Harta Berharga Bernama Keluarga

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2016
Harta Berharga Bernama Keluarga

Mengawali topik tentang keluarga saya ingin memisalkannya dengan sebuah sistem kerja sepeda. Sepeda memiliki banyak komponen di mana kesemuaannya saling mendukung satu sama lain. Hilang salah satu komponen darinya, hilang pula kesempatan untuk bisa berjalan dengan seimbang.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya menjalankan sebuah sepeda dengan salah satu ban yang tak ada. Katakanlah ban depan, atau boleh juga ban bagian belakang. Sepeda harus sesegera mungkin diperbaiki untuk memperlancar fungsinya kembali sebagai alternatif alat transportasi yang anti polusi.

Permisalan sepeda ini bukanlah mengada-ada apabila dikaitkan dengan makna keluarga. Keluarga adalah unit terkecil yang menentukan sukses dan tidaknya peradaban suatu bangsa. Dari keluarga lahirlah penerus-penerus bangsa yang menjadi cadangan pemimpin masa depan. Apabila keadaan suatu keluarga dipenuhi kebobrokan, jangan harap sebuah Negara akan berjalan dengan tenang dan tentram.

Seperti keluarga-keluarga lain, keluarga kami bisa dikatakan penuh dengan kehangatan. Saya sendiri jarang mendapati adanya konflik yang sampai berhari-hari. Perbedaan pendapat sesekali mungkin tak bisa dihindari. Kami menganggap itu sebagai bumbu yang memberikan sensasi rasa tersendiri supaya keharmonisan keluarga dapat terus terasa. Dan memang untuk terpacu terus ke arah lebih baik, munculnya konflik sekali-dua kali harus ada. Kang Fahd menyebutnya dengan istilah bom waktu.

 

Tentang Bapak 

Di rumah, saya merasa kalau bapak adalah sosok lelaki gagah yang menginspirasi anak-anaknya. Meski tak terlalu banyak hal-hal intim yang kami perbincangkan, dari beberapa nasihatnya, dari diam dan sorot mata yang tajam, saya yakin kalau ia adalah sosok yang menaruh cinta untuk anaknya melebihi siapapun di dunia ini (tentu selain Rasulullah saw.)

Berbicara tentang bapak, saya memiliki beberapa momen yang selalu saya ingat. Perihal nasihat yang hingga kini terus terngiang, tentang nilai hidup yang tidak secara nampak dicontohkan namun ada, tentang keteladananya yang luar biasa, dan banyak hal lain lagi.

Suatu ketika saya ditugasi untuk membantu menyelesaikan sebuah tugas menulisi form isian. Saya lupa lagi tepatnya form tersebut diperuntukan sebagai apa.

“Jang, tolong isi formulir ini!” pintanya dengan santai.

“Siap pak. Tapi berapa honornya?” tanya saya memastikan imbalan yang akan didapat.

Bapak saya kemudian menasihati bahwa ketika ditugasi sesuatu, lakukan saja dulu. Jangan fokus pada apa yang akan kita terima nanti. Lakukan sebaik mungkin, dan balasan tak pernah akan salah sasaran.

Perkara sederhana dalam sebuah kejadian biasa di rumah seperti itu memuat pelajaran yang begitu berharga untuk mengarungi kehidupan. Bersyukurlah yang di rumahnya tercipta interaksi dua arah antara seorang anak dan ayahnya.

 

Tentang Mamah

Mamah saya adalah sosok perempuan sederhana dengan pemikiran-pemikiran yang tidak terlalu muluk-muluk. Apa adanya. Namun, untuk urusan kebahagiaan anak-anaknya, ia selalu menomorsatukan. Bahkan untuk urusan makanan, ia lebih mementingkan ketiga anaknya ketimbang dirinya sendiri.

Saya masih ingat ketika mamah saya mendapat makanan dari sekolah, atau dari acara-acara seminar atau undangan ia selalu membawanya ke rumah. Ia selalu ingin anaknya yang terlebih dahulu menyantap makanan itu. Ah, hatimu terbuat dari apa mah? Demikian lembut dan tulus.  

Mamah adalah seseorang yang selalu ada ketika saya berada di titik terlemah dalam hidup. Ia menghadirkan diri untuk menopang tubuh yang lunglai ini.

Pernah suatu ketika saya pulang dari Bandung karena sebuah sakit yang tidak bisa saya ceritakan. Saya pulang ditemani seorang teman yang juga orang Tasikmalaya. Setibanya di depan rumah, Mamah saya berlari sembari menahan laju air matanya. Ia memperlihatkan kesungguhannya menyayangi saya. Dirangkulnya tubuh ini.

 

Tentang Teteh dan Adik

Saya adalah anak ke-2 dari tiga bersaudara. Dengan begitu, saya memiliki satu kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Masing-masing selisih usia kami adalah 3 tahun dan 8 tahun. Hubungan kami sangat harmonis. Setidaknya perspektif saya. Kami adalah 3 bersaudara yang saling menyayangi dan tak luput saling berbagi. Terkadang barang saya adalah barang adik saya juga. Barang milik teteh saya (helm, flash disk, motor dll) secara otomatis sering saya pakai juga. begitupun sebaliknya.

Dalam hitungan tahun, kami akan berkeluarga. Berpisah dan akan tinggal keluarga kecil masing-masing. Tapi, bagi saya sendiri, kami tetap adalah tiga anak-anak yang saling berebut hal-hal sepele di rumah. Lalu, kita saling bertengkar dan membuat mamah marah karena menganggu tetangga depan rumah. Ah, memori tentang masa kecil kami kembali melintas di benak.

Berbicara tentang teteh, saya begitu beruntung memilikinya. Dia adalah sosok yang dewasa dan selalu menyayomi adik-adiknya. Meski juga kadang-kadang kekanak-kanakan padahal usianya sudah tidak muda lagi (he, peace). Teteh saya adalah tempat saya melaporkan kalau kondisi keuangan di dompet sudah menipis. Lalu, ia menyampaikan pesan saya ke Mamah atau Bapak.

Saya biasanya hanya bilang di SMS, “teh.”

Satu kata, tapi sungguh manjur. Teteh saya peka karena seringnya SMS seperti itu masuk ke ponselnya. Ia pun lalu dengan gercep nya pergi ke ATM untuk menrasferkan sejumlah uang.

Tentang adik, saya punya banyak kesamaan dengannya. Hal-hal seperti kami yang paling dekat ke Mamah, suka minta dipijitin, suka tidur di paha mamah dll. Kami yang paling sering minta uang. Kami yang sama-sama diasuh dari kecil oleh Ema. Dan sekarang adik saya juga sekolah di SMA dan mondok di Pesantren yang sama dengan saya dulu, SMAN 1 Tasikmalaya dan Pondok Pesantren Al-Ikhwan Cibeureum Tasikmalaya.

Adik saya juga dari segi kesamaan lain dengan saya adalah sama-sama suka berprestasi. Dari sejak TK, SD hingga MTs. kalau dibandingkan, sepertinya prestasi saya dan dia dengan standar ketika saya diusianya, dia lebih banyak mendapat pencapaian dibanding saya.

Dia bercita-cita menjadi seorang dokter gigi suatu saat nanti. Meskipun dia adalah kolektor peta dan penghafal kode plat nomor tiap daerah yang keren. Saya juga kagum sama dia. Lalu, saya sering mencekokinya supaya dia berkuliah di FKG UI. Itu karena saya dulu gagal jadi bagian kampus di Depok sana. Saya ingin menanamkan mimpi itu dibenaknya. Ya, minimalnya kalau dia jadi kuliah di sana saya bisa ada alasan untuk sering-sering main ke sana. 

Ah, tentang keluarga adalah pembicaraan yang seperti kerja angin, tak pernah berhenti. Mereka adalah yang paling mencintai kita lebih dari sahabat atau teman dekat. Mereka adalah orang-orang yang paling tahu keburukan kita namun tak pernah mengumbarnya ke banyak orang. Mereka adalah –meminjam salah satu lirik lagu Sheila On 7—Anugerah terindah yang pernah (dan akan terus) kumiliki.

Semoga kebersamaan ini berlanjut hingga kelak di tempat terindah yang Allah janjikan. Semoga kecintaan yang kita tumpahkan dalam berkeluarga terjalin dalam bingkai sehidup sesurga.

  • view 450