Pemuda yang Kembali ke Desa

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 November 2016
Pemuda yang Kembali ke Desa

Ini adalah catatan saya tentang  pengalaman serta refleksi setelah mengikuti sebuah acara yang diinisiasi Indonesia Youth Inspiration (IYI) Bandung bernama Muda Balik Desa. Apa itu IYI? Silakan dikepoin sendiri di IG nya @idyouthins!

Saya menuliskan ini karena merasa kegiatan Muda Balik Desa memberikan pengaruh positif bagi diri saya. Sayang kalau sensasinya hanya dirasakan oleh diri sendiri. Langsung saja ya. Selamat membaca!

 

Hari Pertama

Meeting point  untuk berangkat ke lokasi telah disepakati ketika gathering  seminggu sebelumnya yaitu di depan Telkom University. Kami berangkat dari sana dengan sebuah angkot. Sementara para panitia naik motor dengan beberapa pertimbangan. Setelah kurang lebih 2 jam akhirnya perjalanan bersesak-sesak ria di angkot berakhir juga.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami tiba di rumah kang Naz. Kang Naz adalah guru sekaligus pembina ekskul KIR di sekolah yang akan kami datangi.  Rumah beliau jadi basecamp panitia dan peserta. Suasana dingin mulai menusuk tulang. Tak jauh beda dengan suasana saya di tempat KKN dulu, Lembang.

Sebelum acara inti dimulai, kami menjalani agenda MAKSIAT (makan, shalat, istirahat). Akronimnya meni sadis ya. Saya ganti deh, jadi ISHOMA (istirahat, shalat, makan). Itu-itu saja sebenarnya.

Di sela-sela istirahat, panitia mengumpulkan kami untuk briefing mengenai gambaran acara baik secara umum dan berupa hal-hal teknis. Kegiatannya adalah semacam mini expo yang mengenalkan masing-masing kampus di mana para volunteer berasal. Harapan setelah diselenggarkannya acara ini, para siswa bisa mengenal sejak dini kampus yang akan dipilih pasca SMA serta mekanisme untuk bisa menjadi bagian dari kampus itu.  Kami selaku volunteer menyimak penjelasan dari panitia dengan saksama. Tidak ingin melewatkan info penting tentang hal-hal yang harus kami lakukan.

Sekitar jam 12.30 WIB setelah sembahyang, dan juga perut terisi sehingga kenyang, kami melangkahkan kaki (sebenarnya naik motor, he) ke sekolah tujuan, SMA 6 Muhammadiyah Kertasari. Jaraknya kurang lebih sekitar 300 meter. Ditempuh jalan kaki juga bisa sebenarnya. Tapi, untuk memaksimalkan waktu yang ada, mobilisasi dengan motor pun jadi opsi.

Setibanya di sekolah, saya melihat para siswa dengan wajah-wajah penasaran. Persis seperti saya dulu ketika SMA dan kedatangan kakak-kakak alumni yang hendak menyosialisasikan kampusnya. Wajah malu-malu, air muka yang nampak penasaran terlihat dari keluguan siswa-siswa asli desa ini.

Pertama kali kesan saya melihat SMA tersebut adalah mengingatkan saya ke sekolah saya dulu ketika MTs. Tak jauh beda. Sekolah di desa dengan karakteristik siswa yang mencoba mengikuti gaya-gaya siswa di kota.

Ketika masuk ke kawasan sekolah para pengunjung termasuk kami disambut dengan spanduk berisi ucapan selamat kepada 3 orang siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri. Bagi mereka, ini merupakan kebanggaan yang begitu besar. Dipampang seperti itu bertujuan untuk memotivasi siswa lainnya agar lebih rajin belajar supaya berkesempatan melanjutkan studi di kampus-kampus negeri.

Ruangan tempat kami melaksanakan acara berada di kelas yang kang Naz sebagai wali kelasnya. Saya lupa kelas IPA berapa. Kelasnya berukuran cukup besar. Sebagai seorang guru kece, kelas yang Diwalikelasi kang Naz ini dipenuhi quotes yang menginspirasi gitu. Membedakan dengan kelas lainnya.

Karena siswa yang akan mengikuti acara ini lumayan banyak, kursi dan meja yang ada di ruangan kelas dipindahkan ke pinggir supaya para siswa bisa lesehan. Setelah sebelumnya lantai kelas disapu, beberapa siswa mulai masuk ke dalam ruangan kelas.

Kegiatan mini expo dimulai setelah sebelumnya diawali dengan serangkaian sambutan mulai dari ketua pelaksana, perwakilan sekolah dan pembina KIR SMA 6 Muhammadiyah Kertasari. UPI ternyata dapat urutan pertama untuk mempresentasikan mengenai kampusnya. Saya bersama Syifa dan Sari maju ke depan untuk membuat adik-adik kabita masuk UPI. Sekitar 10 menit lamanya kami mencoba menampilkan keunikan UPI dibanding kampus lainnya.

Senang ternyata bisa berbagi informasi dan inspirasi kepada adik-adik SMA di sana. Setidaknya dari sekian siswa yang hadir pada waktu itu saya berharap ada yang tertarik untuk masuk UPI untuk kemudian bercita-cita menjadi agen pendidikan yang membawa misi mulia memperbaiki pendidikan negeri ini.

Selanjutnya teman-teman dari kampus lain pun mendapat kesempatan untuk memperkenalkan kampusnya masing-masing. Teman-teman dari ITB, UI, STKS, UIN Bandung, dan UNPAD bergiliran menyajikan profil kampusnya.

Setelah semua volunteer selesai memberikan informasi secara umum mengenai kampusnya, acara dilanjutkan dengan sharing lebih mendalam seputar kuliah. Masing-masing volunteer bertugas membawahi satu kelompok yang terdiri dari 6-7 siswa.  

Hal-hal semacam jalur masuk, beasiswa, gambaran tentang sistem perkuliahan, kegiatan mahasiswa, hingga berbagai kesempatan ketika kelak menjadi mahasiswa saya jelaskan kepada adik-adik mentor saya.

Ketika itu, saya coba menceritakan pengalaman pribadi saya yang pernah kuliah di kampus lain dulu sebelum akhirnya sekarang kuliah di UPI. Lalu, berbagai cerita inspiratif lainnya yang juga berhasil menginspirasi saya, saya kembali ceritakan ke mereka.

Semoga ada yang bisa diambil dan menjadi pengingat bahwa semua orang berkesempatan menjadi orang sukses. Salah satu jalannya melalui akses ke perguruan tinggi dan menjadi mahasiswa.  

Kurang lebih 45 menit kami melingkar saling mengakrabkan diri dan berbagi cerita tentang mimpi masing-masing. Di awal diskusi saya meminta adik-adik untuk menyebutkan kampus dan jurusan impian yang diinginkan. Saya cukup terharu waktu itu. Tapi tidak sampai menitikkan air mata sih. Hanya membatin saja. Semoga mimpi mereka bisa tercapai.

Setelah semua rangkaian acara mini expo kampus ini, kami (panitia, volunteer, dan siswa-siswa) berfoto bersama. Keceriaan yang terabadikan di bingkai kamera semoga bisa menjadi dokumentasi bahwa kami pernah saling bersua. Ketika nanti ada rindu yang datang menggebu, setidaknya foto itu bisa menjadi penawar penghilang sedikit rasa sakit akibat deraan keinginan untuk berjumpa.

Lelah terbayar sudah dengan senyum yang tersungging dari bibir-bibir mungil para siswa. Sedikit bakti yang kami selaku mahasiswa berikan semoga tergolong ikhtiar untuk mengabdi pada masyarakat. Sebagaimana salah satu dari 3 tri dharma yang seharusnya kami pegang selaku insan akademik di perguruan tinggi untuk lingkungan di sekitarnya.

Di malam harinya, kami para volunteer dan panitia bincang-bincang ngalor-ngidul. Dari mulai inspirasi hingga calon isteri. Dari mulai mantan hingga topik tentang masa depan. Meriah pokoknya. Di perbicangan itu, kang Naz diposisikan sebagai pemateri. Pengalamannya bagitu bejibun soalnya. Saya begitu takjub dengan pilihannya untuk memutuskan mengajar di sekolah yang berada di desa padahal kesempatan berkarir di posisi strategis begitu terbuka.

Di sinilah pelajaran penting bisa didapatkan. Bahwa ketika sudah cinta yang jadi pondasi untuk berbuat, tak ada peluang bagi kesempatan untuk merusak kesucian dari setiap niat baik. Mengabdi kepada negeri melalui jalur pendidikan setidaknya menjadi opsi yang dipilih di tengah banyaknya pilihan menggiurkan lainnya.

 

Hari Kedua

Kegiatan di hari kedua adalah melaksanakan wawancara ke warga di kampung Lodaya Kolot. Aktivitas ini ditujukan untuk melatih kemampuan siswa KIR SMA 6 Muhammadiyah Kertasari supaya punya kemampuan dalam mewawancarai dan menggali data dari objek penelitian. Para volunteer kembali mendampingi masing-masing kelompok untuk memberikan arahan. Ini semacam simulasi atas penjelasan yang telah diberikan secara umum di hari pertama.

Kampung Lodaya Kolot sendiri terletak kurang lebih 15 km (ini hanya perkiraan) yang ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Para siswa berangkat ke sana dengan transportasi mobil bak terbuka. Sementara itu, para panitia dan volunteer naik kendaraan roda dua. Bukan sepeda ya.

Di sepanjang perjalanan terlihat pemandangan yang menyejukan mata. Keasrian kehidupan di pedesaan yang nampaknya sebagaian besar warganya menjadikan bercocok tanam sebagai pekerjaannya. Saya kurang tahu jenis sayuran apa yang ditanam di sana. Pokoknya jenis tanaman yang pas di tanam di daerah berhawa dingin. Saya membayangkan beberapa puluh tahun ke depan. Ingin rasanya menghabiskan masa tua bersama isteri tercinta dan anak-anak tersayang di desa yang tak jauh beda dengan deskripsi saya tentang desa ini.

Mobil yang mengangkut para siswa ternyata tidak bisa menjangkau lokasi kita melakukan wawancara. Mobil hanya bisa sampai kampung/desa terakhir sebelum kampung Lodaya Kolot. Dari sana kami semua berjalan kaki untuk mencari kitab suci. He. Bukan ding. Untuk menyelesaikan tugas melakukakan wawancara yang ditujukan agar mendapatkan banyak informasi.

Kaki-kaki mungil kami menyusuri jalan setapak yang menanjak. Di sisi kanan-kiri kami adalah kebun teh. Sejauh mata memandang, kami disuguhi hijaunya deretan kebun teh milik salah satu perkebunan (entah swasta atau milik pemerintah).

Karena mungkin sebagian dari kami jarang mempergunakan kakinya untuk berjalan-jalan di alam, banyak di antaranya yang tumbang dan memilih duduk-duduk beristirahat melepas penat. Lelah. Keringat mengucur membasahi pipi yang terbakar matahari. Meskipun saya sendiri orang gunung, akrab dengan jalan kaki di medan menanjak, tapi karena lebih banyak tinggal di Bandung, jadinya tidak terbiasa lagi. Ngos-ngosan juga. Semangat-semangat! Semoga sampai dengan selamat.

Saya sempat menggerutu di dalam hati. Mana sih kampungnya. Meni jauh pisan. Sepertinya yang saya rasakan ini juga dirasakan teman-teman lainnya. Dan memang di jalan yang membelah kebun teh itu tidak terlihat sama sekali tanda-tanda kehidupan. Hingga pada akhirnya setelah berjalan cukup jauh, terlihatlah atap-atap rumah yang menandakan perjalanan kami akan segera diakhiri.

Waktu mulai siang dan kegiatan inti di hari ini segera dimulai.  Semua peserta dan volunteer dikumpulkan di lapang voli untuk diberikan pengarahan. Setelah dikumpulkan sesuai kelompok yang dibagikan di hari sebelumnya, para siswa langsung menuju objek wawancara.

Ada 3 sasaran warga yang diwawancara. Pertama, orang tua yang sedang berada di rumah. Kedua, warga yang tengah bekerja. Dan, ketiga, anak-anak yang sedang bermain. Wawancara ini difokuskan untuk mengetahui data kasar mengenai bidang pendidikan di kampung Lodaya Kolot.

Saya mendampingi 4 siswa yang masing-masing siswa kelas X, IX, dan IX. Awalnya adik mentor saya ada 6 orang. Tapi, entah karena alasan apa, 2 orang lagi tidak hadir di kegiatan hari ini, Reni dan Hasan. Keempat siswa itu adalah Dede Haldi, Siska Amelia, Nia Oktaviani, dan Dikdik Sofian.

Setelah merundingkan strategi wawancara sehingga mendapatkan data dengan efektif kami langsung mencari warga yang akan diwawancarai. Saya menginstruksikan kepada adik mentor saya untuk memilih sendiri rumah mana yang akan didatangi.

Akhirnya kami memilih sebuah rumah tepat di samping masjid. Di dalam rumah tersebut ada banyak orang ternyata. Mungkin di akhir pekan seperti ini mereka sedang berkumpul saja melepas penat selama beberapa hari bekerja memetik teh.

Saya mewakili adik-adik memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kami bertamu kepada salah satu warga yang dikunjungi. Mereka terlihat begitu senang.

Adik-adik bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh panitia. Sebelumnya saya memberikan sedikit pengarahan supaya mereka tidak kaku ketika bertanya kepada narasumber. Sesekali saya pun menambahkan pertanyaan kepada narasumber.

Dari informasi yang berhasil digali dari narasumber, saya jadi merenung. Kehidupan mereka yang kemungkinan selamanya terus berada di tengah-tengah perkebunan teh begitu membuat saya termangu. Tidak habis pikir. Semua perasaan bercampur. Antara tidak tega dan tidak mampu membayangkan kalau kondisi itu terjadi pada saya. Betapa hidup mereka hanya ada di sebuah kampung yang hanya dihuni kurang dari 100 kepala keluarga.

Bayangan tentang kemirisan kampung ini pun diperparah dengan akses jalan menuju kampung ini yang saya kira begitu sulit ditempuh. Kabar yang kami dapat juga menyebutkan bahwa kalau ada warga yang melahirkank ia akan dibawa dengan motor. Terbayang betapa sakit yang diderita oleh sang ibu hamil itu.

Kehidupan mereka akan terus seperti itu kecuali ada perubahan yang diinisiasi oleh seseorang atau lembaga tertentu yang berjalan berkelanjutan. Yang paling mungkin nampaknya adalah dengan memberikan fasilitas memadai untuk para pelajar di sana supaya bisa melanjutkan pendidikannya setinggi-tingginya sehingga bisa jadi orang yang mapan baik secara materi maupun pemikiran. Setelah itu, mereka bisa membangun kampungnya secara bersinergis dengan warga.

Tapi, permasalahannya ternyata tidak berhenti sampai di sana. Yakni keterbatasan dalam hal ekonomi yang juga berkelindan dengan kesulitan dalam hal informasi sebagai buah dari tingkat pendidikan mayoritas warganya yang tidak tinggi. Ini jadi semacam lingkaran setan yang ujungnya sangat sulit untuk ditemukan. Bisa diputus hanya oleh satu jalan. Pendidikan.

Saya bersyukur bisa terlibat di kegiatan positif ini. Setidaknya dengan keikutsertaan di kegiatan ini memberikan banyak penyadaran bahwa seseorang dikatakan berharga karena banyaknya faedah yang telah diberikan. Banyak harta kalau tidak pernah memberikan guna pada orang lain di sekitarnya, itu percuma. Banyak ilmu tapi tidak mampu mencerahkan orang-orang di sekelilingnya, itu jadi sia-sia.

Semoga muda balik desa jilid 2 dan jilid-jilid berikutnya segera bisa terlaksana. Teman-teman yang kebetulan membaca tulisan saya, silakan mengikuti acara ini. Insya Allah banyak manfaatnya. Selain menginspirasi siswa-siswa di desa, kita sebagai volunteer pun banyak mendapat inspirasi yang harganya tak terjangkau oleh materi.

 

Bandung, 23 November 2016

Muhammad Irfan Ilmy

  • view 169