Menuju Negeri Impian Dengan Selamat

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Agama
dipublikasikan 01 Januari 2017
Menuju Negeri Impian Dengan Selamat

Pemahaman tentang kefanaan dunia telah khatam kita kuasai. Bahwa dunia adalah persinggahan sementara. Persis seperti kita diam beberapa saat di sebuah bandara misalnya untuk transit, lalu kembali melanjutkan penerbangan ke tempat tujuan. Sangat sesaat. Serupa analogi yang terdapat dalam hadits Rasulullah Saw. bahwa manusia di dunia tak ubahnya seorang pengembara yang sebentar berteduh untuk kembali melanjutkan perjalanannya[1].

Secara teori, keniscayaan ini telah mengakar dalam diri manusia. Namun, dalam praktiknya terkadang jauh panggang dari api. Banyak musabab yang begitu membuat manusia tidak sadar bahwa mereka sebenarnya tengah mengingkari pemahamannya sendiri. Perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia mencerminkan kecongkakan kalau kehidupan di dunia akan selama-lamanya. Terbukti dari rajinnya perbuatan tidak dianjurkan bahkan dilarang oleh aturan agama malah menjadi sebuah kebiasaan. Dijadikan langganan sehari-hari. Padahal untuk urusan usia tak pernah ada yang mengetahui kecuali Yang Maha Memiliki. Apakah esok masih diberi kesempatan untuk bertaubat, ataukah jatah hidupnya lalu akan segera tamat. Itu begitu misteri. Gaib dan tak bisa diprediksi.

Keselarasan pemahaman dengan realisasi perbuatan sangat ditentukan oleh pengaruh akidah yang lurus. Apabila dimisalkan dengan sebuah pohon, akidah adalah akarnya. Ia yang menjadi penentu kualitas batang, dahan, daun hingga buahnya.

Dalam hal kehidupan beragama, buah yang dimaksud adalah amal perbuatan. Jadi, kalau terdapat ketimpangan antara apa yang dipahami dengan apa yang coba dijalani berarti ada kemungkinan tidak beres dalam keyakinannya itu. Perlu segera dibenahi. Kalau tidak, ia akan menyebar ke seluruh tubuh seperti halnya sel kanker yang dengan leluasa berkoloni menyebabkan rusaknya antibodi. Ujung-ujungnya mengancam berlangsungnya kehidupan.

Dalam menjalani kehidupan, mendikotomikan antara urusan dunia dan akhirat adalah sebuah kecatatan dalam berlogika. Keduanya adalah kesatuan seperti halnya jiwa dan raga. Dua dalam satu. Manunggal yang tersusun dari unsur ganda. Di mana mengurusinya secara terpisah tanpa mengaitkannya sama sekali hanya akan membuat ketidakteraturan berkepanjangan. Bahkan akan sangat berdampak luar biasa apabila paham ini diadopsi pada sistem makro, dalam sebuah negara misalnya yang digawangi oleh para pemimpinnya. Pijakan pandangan keliru ini akan merambat cepat, merusak sistem pemikiran, seperti kerja benalu yang menghambat pertumbuhan tanaman. Merusak potensi secara besar-besaran.

Islam sendiri adalah agama dengan kekhasan yang seluruh ajarannya begitu sempurna. Mengatur segala ihwal kehidupan tanpa terkecuali. Dari aturan tidur hingga urusan kubur. Dari perkara cinta sampai tata cara negara. Mulai perihal talak hingga ilmu falaq. Lengkap ditata di dalamnya. Apabila ada yang keukeuh[2] dengan upaya pemisahan antara kedua urusan itu, maka ia sedang berupaya mengerdilkan ajaran agama agung dan kamil ini.

Perjalanan hidup di dunia tak ubahnya sebuah tugas untuk mencari harta karun. Diam di satu tempat hanyalah sejenak untuk beristirahat. Tidak untuk selamanya. Karena ada tugas yang dibebankan untuk menjalankan sebuah misi yang hakiki. Mencari keridhaan Ilahi sebagai tiket berkumpul di negeri impian, tempat yang diliputi kebahagiaan. Yakni, surga hingga bertemu dengan-Nya dengan tanpa perantara.

Dalam proses menggapai tempat istimewa yang penuh dengan karunia itu ternyata lekat dengan aral dan rintang. Tidak lurus dan mulus selayaknya jalan tol yang diurus dengan serius. Ada pihak-pihak yang tidak ingin harta karun dan negeri impian itu didapatkan dengan mudah saja. Karena bila itu terjadi, mereka tidak memiliki rekan untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan siksaan. Sebut saja, iblis, syaitan dan antek-anteknya yang akan menangis sejadi-jadinya apabila negeri impian beserta seluruh isinya berhasil ditapaki oleh orang-orang beriman.

Negeri impian itu tak ubahnya sebuah pulau di tempat jauh sana yang harus ditempuh dengan perjalanan berdarah-darah. Kita selaku orang-orang muslim diberikan waktu untuk menyebrang dari tepi pantai ke negeri itu berada. Celakanya kuota usia sebagai waktu tempuh menujunya tidak diberi bocorannya. Karena hal ini, siapa yang benar-benar mengidamkan tempat yang dijanjikan, masa yang diberikan itu akan benar-benar dimaksimalkan. Sebab ia sedang berpacu dengan waktu untuk sampai dengan cepat dan selamat. Kalau-kalau sebelum tujuan itu tergapai ternyata waktunya dinyatakan sudah selesai, itu kan jadi percuma.

Perjalanan untuk tiba di tepian pulau harapan hanya bisa diraih dengan perbekalan yang lengkap. Dari mulai peta perjalanan, kompas penunjuk arah, logistik berupa bahan-bahan makanan, pakaian, hingga persiapan fisik dan mental serta alat transportasi semacam sampan atau kapal pesiar yang gagah dan perkasa.

 

Alquran Sebagai Pemandu Jalan

Peta perjalanan umat Islam untuk sampai di tempat terakhir yang ditujunya sudah diberikan. Bahkan memiliki multifungsi yang juga sebagai penunjuk arah dan penawar letih serta lelah selama perjalanan. Ia adalah Alquran Al-Karim yang disematkan padanya berbagai julukan mulia seperti Al-Huda, Al-Bayan, Al-Dzikr, hingga Al-Syifa.

Kemuliaan Alquran sebagai kitab suci terus menerus tanpa henti dikabarkan ke setiap generasi. Betapa ia memuat banyak nilai yang mengatur urusan-urusan kehidupan. Sebagai Firman Allah yang memungkasi kitab-kitab sebelumnya, Alquran dikatakan bersifat penyempurna.

Pada khutbah shalat Jumat (2 Desember 2016) di masjid Al-Furqon UPI disampaikan oleh khatib bahwa “kalau ada umat agama tertentu yang bangga dengan kitab sucinya, maka umat islam lah yang berhak paling berbangga dengan Alqurannya[3]”.

Tidak berlebihan apa yang disampaikan oleh Dr. Aam Abdussalam, MPd ini. Khatib yang juga Ketua Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI ini menekankan betapa Alquran mampu memberikan efek psikologis yang mampu menggerakan manusia yang membacanya untuk berbuat kebajikan. Ini baru di taraf membaca saja. Bagaimana dengan orang-orang yang diberikan karunia ilmu Alquran? Maka kebaikan-kebaikan Alquran bisa setiap saat mempengaruhi kejiwaannya untuk kemudian menambah setiap inci keimanan kepada Sang Pemilik Firman.

Bahkan saking luarbiasanya keajaiban Alquran, seorang ‘Abdullah Darraz[4], dalam Al-Naba’ Al-‘Azhim memuji Alquran sebagai berikut:

“Ayat-ayat Alquran bagaikan intan: setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Dan tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang Anda lihat.”

Hari ini, umat muslim,--jangan jauh-jauh lingkupnya dunia--coba tengok saja Indonesia dengan penduduk mayoritasnya muslim terkesan begitu kesulitan meraih kejayaan yang telah dijanjikan. Mereka seperti linglung sendiri, bingung kemana harus melangkahkan kaki dan mengendalikan arah kemudi. Sudah bisa ditebak bahwa mereka berislam karena hanya ikut-ikutan. Tidak mengerti esensi pilihannya sendiri. Padahal apabila opsi yang telah dipilih untuk menjadi muslim diikuti dengan berbagai konsekuensinya seperti mempelajari Alquran dan hadits sebagai pedomannya, hal-hal seperti ini tak akan pernah terjadi. Nabi dari jauh-jauh hari telah meramalkan bahwa akan tiba saatnya banyaknya umat Islam di kemudian hari tak ubahnya buih di lautan. Pengabaran ini kini betul-betul jadi tidak membuat kita sangsi lagi. Ini akibat dari kebanyakan mereka yang menjadikan Islam hanya kebanggaan di KTP semata. Belum dihayati sepenuhnya sebagai pedoman dalam kehidupan.

Alquran sebagai peta penunjuk jalan, sebagai alat mempermudah menuju negeri impian serta sebagai petunjuk arah, kini hanya rapi disimpan di lemari-lemari. Bahkan sampai sekian tahun lamanya masih utuh karena jarang disentuh. Hanya jadi barang pajangan untuk memperindah ruangan. Umat islam telah dibutakan gemerlapnya dunia hingga tidak sempat belajar cara mempergunakannya, alih-alih sekadar membacanya saja pun tidak mampu. Wajar apabila perilakunya tak karuan akibat kehilangan tuntutan. Terperangkap nyamannya beragam tontonan yang melenakan.

 

Amal Saleh Sebagai Kapal Pesiar yang Gagah Perkasa

Untuk sampai ke negeri impian, kita harus mampu menyebrangi samudra yang luas dan jauh tak terkira. Silakan naik apa saja yang penting pertimbangkan juga estimasi waktu tempuh dan perkirakan banyaknya perbekalan yang dipunya. Banyak pilihan transportasi yang bisa digunakan. Menaiki kapal pesiar besar bersama banyak manusia lainnya. Naik sampan kecil dengan kapasitas yang hanya menampung beberapa orang saja. Atau bahkan bisa mengandalkan kemampuan diri sendiri dengan berenang sendirian. Tapi ini terlalu berisiko. Pemangsa buas yang sesekali mengintai karena kelaparan harus dihindari supaya tidak sampai dilahap.

Alat transportasi itu semua adalah permisalan bagi wasilah yang mampu menyampaikan kita ke surga-Nya. Kepandaian dalam memilih menentukan seberapa efektif serta efisien tiba di titik tuju itu.

Ada banyak dari kita yang ingin masuk tempat yang dijanjikan sendirian saja. Egoisme merasuk dalam diri sejadi-jadinya. Ingin bahagia tidak berbagi dengan yang lain. Orang-orang di sekitar biar saja tersesat dan kebingungan kemana harus berjalan. Apakah perangai macam ini yang dicontohkan baginda Rasulullah yang mulia? Tentu tidak. Kekasih Allah ini mengajarkan betapa kolektifitas selalu lebih utama daripada menjalankan kebaikan hanya sendiri. Lihat contohnya pada penekanan dalam salat fardu lewat pengabaran di hadis-hadisnya. Sungguh mengisyaratkan bahwa melakukannya secara bersama-sama lebih utama daripada mengerjakan sendirian saja.

Dari banyak pilihan alat transportasi tersebut, pilihlah yang bisa memuat banyak penumpang. Percayalah, itu akan membikin hati jadi tenang dan terasa lebih lapang. Beramal baik tidak hanya dilakukan sendiri namun mengajak khalayak untuk sama-sama menabung amal untuk tiket selamat di akhirat. Jangan sampai hanya menyebrangi samudra kehidupan hanya bermodalkan naik sampan atau berenang seorang diri sebagai representasi beribadah sungguh-sungguh sendirian dan mengabaikan orang-orang yang berada di lingkaran keburukan.

Yang akan mengantarkan kita ke surga adalah dunia yang berada di genggaman. Ini adalah bekal berharga dalam mengarungi samudra yang penuh dengan berbagai ancaman. Memperhatikan keseimbangan antara keduanya tanpa membenturkan satu sama lain adalah kunci meraih rida Illahi.

 

[1] Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tak ada kecintaan dunia bagiku, aku di dunia ini hanyalah seperti pengembara yang sedang berteduh di bawah naungan pohon, setelah itu akan pergi dan meninggalkannya.”

(Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, al Hakim, dan ad-Dhiyaa. Lihat Shahiihul Jaami’ no 5668)

[2] Keukeuh (bahasa Sunda) yang artinya tidak mau mengalah atau keras kepala

[3] Tema khutbah yang disampaikan ialah mengenai kemuliaan Alquran serta berbagai bentuk upaya musuh-musuh Islam untuk meniadakannya.

[4] Shihab, M.Q. (2013). “Membumikan” Alquran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Penerbit Mizan: halaman 23.

 

sumber gambar: Dakwah Syariah

  • view 59