percaya deh. Kalau tidak pernah merasakan bagaimana rindu bekerja mempermainkan rasa, silakan menjelma menjadi aku, dan rasakan sendiri betapa rindu ini begitu kejam. Membuat kita tak bisa diam. Menyebabkan serba salah dan selalu resah.

Aku pernah membahasakan rindu dalam beberapa kalimat singkat.

“Rindu adalah perasaan menyiksa bila tak disertai kemampuan mengendalikan. Ia bisa menjelma nelangsa bagi yang terperdaya. Sebaliknya, untuk yang mampu berdamai, rindu mampu mewujud kekuatan luar biasa bagi yang terjangkitinya.”

Bandung, 21 Februari 2016

Kalimat-kalimat yang aku buat memang biasa-biasa saja. Tak ada apa-apanya dengan yang mba Himsa tulis.

“Siapa bilang pertemuan itu membunuh rindu? Ia hanya melipatgandakannya lalu diam-diam menikammu dari belakang. Kamu terluka dalam bahagia. Lalu kamu menahan tangismu, setelah ia kembali pergi. Kamu ingin hari itu berjalan lebih dari 24 jam. Kamu seperti bermimpi, tapi itu nyata.”

Betul-betul tak punya belas kasihan memang si rindu itu. Persis seperti senyum manis serta sorot mata yang kamu punya. Sukses membuat angan-angan dan ingin-inginku jadi tumbuh merajalela. Angan agar terus bersama dan ingin untuk bisa berjumpa.

Bagi seorang Azhar Nurun Ala rindu menjadi sumur yang tak henti-hentinya mengalirkan air inspirasi untuk menuliskan kata-kata yang membuat candu untuk dibaca. Rindu kepada sosok perempuan yang sekarang menjadi isterinya karena sebuah jarak yang membentang melahirkan 3 surat pengakuan atas ketidakberdayaan tersebab sebuah perpisahan. Surat yang menurutnya ditujukan untuk dirinya sendiri sebagai bentuk kepenasaranan untuk merasakan sebesar apa gelombang kerinduan yang dipancarkannya sendiri. Meski sejatinya surat itu tidak mengubah apapun.

“Jarak memang harus dibentangkan untuk kemudian membuat perjumpaan jadi penuh makna.

Silakan teman-teman baca sendiri apa yang aku kabarkan ini di buku kang Azhar berjudul Cinta adalah perlawanan. Silakan komplain ke aku kalau kalian tidak mengambil pembelajaran. Atau minimalnya sensasi keterwakilan perasaan.

Pertanyaan yang mungkin hadir dari perasaan merindukan seseorang adalah “bagaimana cara mengatasinya selain ketemu dan mendoakannya secara diam-diam?” Ini pernah ditanyakan seorang teman kepadaku. Aku jawab asal aja.

“Nulis, baca buku yang related sama rindu itu, dan cari kesibukan sebanyak-banyaknya. Bagiku, kesibukan cukup efektif membunuh rindu yang menggebu.”

Terkesan berlagak bijak memang. Tapi, itu bagiku sendiri cukup membantu untuk sedikit menyembuhkan nyeri akibat penyakit rindu.

Selamat berkelahi dengan keinginan menemui dengan seseorang yang kamu cintai. Tak semua rindu harus diikuti bukan? Hatimu lebih dari cukup untuk mendeteksi mana rindu yang boleh dan terlarang. Perlu diingat, kita punya kendali untuk mengarahkan badai rindu ke hal-hal positif.

 

Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 4 Januari 2017

 

sumber gambar: di sini

Tulisan-tulisan lain bisa teman-teman baca di irfanilmy