Mengabdikan dan “Mengabadikan” Diri Lewat Rajutan Kata-kata

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Motivasi
dipublikasikan 14 November 2016
Mengabdikan dan “Mengabadikan” Diri  Lewat Rajutan Kata-kata

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." 
Pramoedya Ananta Toer[1]

Menjadi mahasiswa merupakan mimpi besar bagi hampir mayoritas pelajar setingkat SMA bahkan SMP sekalipun. Saya termasuk salah satu orang yang mengidolakan sosok mahasiswa ketika SMA dulu. Jas almamater yang menjadi kebanggaan mahasiswa menjadi semacam barang mewah dan terlihat gagah jika dikenakan. Ingin rasanya sesegera mungkin memakainya dan membuatnya basah dengan keringat perjuangan menjunjung kebenaran.

Mahasiswa dikenal sebagai pembela rakyat. Semua orang tahu hal ini dari berbagai sumber bacaan ataupun media masa—meskipun pihak media terkadang tidak adil memberitakan kejadian sesungguhnya dan ditambah bumbu-bumbu tertentu. Mereka—mahasiswa—tidak pernah gentar akan teriknya jalanan. Tidak pernah berkeluh atas ancaman pentungan petugas. Tidak pernah nyali menciut atas ancaman kematian dari pihak yang merasa terusik. Mereka mahasiswa yang telah selesai dengan kesibukan dirinya dan mengabdi untuk rakyat.

Belakangan, ketika saya pertama kali menginjakan kaki di kampus, memang apa yang di-ekspektasikan tentang sosok mahasiswa begitu adanya. Namun, ironisnya budaya mahasiswa yang digaungkan sebagai agent of change sekarang mulai bergeser menjadi mahasiswa yang tukang hura-hura. Di setiap sudut kampus banyak dari mereka hanya luntang-lantung tidak jelas. Kalangan yang diamanahi sebagai social control malah sepertinya jauh panggang dari api. Kenyataannya berbanding terbalik dengan teori. Mereka sesekali—bahkan mungkin kerap kali—asyik bermesraan dengan yang disebut teman wanitanya. Kadang pula diskusi ngalor-ngidul  tanpa topik yang pasti, tanpa moderator. Bahkan tidak jarang juga hanya berisi overdosis humor hingga ekspresi pikiran-pikiran kotor.

Hari ini, hanya segelintir mahasiswa yang masih menyadari perannya tidak hanya untuk belajar di ruang-ruang kelas saja. Berdasar hal ini, kiranya  mahasiswa perlu merekonstruksi pemikirannya tentang makna dari nama besar yang mereka sandang. Bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya sekadar kuliah-pulang, kuliah tak hanya sebatas ujian di atas kertas. Namun, mahasiswa sejatinya menjalankan peran sebagai insan yang dirindukan. Oleh siapa lagi kalau bukan oleh rakyat yang tertindas, rakyat kecil yang kerap kali hak-haknya diabaikan, rakyat yang tidak mampu berbuat apa-apa ketika “gajah yang dzalim” menginjaknya secara pelan-pelan.

Mahasiswa merupakan sebuah  “kasta” yang seharusnya berdiri di pihak rakyat sebagai bentuk balas budi. Bukankah uang kuliah, uang bangunan—terutama kampus negeri—adalah hasil perasan keringat rakyat? Lalu ketika rakyat tertindas, rakyat tercekik karena harga BBM naik, mahasiswa ada di mana? Ada di pihak siapa?

 

Menulis “memanjangkan usia”

Semua orang bisa berkata-kata. Setiap hari mustahil tak ada kata yang tidak terlontar dari mulut manusia—terkecuali mereka yang terbatas tak bisa bicara. Manusia dengan sebutan makhluk sosial berinteraksi melalui bertukar maksud lewat kata-kata. Saling menransfer informasi lewat bicara. Namun, dengan aktifitas yang semua orang bisa melakukannya ini terdapat perbedaan segi kualitas di dalamnya. Berbicara, mengobral kata-kata lewat ocehan tak bermakna pasti memiliki nilai beda dengan berbagi inspirasi melalui tajamnya pena. Lalu mana yang akan kita pilih, berbicara panjang lebar tapi tidak berguna atau memahat makna melalui tulisan supaya orang tergerak atau minimal tahu mana yang benar? Bukankah kita sudah dewasa, pasti tahu mana pilihan yang tepat di antara keduanya.

Mahasiswa sebagai insan terdidik dan merupakan kaum intelektual sudah barang tentu memiliki kapasitas di atas batas untuk membuka banyak keran kontribusi. Riset-riset, praktik lapangan, diskusi ke diskusi—di ruang maupun di mimbar-mimbar acara kemahasiswaan —menjadi bekal bagi mahasiswa untuk berbagi. Dalam hal ini tentu banyak cara yang bisa dijadikan opsi untuk memberi sebuah arti. Beretorika menyulutkan semangat melalui orasi. Berkontemplasi menjelajahi imaji untuk kemudian memahatkannya dalam bait-bait puisi. Atau memilih tidak terlalu banyak merapal janji namun diam-diam menginspirasi melalui projek sosial sebagai seorang yang menginisiasi. Termasuk mematrikan ide dan gagasan melalui tulisan. Mana yang bisa dilakukan dan lebih disukai, maka lakukanlah. Tak ada masalah dengan pemilihan aksi yang berlainan. Karena sejatinya permasalahannya terletak pada sikap tidak peduli atas apa yang terjadi. Sikap yang hanya bisa  mengutuk gelap namun enggan menyalakan lilin sebagai penerang.

Tulisan merupakan media efektif untuk menangkap dialog di jiwa dan gelisah atas masalah yang membuat resah. Tulisan banyak menjadi jembatan yang menghubungkan keidealan dengan kondisi real yang terjadi. Tulisan menjadi sebuah sarana untuk berkata-kata tanpa suara. Banyak sekali para pemimpin dan pendahulu bangsa ini yang telah membuktikan—dan menjadi bukti itu sendiri—betapa melalui tulisan sesuatu yang dianggap mustahil ternyata bisa dilakukan. Bung Hatta misalnya. Ia menuliskan banyak pemikiran brilliant  demi merdekanya Indonesia dari tawanan kolonialisme.

Berawal dari sebuah pergulatan pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan menjadi awal bagi sebuah pembalikan keadaan. Tarian pena yang dipertontonkan di atas kertas putih menjadi awal bagi runtuhnya sebuah rezim yang bertindak zalim. Melalui tulisan pula biasanya tercurah berbagai gagasan jenius, kreatif, dan di luar kewajaran. Hingga tak jarang banyak perubahan besar yang diawali dari proses penghayatan membaca atas tulisan yang dianggapnya berkesan.

 

Mari mengabadikan jejak!

Ingin dikenang seperti apa ketika nyawa sudah menguap dan meniada? Jawabnya setiap orang pasti berbeda. Satu kepala satu isi. Begitupun, beragam kepala pasti isinya pun beragam pula. Kita tidak pernah akan abadi dalam hidup ini, karena hidup sejatinya adalah sebuah perjalanan berujung yang dibatasi jatah waktu. Ketika porsi hidup kita berakhir, maka berakhir pulalah peran kita selaku manusia.  

Lalu, setelah kita hilang dari dunia apakah secara otomatis hilang juga peran kita sebagai manusia? Bisa iya, bisa tidak. Ketika keberadaan kita selama ini penuh dengan karya, banyak menebar manfaat bagi sesama, peka terhadap masalah sekitar yang mendera, apakah secepat itu nama kita hilang? Tentu tidak. Mungkin saja orang banyak mengenang, mendoakan siang malam karena merasakan percik kebaikan yang kita nyalakan. Itu gunanya menjadi orang baik, selalu akan dikenang meskipun sudah tiada.

Kita ingin dikenang sebagai orang baik, maka lakukanlah hal yang baik. Berbagi, membantu, menjadi bagian dari solusi, atau menginspirasi. Karena orang yang bekerja tidak hanya untuk dirinya pasti mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan orang lain—yang tidak melakukan.

Menulis adalah jalan yang bisa dipilih untuk mengabadikan jejak bahwa kita pernah menghirup udara dunia. Melalui tulisan, ide-ide segar kita tentang suatu hal akan tetap bisa dinikmati generasi berikutnya. Tentu, tanpa harus tatap muka dan berpandang mata.

Sebagai mahasiswa, menulis secara ideal harus menjadi kegiatan yang tidak asing lagi. Mahasiswa terkondisikan untuk terus menulis karena tuntutan yang mengharuskan. Tugas mingguan, laporan praktikum, laporan observasi, proposal skripsi, artikel, hingga pada akhirnya bertemu di titik pembuatan skripsi merupakan sebuah keniscayaan. Lalu apa jadinya kalau mahasiswa tidak pernah atau tidak suka menulis, dari mana nilai-nilai mereka berasal kalau bukan hasil copy-paste pekerjaan temannya? Atau jangan-jangan demikian kenyataannya. Jika pun seperti itu, maka sedari sekarang perilaku buruk itu harus dihapuskan dari mata rantai kebiasaan kita. Menulis dengan hasil pemahaman sendiri tentu lebih baik bukan?

 

Membangun pondasi kebiasaan menulis

Saya termasuk orang yang terlambat dalam menyukai proses menulis. Saya memulai menulis cerita pendek ketika memasuki sebuah UKM Kepenulisan Islam—Al-Qolam UPI. Ketika itu, saya masih bingung dengan langkah-langkah dan tahapan menulis cerpen itu seperti apa. Tapi belajar sambil melakukan (learning by doing) ternyata begitu ampuh untuk mengakselerasi kemampuan kita dalam menulis. Percuma mengikuti pelatihan kepenulisan sana-sini, baca berpuluh-puluh buku tips dan trik menulis namun enggan memulai aktivitas menulis. Lalu dari pengalaman pertama itu saya terus menggilai aktivitas menulis hingga saat ini. Berbagai lomba menulis—artikel, cerpen, esai, puisi, blog—semuanya pernah dicoba. Meskipun tidak jarang hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Namun, saya yakin apa yang dilakukan sekarang tidak pernah akan berujung pada kesia-siaan. Ini adalah upaya yang sedang dilakukan untuk membangun menara tinggi mimpi menjadi seorang pekerja kata-kata (baca: penulis).

“Dengan menulis, ide-ide kita bisa dikenal khalayak luas. Dengan menulis, kita bisa mandiri. Dengan menulis, maka akal budi, hati nurani, dan jiwa kita bisa “menari” secara bebas.” Begitu ungkap M. Arief Hakim.[1]

Mulailah menulis! Menuangkan apa yang berkelebat di alam imaji. Apapun jenis tulisannya—fiksi maupun non fiksi—itu tergantung minat masing-masing. Percayalah bahwa setiap manusia diciptakan hanya satu di dunia ini. Pastilah apa yang dilakukan, apa yang dituliskan memiliki daya beda dengan manusia lainnya.

Teruslah menebar inspirasi dan kontribusi melalui pahatan kata-kata indah! Menulis menjadi sebuah pekerjaan untuk keabadian kalau kata Pramodya Ananta Toer. Sementara itu, Fatima Mernissi[2] mengatakan “usahakan menulis setiap hari. Niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa”. Begitulah, menulis merupakan aktivitas yang memiliki segudang manfaat dan keistimewaan. Hingga wajar kalau Ali bin Abi Thalib berujar bahwa akal orang-orang mulia terletak pada ujung pena-penanya.

Tidak ada resep yang paling manjur untuk menyukai aktivitas menulis selain memulai mengetikkan kata demi kata di selembar layar, atau menarikan pena di atas kertas putih. Ketika kesulitan untuk menuangkan apa yang dipikirkan menghampiri janganlah lantas berputus asa. Hal ini tak jarang menghampiri para penulis—terlebih penulis pemula.

Barangkali membaca menjadi obat penawar bagi kesulitan ini. Karena kualitas tulisan bergantung pada sebanyak apa buku atau bahan bacaan yang kita lumat habis. Ingat teori teko, bahwa apa yang dimasukkan adalah apa yang nantinya akan dituangkan ke dalam gelas. Ketika kita memasukkan air kopi yang keluar adalah kopi. Begitupun, ketika susu yang dimasukkan, maka mustahil berubah jadi teh manis. Lalu apa yang akan dituangkan ketika kita tidak pernah mengisinya dengan apapun? Maka mulailah perbanyak referensi bacaan kita—tidak sebatas buku namun tulisan kehidupan dalam bentuk alam raya ini pun bisa jadi referensi.

Mari membuat karya lewat rajutan kata-kata. Mari menitipkan makna—tersirat dan tersurat—di balik tulisan-tulisan. Mari mengukir arti dengan jalan menulis.

 

Rujukan:

[1]  Noer, Mohammad. (2012).  Menulis Untuk Keabadian . [Online]. Tersedia: http://www.muhammadnoer.com/menulis-untuk-keabadian/ , diakses pada 31 April 2015.

[2] Hakim, M. A. (2004). Kiat Menulis Artikel di Media dari Pemula sampai Akhir. (M. A. Elwa, Ed.) Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia : halaman 14

[3] Anonim. (2003). Quantum Writing: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis. (Hernowo, Ed.) Bandung: Mizan Learning Center : halaman 26

sumber gambar: newsela

  • view 440