Yang Datang Bersama Hujan

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Oktober 2016
Yang Datang Bersama Hujan

Di luar sedang hujan. Hati-hati, jangan sampai terhisap dalam pusaran muslihat yang datang bersamanya. Orang-orang biasa memanggilnya kenangan. Siapa yang pertama kali mengaitkan antara hujan dan kenangan, saya tidak terlalu peduli. Biarlah itu selalu jadi misteri sampai kelak kita tua renta. Biarlah pertanyaan itu dijawab oleh anak cucu. Biar ada pertanyaan yang terus menghantui benak mereka. Benak saya juga tentunya.

Beberapa menit lalu (ketika saya mulai mengetik tulisan ini) saya habis baca postingan terbaru di blog yang sering sekali saya kunjungi. Selain karena pemiliknya orang yang memiliki pemikiran otentik, saya suka dengan gaya menulisnya. Sederhana tapi tetap mampu membuat saya terbius dan ingin kembali lagi dan lagi menyeruput manisnya kalimat demi kalimat yang tersaji di tulisannya. Apa judul tulisan yang saya baca barusan, itu tidak terlalu penting. Yang lebih penting kamu selesai membaca racauan saya. He.   

Selepas membaca tulisannya entah kenapa saya terdorong untuk membuat satu tulisan juga. Nuhun kang. Tulisannya menggerakkan. Ketika ilham untuk segera menulis sesuatu jatuh dari langit-langit kontrakan rumah, saya sebenarnya tidak memiliki topik khusus yang ingin dikupas. Saya hanya menemukan kata “hujan” di kepala saya.

Menarik nampaknya berbicara tentang kata yang mendorong banyak musisi membuat sebuah judul lagu. Atau membuat penyair sekelas Sapardi Djoko Damono menuliskan sebuah sajak fenomenal berjudul Hujan Bulan Juni. Atau juga membikin para petani menengadahkan kedua tangannya atas berkah yang turun melalui hujan sehingga mereka tak mesti khawatir sawahnya kekeringan. Atau juga saya yang tergerak beberapa kali menuliskan prosa tentang hujan yang padahal isinya tentang kamu semua. Iya kamu, tepat sekali.

Bertemankan lagu-lagu dari Payung Teduh, Banda Neira, dan OST Descendants of the Sun, saya menuntaskan tulisan tentang hujan ini. Sebuah perpaduan yang pas sekali. Persis seperti di pagi hari, ketika saya sedang menonton FTV di televisi, Ibu menyuguhkan segelas panas kopi dan sepiring gorengan ubi. Nikmat yang keterlaluan kalau diingkari.

Tentang hujan, saya menemukan satu paragraf menarik yang ditulis apik oleh lulusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia, Ijonk Muhammad. Di buku terbarunya, Barang Kenangan, Ijonk mengawali salah satu tulisannya yang berjudul Hujan dengan paragraf ini:

Di antara cuaca dan tanah, ada butir air mengukir takdir. Melahirkan dingin menumbuhkan ingin. Hujan, sepanjang apapun hanya menyisakan dua hal, kenangan dan genangan. Ketika langkah terlambat berkilah, ada genangan yang siap mengajak tubuh kepada basah. Ketika arah terlambat melangkah, ada kenangan siap mengajak mata kepada resah. (Ijonk Muhammad halaman 73).

Hujan datang membawa salah satu misi dari langit untuk membuat berbagai genangan kenangan. Membuat manusia terperangkap lalu kuyup untuk kemudian menjadikan jantung lebih cepat berdegup. Genangan kenangan dari hujan membuat dimensi waktu di masa lampau jadi terbentang begitu lapang.

Siapapun mungkin akan sepakat bahwa hujan memiliki kekuatan dahsyat untuk menarik orang-orang yang pernah jatuh cinta pada kumparan kesan yang begitu membekas di ingatan. Terlepas jatuh cinta itu mengantarkan para pelakunya ke kursi pelaminan atau harus puas menyudahi hubungannya karena berbagai alasan dan pada akhirnya saling menyematkan predikat “mantan”.

Kalau saya boleh bilang,  hujan itu ekspresi rindu langit pada bumi. Hujan tak ubahnya semacam media untuk menyampaikan pertanyaan “apa kabar hari ini?” Persis seperti yang dipertanyakan Aan Mansyur dalam puisinya berjudul batas. Yang kata Aan pertanyaan itu tak lebih dari sekadar “jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.”

Alat komunikasi apa lagi selain hujan yang bisa membuat langit bisa memberitahukan kalau ia tidak pernah benar-benar melupakan bumi? Langit tetap ingin bisa bertukar sapa meskipun di antara bumi dengannya sudah selesai mungkin sejak berjuta tahun lalu.

Masih tentang hujan. Kali ini datang dari tulisan salah seorang teman yang menulis di tumblrnya dengan judul Teori Tentang Jenis Hujan. Katanya di tulisan itu, berdasarkan sebuah teori dikatakan bahwa hujan turun karena air mata seseorang yang dilanda kesedihan. Ia merasakan apa yang dirasakannya. Hujan rintik menandakan seseorang sedang sedih ditinggal kekasih dengan alasan pekerjaan. Hujan deras menandakan seseorang sedang sedih ditinggal mati sang kekasih. Sedangkan untuk hujan deras disertai angin menandakan seseorang sedang sedih ditinggal sang kekasih untuk pergi dengan kekasih yang lain.

Berdasarkan teori yang dikutip teman saya di tulisannya, lalu siapa kiranya yang tengah bersedih karena ditinggal sidang skripsi oleh sang kekasih. Eh, maaf, maksudnya ditinggal mati. Barusan hujan cukup deras soalnya.

Pada sebuah kesempatan, saya pernah menulis tema yang sama dengan tulisan ini, yakni tentang hujan. Setelah saya lihat titimangsa di file tulisan tersebut, ternyata tanggal 15 Desember 2015. Sudah hampir satu tahun. Ketika saya mencoba memutar isi kepala ke waktu saya membuat tulisan itu, di luar rumah memang hujan tengah turun. Berikut tulisan pendek yang hanya berisi angan-angan itu:

Pada hujan ada yang mesti kita sampaikan. Ucapan terimakasih. Tersebab kepatuhannya pada titah Tuhan, kita jadi tidak pulang dengan segera. Padahal, jauh di dasar pikir kita masing-masing sebenarnya ada rasa janggal yang menyesaki dada. Kita ingin segera pergi sehingga tidak ada keintiman yang berlebih. Biarkan kita dekat hanya dalam aksara saja. Lebih tepatnya aku. Dirimu? Entahlah. Toh kamu tak pernah terlihat berbeda ketika ada atau tidak adanya diriku dalam satu ruangan tertentu. Aku lebih mendamba lebih dekat denganmu dalam sajak-sajak, prosa-prosa, atau khayalan-khayalan amatiran. Atau lebih sering menjadikanmu inspirasi bagi karakter tokoh di cerpen-cerpenku. Sesekali kukirimkan pada media cetak. Meskipun pada akhirnya tak pernah dimuat. Tak apa. Tak masalah sama sekali. Karena bagiku, cerpen tentangmu terselesaikan lebih melegakan ketimbang mengemis pada media untuk diterbitkan. Pada saatnya nanti, cerpen itu mungkin akan terbit dengan gagahnya menghiasi salah satu rubrik koran nasional. Semua ada waktu tertepat. Seperti mungkin kebersatuan kita yang tak akan melenceng dari ketetapan dan ketepatan. Pada hujan, sekali lagi aku ingin berbisik. “Terimakasih atas konspirasinya.”

Hujan selain membuat hawa di sekitar menjadi dingin, juga –meminjam bahasanya Ijonk—menumbuhkan ingin. Ya, ingin menyeduh segelas kopi atau teh untuk sekadar membuat hangat tubuh. Ingin melangkah ke atas kasur lalu menarik selimut lantas tidur. Dan yang paling sukar adalah memelukmu dari jauh. Tapi, saya masih tetap bisa melakukannya. Bukankah hujan adalah saat mustajab untuk melayangkan harap? Saya mendo’akan semoga kamu baik-baik di sana. Ini bentuk pelukan yang paling mungkin saya lakukan.

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah kalimat yang pernah saya tulis beberapa saat lalu. Ditulis ketika hujan juga. Hujan tak kunjung berhenti. Serupa perasaanku padamu, sulit diingkari.

 

Muhammad Irfan Ilmy

Bandung, 31 Oktober 2016

 

Sumber gambar: sarangpenyamun & rumahgadih

Tulisan saya yang lain bisa dibaca di sini


  • Keiko Lawliet
    Keiko Lawliet
    9 hari yang lalu.
    Tulisan ini menjadi salah satu tulisan favorite saya. Pembawaannya seru, meski ini adalah tulisan satu tahun yang lalu

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    10 bulan yang lalu.
    Do'a adalah cara kita memeluknya dari jauh
    Tulisannya mengalir ringan dan saya suka sekali ..
    Sejak dulu saya juga penasaran, kenapa hujan bisa selalu mengingatkan kita pada kenangan-kenangan? Apakah karena sedap aromanya, ataukah karena indah iramanya?
    Saya juga jadi penasaran sama buku yang judulnya Barang Kenangan itu,
    boleh pinjem gak, xixi ....

    • Lihat 1 Respon

  • Trias Abdullah
    Trias Abdullah
    10 bulan yang lalu.
    Keren fan