Kepedulian Mahasiswa dan Komunitas Ramah Anak

Kepedulian Mahasiswa dan Komunitas Ramah Anak

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Renungan
dipublikasikan 13 November 2016
Kepedulian Mahasiswa dan Komunitas Ramah Anak

Orientasi pendidikan pada sebuah Negara pada hakikatnya merupakan wujud kaderisasi pemegang estafet kepemimpinan kedepannya. Hal ini tentunya tidak bisa dikesampingkan proses pelaksanaannya mengingat pentingnya stabilitas dan konsistensi dalam penyelenggaraan pendidikan di setiap jenjang mulai dari tingkat dasar, menengah hingga pendidikan tinggi.

Sebagai fondasi menapaki berbagai jenjang pendidikan, pendidikan dasar di mana objek dan subjeknya adalah anak dengan usia sekitar 4-15 tahun hendaknya digarap dengan serius. Ketika mereka sudah matang di usia-usia tersebut maka besar kemungkinan dikemudian hari yakni tingkat pendidikan selanjutnya mereka mampu survive dari berbagai gempuran pengaruh negatif yang mungkin muncul.

Fakta-fakta hari ini berkaitan dengan anak-anak usia SD hingga SMP begitu miris. Salah satu yang menjadi sumber perilaku negatif yang dilakukan anak-anak adalah kecanduan terhadap gadget. Penggunaan gadget memang sulit untuk dihindari karena dinamika zaman yang mau tidak mau harus diikuti. Akan tetapi dalam praktiknya hal ini pun harus disikapi dengan bijak. Bila tidak, bisa-bisa masa depan anak tergadaikan dengan kesenangan sesaat yang ditawarkan oleh teknologi produk zaman globalisasi ini. Di antara ciri-ciri anak kecanduan gadget adalah enggan bersosialisasi dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan gadgetnya, rutinitas terganggu (mandi, makan hingga tidur),  dan berbagai penyimpangan lainnya (http://health.kompas.com, 2015). Bukan tidak mungkin, akses internet yang mudah melalui gagdet akan menjadi sebab terjadinya berbagai tindak penyimpangan. Sebut saja pengaruh game online, terjebak dalam lingkaran pornografi hingga kejahatan melalui media sosial.

Menurut Dewi Bunga, M.H. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar) pada Seminar “Perlindungan Anak dari Kejahatan Seksual Melalui Jejaring Sosial”  kasus kejahatan "cybersex" secara nasional kasus semakin meningkat. Dari 2.637 kasus kejahatan terhadap anak pada 2012, sekitar 62 persennya merupakan kejahatan seksual melalui jejaring sosial (http://health.liputan6.com, 2013).

Berbagai kejadian tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa sebuah penyelesaian. Bila kita selaku elemen masyarakat hanya berpangku tangan dan menitikberatkan keterlibatan pemerintah untuk mengakhiri permasalahannya itu bukan sikap yang solutif. Di samping mempercayakan pada berbagai kebijakan pro rakyat dari pemerintah seharusnya ada tindakan konkret yang kita lakukan, seperti gerakan tertentu yang dampaknya secara langsung bisa dirasakan.

Salah satu pihak yang memiliki tanggung jawab untuk ikut serta menyelesaikan permasalahan di negeri ini adalah mahasiswa. Mahasiswa memiliki ruang gerak yang sangat memungkinkan untuk melakukan pembekalan beragam karakter, skill, dan materi mengenai sikap mental kepada generasi muda (anak-anak dengan usia yang dimaksud sebelumnya) dalam rangka mempersiapkan pemimpin masa depan. Salah satu fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan harusnya menjadi sumber motivasi bagi mahasiswa untuk mengabdi di sektor pembangunan sumber daya manusia yang strategis.

Mahasiswa sebagai kalangan terdidik yang memiliki daya kreatif dan inovatif tinggi hendaknya tergerak untuk berbagi motivasi, inspirasi dan peka terhadap kondisi yang sedang mengancam generasi muda itu. Melalui pengabdian mahasiswa terhadap pelatihan atau pematerian yang ditujukan untuk  anak-anak saya kira dapat berkontribusi besar bagi terbentuknya generasi muda Indonesia yang berkarakter.

Mengacu pada hal tersebut di atas, perlu kiranya ada upaya nyata dari berbagai pihak untuk menyediakan pendidikan alternatif yang ditujukan untuk pemerataan kesempatan pendidikan terlebih bagi warga yang kurang mampu secara ekonomi. Jangan sampai kendala secara finansial menghambat anak-anak negeri untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Anak-anak yang masih memiliki kesempatan berkembang lebih banyak harus diberikan wadah yang kondusif untuk mengembangkan potensinya.

 

Muhammad Irfan Ilmy

Founder Planet Antariksa (komunitas belajar dan bermain anak-anak di daerah sekitar kampus UPI Bandung)

 

*tulisan ini dimuat di koran Republika rubrik Pembaca Menulis pada tanggal 6 November 2016

  • view 260