Lari dari Kenyataan

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2016
Lari dari Kenyataan

Hari ini hari minggu. Tidak ada yang spesial sebenarnya buat saya di hari ini. Biasa-biasa saja. Saya hanya terjerat dalam perangkap bernama bosan. Mungkin karena aktivitas setiap hari terlalu monoton. Tiap hari hanya nonton. Televisi maksudnya. Pagi-pagi tuyul dan mbak Yul. Dilanjut Jinny oh Jinny dan FTV. Selebihnya berita dan talkshow di Net atau Metro TV.

Setelah saya menulis beberapa kalimat untuk sebuah postingan di blog sembari mendengarkan MP3 Dygta, saya merasa begitu jenuh. Ada perasaan yang tak mampu saya jelaskan. Sebuah perasaan yang berakumulasi dari kecewa, sesal, khawatir, minder, dan perasaan negatif lain. Ketika seseorang sedang ada di titik itu, pilihan melarikan diri sangat tergantung dengan dirinya sendiri. Lari ke lembah curam bernama kemaksiatan atau maraton ke ruang-ruang kemanfaatan. Saya memilih untuk minggat dari jebakan perasaan ini. Tapi tetap masih gamang.

Saya memutuskan ke pergi ke luar kontrakan dan menuju kampus. Tidak punya tujuan pasti pada awalnya. Mungkin bisa jalan-jalan, lari pagi (meskipun sudah menuju siang), atau hanya duduk-duduk sambil memperhatikan kegiatan orang-orang di sekitar. Meskipun kalau pilihan eksekusinya lari, saya tidak punya modal apapun selain energi yang sedang meluap-luap. Sepatu sport untuk perangkat lari pun tidak ada. Saya hanya memakai sandal swallow hijau saja sebagai alas kaki. Ya sudahlah. Terserah nanti saja.

Saya berjalan menuju UPI seraya mengamati orang-orang. Apa yang sedang dilakukan, mencoba menebak-nebak perasaan mereka: bahagia atau sedang berduka, atau memang hanya berjalan saja dengan sesekali membalas senyum orang kalau kebetulan ada yang ngasih senyuman.

Tiba di kampus saya bingung sendiri. Di sana begitu banyak orang. Mungkin sedang ada acara besar. Dan ternyata memang sedang ada acara syukuran atas kemenangan Jawa Barat sebagai juara umum di PON kemarin. Saya melihat tulisan Syukuran Jabar Kahiji di pintu masuk Gymnasium. Berarti memang tidak ada senam rutin yang biasanya diadakan setiap hari Minggu. Padahal salah satu pilihan saya ketika pergi ke kampus adalah bisa berlelah-lelah mengikuti senam aerobik.

Pilihan pertama gugur sudah. Lantas apa yang harus saya lakukan? Ide untuk membeli koran Republika di daerah KPAD pun muncul di pikiran. Tapi terlalu jauh. Batin saya dalam hati. Pilihan terbaik yang datang adalah berlari. Ya, lari dari kenyataan ini. Lari dari perasaan yang campur aduk karena terlambat sidang skripsi. Lari dari kenyataan bahwa saya hampir telat mencari calon isteri. Lari dari kenyataan bahwa sampai saat ini saya belum punya satu pun buku puisi karya sendiri. Ah, banyak selaki kenyataan-kenyataan yang harus disikapi. Mungkin ditinggalkan salah satunya. Tapi hanya sementara waktu, tidak untuk benar-benar dijauhi.

Saya langsung menukarkan uang untuk mendapatkan tiket masuk stadion UPI seharga Rp. 2.000,-. Setibanya di sana, saya melihat banyak orang yang tengah melakukan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang berlatih sepak bola, berlari, duduk-duduk, atau melakukan push up dan berbagai aktivitas olahraga lain.

Yang menarik juga yaitu ada banyak orang yang memakai seragam kompak sedang melakukan latihan fisik. Tertulis di baju mereka Santri Siap Guna Daaruut Tauhid. Mereka sedang dibina untuk sempurna secara fisik dan spiritual. Kali ini, mungkin jadwalnya adalah latihan kebugaran. Supaya kelak jadi muslim yang tangguh.

Mereka diinstruksikan untuk berlari dengan batas waktu yang ditentukan pelatihnya. Saya tidak tahu berapa batas waktu yang diberikan. Saya hanya memperhatikan dari jauh ekspresi dari tiap santri atas kelelahannya itu. Saya mampu merasakan keletihan yang mereka alami. Setelah itu pun mereka melakukan aktivitas lainnya. Untuk santri putra harus mengangkat tubuhnya di tiang besi yang disediakan dengan beberapa aturan tertentu. Sementara santri putri hanya melakukan gerakan seperti push up di besi yang hanya setinggi perut.

Akhirnya, setelah hanya berjalan sekitar satu keliling, saya pun mulai berlari. 5 putaran menjadi target saya. Selain melatih kebugaran tubuh, saya pun ingin melatih kesabaran dan arti komitmen. Sembari berlari, saya pun menyemangati diri untuk segera menyelesaikan skripsi. Mungkin kalau mengambil nilai filosofis berlari sampai titik finish sebenarnya sama saja dengan menuntaskan tugas akhir bernama skripsi itu.

Saya terus mengajak diri ini untuk menamatkan target berlari sebanyak 5 putaran. Ketika nafas mulai tak terkontrol dan tubuh mulai lemas, saya sejenak menurunkan speed lari menuju ke berjalan santai. Setelah dirasa cukup, saya kemdian berlari kembali. Dan ternyata bisa juga sampai di putaran kelima. Lalu saya merayakan keberhasilan diri ini dengan berteriak dan mengangkat kedua tangan.

Setelah berlari, saya mencoba olahraga mengangkat tubuh di tiang besi dengan kedua tangan. Payah sekali. Untuk satu kali lompat saya hanya kuat mengangkat tubuh dua kali. Saya menargetkan mengangkat tubuh ini 10 kali. Berarti saya harus lompat sebanyak 5 kali. Sangat payah untuk ukuran seorang lelaki. Hehe.

Di samping saya ada seorang bapak-bapak sekitaran usia 40 tahun yang sedang melakukan aktivitas sama dengan saya. Entah berapa  kali target si bapak itu. Yang jelas di sampingnya ada sang isteri yang tak henti menyemangati.

“Ayo pak terus, 4 kali lagi. Kemarin sudah 20 sekarang harus lebih.” Begitu kurang lebih kalimat-kalimat support dari isterinya. Tapi saya tidak ingat berapa angka persis yang disebutkannya.

Saya jadi baper. Wah enak ya bisa disemangatin seperti itu. Pikir saya.

Setelah dirasa cukup, saya memutuskan untuk beli bubur ayam di dekat kolam renang. Lapar juga ternyata lari dari kenyataan teh.

Ketika saya tiba di lapak buburnya, ternyata sudah banyak sekali pembeli. Saya sempat pesan untuk dibungkus karena terlihat begitu sesak untuk makan di tempat. Tapi, setelah agak lama ternyata ada juga kursi yang kosong. Saya jadinya makan di sana.

Si bapak tukang bubur begitu cekatan melayani pesanan dari para pembeli. Ia tidak sendiri. Ditemani seorang ibu-ibu yang bertugas menyodorkan semangkok kerupuk dan mencuci piring serta menyiapkan bubur beras tambahan. Jaga-jaga kalau buburnya kehabisan. Kemungkinan besar isterinya. Siapa lagi coba?

Pesanan saya pun akhirnya tiba. Semangkok bubur dengan taburan ati ampela di atasnya. Saya melihat ke sekeliling. Mereka datang tidak sendiri. Ada yang bersama teman kosannya. Perempuan dengan perempuan, dan laki-laki denga laki-laki. Ada juga satu keluarga yang sudah dikaruniai seorang anak kecil. Dan, jangan tanya ada yang datang berdua dengan pacarnya atau tidak. Karena jawabannya sangat ada. Sementara itu, saya hanya menyantap bubur porsi jumbo seorang diri karena masih berstatus jomblo, coba. Nasib…nasib.

Saya berkhayal kalau disamping saya ada seorang perempuan yang juga punya kesukaan sama: makan bubur ayam. Dengan porsi bubur yang cukup untuk dimakan berdua itu, saya kemungkinan kalau datang bareng sama dia juga nggak akan pesan 2 porsi. Cukup satu saja. Biar kami bisa makan semangkok berdua. Saling suap. Biarlah orang lain merasa envy juga. Hehe. Tapi, sayangnya ini hanya imajinasi saya. Meski begitu, saya yakin bahwa imajinasi yang mewujud jadi mimpi dan bertransformasi jadi do’a mau tidak mau akan terkabul juga suatu saat kelak. Tinggal tunggu tanggal mainnya saja.

Saya kenyang. Dan akhirnya kembali pulang. Semoga perasaan-perasaan jenuh dan negatif lainnya mulai berkurang!

MUHAMMAD IRFAN ILMY

Bandung, 13 November 2016.

sumber gambar: santri gaul

  • view 134