Teruntuk Pahlawan: Guru-guru Teladan  

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 November 2016
Teruntuk Pahlawan: Guru-guru Teladan   

Membuka media sosial, mata ini disuguhi dengan berbagai kata-kata dan gambar-gambar yang berisi ucapan selamat hari guru. Saya jadi tiba-tiba bersemangat sekaligus bercampur haru. Bagi saya pribadi, ucapan selamat hari guru berarti selamat hari bapak, selamat hari mamah, selamat hari teteh, selamat hari kakek, selamat hari uwa, dan selamat hari saya sendiri. Yang saya selamati barusan karena mereka adalah guru-guru. Orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, memberi pencerahan di hampir sepanjang hidupnya. Saya mungkin yang masih belum sah mendapat predikat pahlawan tanpa tanda jasa ini.

Membicarakan tentang jasa-jasa guru tak ubahnya seperti membincangkan aliran air di sungai, dari hulu ke hilir. Tidak akan ada ujungnya. Kalaupun berakhir di lautan luas, air itu akan kembali menuju hulu lalu mengalir lagi ke hilir dan arusnya berakumulasi di tempat yang lapang. Begitu seterusnya menjadi satu perputaran tanpa henti yang secara teori dinamakan siklus hidrologi.

Guru merupakan sosok yang layak kita junjung martabatnya serta kita hormati sepanjang masa. Tidak ada istilah mantan guru sebagaimana tidak ada sebutan mantan bapak dan mantan ibu. Mantan suami atau isteri mungkin ada. Tapi sekali lagi, guru akan terus jadi guru kita selama nyawa masih dikandung badan. Mereka yang telah berbaik hati memberikan berbagai pencerahan, beraneka inspirasi, dan menjejalkan banyak pengetahuan sangat tidak layak untuk dilupakan. Begitu keterlaluan meski terbersit saja pikiran demikian.

Guru TK dan SD telah mengajari kita dengan begitu cermat tentang huruf dan angka. Tentang menulis dan membaca. Tentang menghitung dan pentingnya menabung. Tentang berbaris rapi sebelum masuk ruangan kelas. Memeriksa kuku kalau-kalau ada yang panjang. Itu semua bukan tentang ajaran fisik belaka. Di dalamnya ada ajaran-ajaran yang membentuk corak berpikir dan bertindak supaya memiliki gairah disiplin tingkat tinggi. Pantaskah kita menafikan apa-apa yang telah mereka berikan?

Jangan ditanya tentang perhatian guru ketika siswanya kebelet pipis atau buang air besar. Diantarnya ke kamar kecil supaya mereka kembali lega dan nyaman meneruskan belajar. Juga ketika siswa-siswa menangis, guru dengan cahaya cintanya, berusaha menenangkan. Guru, ketulusanmu bukanlah rekaan.

Guru di SMP lalu menindaklanjuti perjuangan guru SD untuk memberi konsep-konsep pengetahuan yang mulai rumit. Kesulitan mendidik anak-anak SMP tak lebih mudah ketimbang ketika mereka masih unyu-unyu di bangku SD dulu. Masa-masa ini memungkinkan pencarian identitas diri yang baru dimulai. Segala sesautu ingin dicoba dan rasa penasaran kian membuncah. Jangan salah, bahwa siswa di masa-masa sekolah menengah pertama ini sudah mulai mengenal asmara. Guru meksipun tidak memperlihatkan perasaannya ke permukaan sebenarnya begitu khawatir dengan perkembangan anak didiknya. Karena semua hal mungkin saja terjadi.

Di tingkat berikutnya, guru mulai sedikit bisa bernafas lega. Siswa mereka sudah mulai bisa diajak “bicara”. Masalah pribadi yang biasanya jadi pangkal masalah di sekolah dapat dikomunikasikan dari hati ke hati. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya tak kalah membuat gundah. Siswa di masa-masa SMA mulai berani berontak. Yang paling parah, sekalinya mereka merasa terancam, melawan dan menjahili gurunya bisa saja terjadi. Berat benar tugas guru-guru SMA ini. Namun, dengan kesabaran ekstra tinggi, guru memperlakukan siswanya dengan penuh kasih dan sayang. Mengusahakan yang terbaik supaya mereka bisa bertingkah sewajarnya. Bahkan mengarahkan mereka supaya memiliki prestasi membanggakan. Kadang-kadang, ketika siswa memberi air tuba, guru malah membalasannya dengan air susu. Begitu mulia hatimu, guru.

Jangan pula lupakan guru-guru yang memfasilitasi kita berpikir lebih kritis di bangku perguruan tinggi. Mereka mungkin tidak lagi dipanggil dengan sebutan pak guru dan bu guru, tapi hakikatnya dosen itu tetap seorang yang layak digugu dan ditiru. Mereka membaktikan dirinya untuk menjadi pelita, menerangi pikiran yang sebelumnya gelap sehingga bisa terterangi cahaya ilmu.

Melalui guru-guru di berbagai jenjang pendidikan kita diperkenalkan dengan dunia yang begitu luas. Jasa yang tak terhingga bahkan tak bisa diganti dengan setumpuk materi. Mereka akan begitu bangga jika anak didiknya di kemudian hari datang kembali kepadanya dengan berbagai kabar gembira. Sukses di pekerjaan dan tidak membikin hatinya sakit dengan kabar-kabar negatif seperti berperilaku tidak terpuji apalagi merugikan orang lain. Itu saja bagi mereka merupakan bayaran yang mahal. Jadi jangan berpikir untuk membalas jasa dengan segudang harta, karena mereka tak butuh itu semua. Keikhlasan guru mengabdi terlalu rendah kalau diganjar dengan sesuatu yang bernilai kebendaan semata.

Di momentum hari guru nasional ini, saya berharap semoga kesejahteraan bagi mereka bukan lagi barang mahal. Guru-guru layak diapresiasi dengan imbalan yang pantas. Bukan hanya tenaga, pikiran, dan waktunya saja yang diperas. Sudah selayaknya guru memperoleh haknya sebagai seseorang yang sudah menuntaskan kewajibannya dengan totalitas. Mengabdi bagi bangsa melalui pengajaran kepada generasi penerus serta mendidiknya dengan akhlak mulia dan keteladanan.  

Di ujung paragraf terakhir tulisan ini, saya ingin mengungkapkan rasa syukur kepada para guru saya. Kalau boleh meminjam kedalaman lautan yang ada di dunia ini, maka kedalaman ucapan terima kasih saya seperti dalamnya lautan itu. Sulit terjelaskan. Kepada para guru SD di SDN Cikondang I, guru-guru di MTs. Al-Ikhlas, guru-guru di SMAN I Tasikmalaya, dosen-dosen di D3 Perencanaan Sumber Daya Lahan UNSOED, para dosen di Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI, serta para ustadz di Pondok Pesantren Al-Ikhwan Cibeureum Tasikmalaya saya ingin berkata, “hatur nuhun atas kebaikannya”. Saya bisa seperti sekarang ini tak lepas dari bimbinganmu, wahai guru-guruku. Semoga kalian senantiasa berada dalam lindungan-Nya dan diberikan persediaan kesabaran yang tak terhingga dalam menjalani aktivitas mencerdasakan kehidupan bangsa. Semoga kalian dimampukan untuk terus menginspirasi generasi negeri ini.

 

 

Bandung, 25 November 2016

Seorang calon guru, Muhammad Irfan Ilmy

  • view 151