Menyemai Benih Anti Korupsi Sejak Dini

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Lainnya
dipublikasikan 01 Januari 2017
Menyemai Benih Anti Korupsi Sejak Dini

Kian hari, arus kasus korupsi di negeri ini bukannya surut. Alih-alih berkurang, persoalan korupsi yang membelit para pejabat penerima amanat rakyat justru makin terbongkar dan kian melebar. Di sana sini orang-orang yang merasa telah mencuri duit rakyat mulai ketar-ketir dan bersembunyi supaya tidak ada yang mengetahui.

Fenomena gunung es di tengah samudra, di mana yang muncul ke permukaan hanya sepersekian dari total kebobrokan perilaku para pemimpin negeri ini merupakan potret yang tidak bisa dinafikan adanya. Dan kebusukan yang menghujam di bawah ternyata lebih menggurita. Mereka belum terendus aparat penegak hukum sehingga masih bisa bergembira ria di atas penderitaan orang-orang. Namun, sikap optimis bahwa kebenaran akan selalu menang, dan kejahatan perlahan akan musnah perlu kita terus pupuk. Deklarasi perang terhadap penjahat-penjahat berdasi itu harus terus digalakan. Tidak boleh kaki ini mundur sembari mengangkat tangan tanda menyerah.

Orang-orang dengan raut muka bersahaja ternyata menyimpan niat busuk yang layak kita sebut sebagai penjahat kelas kakap. Atau bahkan lebih dari itu, lebih patut disebut penjahat kelas hiu dan kelas buaya. Mereka pemangsa berdarah dingin yang menggunakan kekuasaan untuk memeras hak rakyat secara besar-besaran. Kalau mereka memiliki hati nurani, tidak akan ada niat picik untuk menggerogoti jatah rakyatnya. Walaupun mungkin sempat terbersit di isi kepala, niat itu akan segera dinafikan dan dibunuh dengan ingat bahwa uang-uang itu bukan diperuntukan baginya, tapi untuk membiayai kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya.

Akhir-akhir ini kita dibuat tercengang dengan banyaknya oknum pemimpin bangsa yang terjerat perilaku korup. Media mengabarkan kronologis penangkapan mereka oleh kepolisian dan KPK. Hal yang tidak habis untuk dipikir, tersangka yang telah terbukti merugikan negara dengan total milyar bahkan triliunan rupiah itu telah mati urat malunya. Ketika ada media yang meliput, mereka senyam-senyum seperti suci dari noda dan dosa. Melambaikan kedua tanggannya seperti seorang idola kepada fans club nya. Padahal kalau ia benar-benar memiliki marwah yang masih berfungsi, mungkin pilihannya adalah menangis akibat sesal atas perilaku tercelanya ini.

 

Tindakan Antisipasi

Seluruh dunia telah menyatakan perang terhadap korupsi. Karena memang perilaku hina ini lebih pantas disematkan sebagai sifat binatang yang rakus dan membuat rugi saja. Ini malah diadopsi oleh manusia yang sebenarnya dikaruniai hati nurani sebagai pendeteksi mana yang bajik dan mana yang jijik.

Indonesia sendiri cukup masif menanggulangi penyakit koroner dan menular bernama korupsi ini. Upaya negara untuk memberantas perilaku ini dibuktikan dengan dibuatnya lembaga independen yang fokus mengurusi persoalan korupsi. Di era presiden Megawati pemerintah membentuk KPK yang ditujukan untuk meringkus “tikus-tikus” pengkhianat bangsa. Lalu, pemerintah SBY pun meneruskan fungsi lembaga KPK ini. Bahkan di era kekuasaan Jokowi, KPK terus eksis dan menunjukan taringnya mengungkap kasus-kasus korupsi para oknum petinggi negeri.

Hanya saja karena banyak orang yang merasa terancam dengan keberadaannya, KPK selalu jadi bulan-bulanan untuk diobok-obok agar kinerjanya melempem. Banyak pihak yang merongrong tubuh KPK supaya jadi lemah tak berdaya. Tapi, lembaga bergerak atas nama panggilan jiwa ini terus bekerja keras untuk menghapuskan korupsi dari negeri ini. Contoh upaya pengebirian KPK terlihat dari banyaknya para petinggi KPK dipenjarakan akibat kasus-kasus tertentu yang terkesan diada-ada dan dibesar-besarkan.

Apakah ini bentuk kriminalisasi? Saya tidak berkompeten untuk menjawabnya. Bisa jadi, memang seperti apa yang diceritakan bang Tere Liye dalam novelnya berjudul Pulang bahwa di negeri ini pun ada invisible hand yang memegang kendali. Entahlah, semoga saja tidak sampai segitunya.

Tersebab penyakit korupsi sudah mewabah kemana-mana, menyebar kian lebar daya jelajahnya maka antisipasi atasnya harus dipertegas. Tindakan kuratif berupa pemberian sangsi hukum memang sudah kewenangan aparat penegak hukum. Namun, pekerjaan mengusir isme korupsi dari negeri ini adalah pekerjaan kita bersama. Semua komponen harus terlibat aktif untuk mengangkat senjata berperang melawan musuh nyata: korupsi di segala segi.

Selaku warga sipil, hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mencerabut korupsi beserta akar-akarnya adalah melalui upaya-upaya preventif. Pendidikan anti korupsi yang digadang-gadang sebagai solusi menghambat virus koruptif merupakan salah satu senjata ampuh untuk melawannya supaya tidak merajalela tumbuh.

Salah satu cara membentuk generasi anti korupsi di kemudian hari adalah melalui kanal pendidikan. Oleh karena itu, para pejuang pendidikan hendaknya bangga dengan tindakannya mencerdaskan bangsa sembari menjauhkan warga bangsa dari bencana korupsi juga.   

 

Komunitas Anak Penyemai Militansi Melawan Korupsi

Saya bersama 3 teman satu angkatan di prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI menginisiasi sebuah komunitas belajar dan bermain anak sejak bulan Mei 2016 lalu. Hingga kini komunitas itu sudah beranggotakan sekitar 30 anak-anak yang terdiri dari TK sampai kelas 6 SD. Senang rasanya bisa bermain setiap minggunya bersama anak-anak yang polos dan belum banyak melakukan dosa. Di pundak mereka, masa depan Indonesia akan dibebankan.

Kami namai komunitas ini dengan sebutan Planet Antariksa. Sebuah nama yang diberikan seorang adik kelas yang harapannya ketika anak-anak yang tergabung dalam komunitas ini kelak sudah besar, mereka akan jadi bintang-bintang dalam kehidupan. Bersinar memberi keindahan di tengah gulitanya malam sebagai gambaran dari betapa tak terprediksinya zaman di beberapa tahun kemudian. Mungkin gelap dan pengap dan banyak dipenuhi intrik-intrik tidak manusiawi. Siapa yang tahu?

Kegiatan kami setiap hari Sabtu di tiap minggunya mungkin terkesan sederhana. Hanya memfasilitasi mereka menyusun lego membentuk kereta, binatang-binatang atau sekadar monster-monster yang buruk rupa. Atau memberikan mereka beberapa paket puzzle untuk mengasah kemampuan mereka memecahkan masalah. Atau menyediakan buku-buku bacaan supaya kelak mereka lahap membaca dan gemar berdialektika. Atau sekadar melakukan permainan-permainan sederhana yang mengasah syaraf motoriknya supaya berfungsi dengan sempurna. Tapi, jangan keliru, kami menyisipkan misi-misi untuk membuat mereka jadi generasi yang anti membenci, anti berbuat sesuka hati, hingga anti bersikap rakus dan korupsi.

Visi kami yang bertumpu pada keimanan, pengetahuan, dan kearifan lokal memandu Planet Antariksa untuk bertumbuh menjadi wadah bermain dan belajar anak yang bersahabat. Waktunya shalat ashar tiba, kami shalat bersama-sama, berupaya tepat waktu memenuhi panggilan sang pencipta. Apakah ini bukan budaya anti korupsi? Karena sejatinya, berusaha menepati sesuatu sesuai waktu yang ditentukan adalah bentuk menghindari korupsi atas waktu.

Kami menanamkan kepada anak-anak nilai-nilai qana’ah atas sesuatu melalui cerita-cerita baik dari kisah para nabi, sahabat, orang-orang shaleh, legenda berbasis kearifan lokal yang positif serta cerita inspiratif lainnya. Kami selipkan pesan  bahwa perilaku serakah akan mengantarkan pelakunya pada sebuah bencana. Apakah ini bukan bentuk penanaman karakter supaya anak-anak suatu saat nanti tidak berani sama sekali menyelewengkan sesuatu yang bukan haknya?

Dari berbagai sudut pandang, secara agama maupun sosial tindakan korupsi adalah perilaku yang keji. Sama sekali tidak terpuji. Tidak ada sedikitpun celah kebenaran atasnya. Maka dari itu, korupsi harus dimusnahkan bahkan sejak hendak tumbuh.

 

sumber gambar: kakak pintar

  • view 53