Mendamaikan Tradisi dan Modernisasi

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 November 2016
Mendamaikan Tradisi dan Modernisasi

 

 

Kemarin siang saya berkesempatan mengikuti acara seminar kebudayaan yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana UPI. Seminar bertajuk “Menunggang Tradisi Menggapai Modernisasi” ini menghadirkan dua pembicara yang terdiri dari unsur budayawan dan sejarawan.  Pembicara pertama adalah Bapak Yoyo C. Durachman dan pembicara kedua, adalah sejarawan muda kondang, mas J.J. Rizal.

Awalnya saya tidak berencana mengikuti acara ini karena bentrok dengan kemungkinan mengurus surat izin kegiatan mengikuti Indonesian Youth Dream. Namun, setelah tahu bahwa surat izinnya belum jadi, saya banting kemudi untuk segera mengikuti acara ini. Berhubung hari hujan, dan kalau pulang juga akan tidak efektif melakukan kegiatan apa, akhirnya saya mengontak kakak kelas—yang juga panitia—untuk menanyakan apakah masih ada kesempatan untuk mendaftar atau tidak.

Ternyata kesempatan itu masih ada. Meskipun karena sebelumnya tidak mendaftar via SMS saya tidak berkesempatan mendapatkan snack dan sertifikat. Tak masalah. Toh motivasi utama saya ikut acara ini bukan untuk kedua hal remeh itu. Apalah arti satu dus snack dan selembar sertifikat? Hehe.

Keikutsertaan saya dalam seminar ini selain gratis adalah penasaran dengan sosok mas J.J. Rizal yang sering muncul di layar televisi. Saya kira beliau adalah seorang pembaca yang ulung sehingga mampu menjelaskan beragam peristiwa sejarah yang dipunyai bangsa ini. Dan saya kagum dengan orang-orang seperti itu. Hidupnya dimaksimalkan untuk mempelajari rekam jejak peristiwa-peristiwa penting sebuah negara di mana ia hidup, dan bahkan juga tidak sesempit itu, mungkin. Jelajah bacanya tidak terbatasi oleh sebuah kotak kecil bernama Indonesia namun dalam kotak besar berjuluk dunia.

Setelah mendengar sambutan-sambutan dari beberapa orang yang berkepentingan, kami para peserta disuguhi sajian hiburan dari JEI angklung.  Saya kurang tahu apa singkatan dari JEI itu. Yang jelas saya pribadi cukup terhibur oleh harmonisasi musik yang dihasilkan oleh alat-alat musik berbahan dasar bambu, seperti angklung, suling dll. Lalu, alat musik tradisional itu dipadukan dengan alat musik modern berupa drum dan bass. Beberapa lagu seperti mojang priangan, bangbung hideung, dan malam minggu membuat peserta bersorak sorai seraya memberikan apresiasi atas kepiawaian para personel JEI angklung ini.

Selain dapat ilmu gratis, hiburan yang cuma-cuma juga menjadi sebuah nikmat yang mesti disyukuri. Kita tinggal membawa diri saja sambil mempersiapkan daya fokus untuk menyerap materi dari para pembicara.

Pembicara pertama adalah pak Yoyo. Beliau merupakan seniman dan juga dosen di ISBI Bandung. Ketika moderator membacakan riwayat diri pembicara, saya jadi tahu bahwa pak Yoyo ini telah menelurkan banyak karya dalam bidang pementasan drama dan lain-lain. Saya lupa lagi karena tidak menyempatkan mencatatnya. Selain itu, ia pun aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi termasuk UPI. Saya selalu takjub dengan orang-orang yang memiliki kesibukan tinggi dan mampu berperan dalam setiap aktivitas yang dipilihnya. Seperti orang-orang yang berkuliah sembari bekerja dan tak lupa menghasilkan karya berkelas.

Untuk pematerian dari pembicara pertama saya kurang menyimak dengan serius. Selain karena pemaparannya yang kurang komunikatif, karena memang tujuan utama saya adalah mendengarkan paparan dari mas J.J. Rizal, saya jadi kurang antusias. Sebelas-dua belas dengan kuliah di kelas. Intinya materi yang disampaikan adalah tentang penjelasan mengenai pengertian tradisi dan klasifikasinya. Saya lupa lagi karena rada ngantuk ketika itu.

Sementara itu, di pematerian dari pembicara kedua saya mulai memusatkan konsentrasi untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu dan inspirasi. Mas J.J. Rizal baru saya tahu ternyata alumnus dari kampus impian saya, Universitas Indonesia jurusan sejarah. Pantas saja keren. Bukan dalam artian saya mendiskreditkan kampus lain lho ya. Ini murni ketidakadilan pemikiran saya saja atas kekaguman berlebih terhadap UI. He.

Ketika CV nya dibacakan, kekaguman saya kepada sosok yang juga aktif menulis ini pun makin meninggi. Selain membentuk sebuah perkumpulan bernama Komunitas Bambu, ia juga rajin mengirimkan tulisannya ke berbagai majalah dan harian Nasional. Selain itu, ia pun selama beberapa tahun menjadi kontributor kolumnis di majalah internasional yang berpusat di Belanda, MOESSON Het Indisch Maandblad, tentang sejarah Batavia-Betawi-Jakarta.

Sebelum pematerian dimulai, kang moderator bertanya pertanyaan simpel kepada mas JJ perihal apa kepanjangan dari JJ. Itu. Biar mudah, untuk ke depannya saya tuliskan mas JJ saja ya. Dengan berkelakar, mas JJ bilang kalau itu adalah singkatan dari Jajaka Jomblo. Serempak seisi ruangan dipenuhi gelak tawa. Dan mas JJ tidak menjawab pertanyaan itu dengan jawaban serius.

Pembawaan materi dari mas JJ relatif lebih komunikatif. Membawa serta para peserta seminar untuk masuk ke pusaran pematerian. Suasana di ruangan auditorium SPS itu hening. Sesekali diselingi tepuk tangan dan tawa ketika mas JJ sedikit mengeluarkan jurus humornya. Kami mendengarkan dengan saksama tuturan dari sejarawan muda berbakat ini.

Mas JJ menerangkan tradisi dalam ruang lingkung yang lebih makro. Tidak sesempit tradisi dalam artian kesenian dan semacamnya. Ia menyoroti tradisi bangsa Indonesia berdasarkan catatan sejarah yang termaktub dalam buku-buku tebal.

Dikatakan olehnya bahwa Indonesia adalah bangsa yang masih sangat muda ketimbang bangsa lain. Dan bahkan dengan bangsa yang sekarang kita kenal dengan suku-suku di Indonesia seperti Sunda, Jawa, Sumatra, dll. Jadi, ketika awal-awal Indonesia akan dilahirkan, para tokoh-tokoh Indonesia waktu itu mencoba mencari nama yang cocok dengan negeri ini berdasarkan jejak masalalunya. Orang yang pertama kali mengajukan pertanyaan tentang jati diri negeri yang sekarang bernama Indonesia ini adalah seorang pemudi bernama Kartini. Ia bersama rekannya (saya lupa namanya) bertanya hal yang sederhana namun bermakna dalam, “Siapa kita?” Apakah Sunda, Jawa, Sumatra, Celebes (Sulawesi), dll? Pertanyaan ini kemudian memicu pemikiran-pemikiran lain tentang fondasi negeri kita tercinta ini.

Dari pemaparan mas JJ juga saya jadi tahu bahwa proklamasi Indonesia bukan hanya satu kali pada 1945 saja. Ternyata itu adalah proklamasi ke-2 setelah sebelumnya yang ke-1 diproklamirkan oleh Mr. Mohammad Yamin pada saat kongres pemuda 28 Oktober 1928 lalu. Nama sumpah pemuda ada belakangan ini. Dan yang ke-3, sebagai pelengkap proklamasi dilakukan oleh seseorang bersuku Sunda bernama Djuanda. Seorang pemuda gunung yang pikirannya jauh melanglang buana menyadari bahwa jati diri Indonesia adalah negeri maritim, yang didominasi laut.

Intinya, bahwa karena kenyataan negeri kita mewariskan tradisi laut yang begitu kental maka sudah sewajarnya potensi ini dijadikan modal untuk membuat negara kita mampu bersaing dengan negara-negara lain.

Tentang adagium yang sering orang lontarkan ketika jengkel, “jangan lupa daratan!” menurut mas JJ harus pelan-pelan direduksi. Harusnya “jangan lupa lautan!” karena tak pelak lagi bahwa manusia Indonesia sekarang memang sudah lupa bahwa nenek moyang mereka adalah pelaut ulung. Dan mereka juga tinggal di negeri dominan air yang ditaburi pulau-pulau. Persis seperti roti manis yang ditaburi kismis-kismis. Pulau-pulau yang ada di Indonesia tak ubahnya kismis itu, bagian minoritas dari mayoritas roti yang menyimpan banyak gizi.

Begitu kurang lebih pelajaran yang saya dapatkan di seminar kemarin. Materi lebih lengkap ada di HP saya sebenarnya. Tapi kurang bersemangat kalau harus secara detail menuliskannya. Kalau mau, silakan kontak saya saja. Intinya, saya senang bisa mengikuti seminar yang diisi oleh mas JJ Saya jadi malu selaku pemuda Indonesia namun masih sangat minim mengetahui tentang sejarah negerinya. Saya jadi tertampar bahwa mau tidak mau, kalau ingin jadi bagian dari elemen yang membuat maju Indonesia, saya harus rajin baca. Kalau sudah rajin baca, nanti jadi rajin nulis. Dari habis rajin nulis, selanjutnya candu untuk berdiskusi, dan akhirnya menghasilkan pemikiran-pemikiran cemerlang bagi kemajuan bangsa besar ini.

 

Bandung, 12 November 2016

 

sumber gambar: panitia

  • view 225