Mengejar Asa Bermodal Do'a dan Usaha

Muhammad Irfan Ilmy
Karya Muhammad Irfan Ilmy Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Agustus 2016
Mengejar Asa Bermodal Do'a dan Usaha

Menjadi seorang mahasiswa adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, kesempatan menempuh pendidikan tinggi tidak semua orang mendapatkannya. Ada yang benar-benar memiliki keinginan kuat melanjutkan pendidikan ke tingkat perkuliahan namun tersendat masalah keuangan. Ada pula yang secara finansial berkecukupan namun miskin semangat untuk terus belajar. Maka beruntunglah orang-orang yang memiliki keinginan kuat, sempat, dan dana yang tersedia untuk memperoleh gelar mahasiswa.

Dunia mahasiswa begitu berbeda dengan kehidupan siswa di persekolahan. Mahasiswa memiliki karakter khas yang tidak dimiliki kalangan selainnya. Sebut saja siswa, pemuda yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, petani di desa dan sebagainya. Meskipun begitu, dalam kenyataannya mahasiswa tidak semuanya ideal sebagaimana yang dipersangkakan.

Mahasiswa di kampus memiliki banyak karakteristik yang membuat adanya kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan kecenderungannya. Contoh yang bisa dikatakan kurang baik misalnya mahasiswa dengan masa studi berkepanjangan dan tidak memiliki alasan logis selain karena kemalasannya sendiri untuk menyelesaikan kuliah. Mahasiswa tipe ini sepatutnya dihindari untuk dijadikan teladan.

Disamping kategori mahasiswa yang berperilaku kurang terpuji, ternyata masih banyak juga mahasiswa-mahasiswa yang layak untuk diikuti jejaknya. Salah satu jenis mahasiswa ini di kampus dikenal dengan titel mahasiswa berprestasi (MAWAPRES).

Pada tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman pribadi mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi di kampus dengan sepaket lika-liku selama prosesnya.

 

Awal Sebuah Mimpi

Pertama kali saya mengenal kata MAWAPRES adalah ketika berkuliah di D3 Perencanaan Sumber Daya Lahan UNSOED Purwokerto tahun 2011-2012 lalu. Istilah ini begitu asing di kepala saya waktu itu. Saya pikir mungkin maksudnya adalah Mahasiswa Presiden. Tapi setelah direnungkan kembali ternyata malah terdengar aneh kalau singkatannya memang benar seperti demikian. Belakangan saya mulai paham kalau ternyata maksud dari kata tersebut adalah Mahasiswa Berprestasi.

Selama setahun kuliah di sana awalnya saya tidak terlalu peduli dengan ajang bergengsi Mahasiswa Berprestasi ini. Mendengar dari kakak senior tentang persyaratan untuk mengikuti seleksinya nyali saya mendadak ciut. Kompetensi seperti kemampuan bahasa Inggris yang harus baik, IPK yang mesti tinggi, prestasi dan pengalaman organisasi yang mau tidak mau harus berkualitas dan persyaratan lain akan sangat sulit untuk dipenuhi. Terlebih lagi saya bukan tipikal orang yang rajin dalam mengerjakan sesuatu. Ketika SMA saja peringkat saya jauh dari kategori 10 besar. Pokoknya semangat saya untuk mengikuti ajang ini sangat rendah.

Interaksi saya dengan beberapa kakak tingkat kemudian mengantarkan saya untuk berani bermimpi menjadi seorang Mahasiswa Berprestasi. Beberapa senior yang menjadi pembicara di berbagai pelatihan dan talk show  yang saya ikuti memberikan pencerahan bahwa keinginan menjadi Mahasiswa Berprestasi itu sangat mungkin dan begitu besar peluangnya. Hanya saja untuk meraihnya kita harus ekstra keras bersungguh-sungguh menempuhi segala prosesnya.

Singkat cerita, setahun kemudian saya mengikuti tes masuk ke kampus negeri lainnya. Meskipun awalnya sangat ingin masuk ke kampus di Depok sana, namun apa daya tangan tak sampai. Gagal terus. Kemudian setelah menerima berbagai penolakan akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di  UPI Bandung jurusan Ilmu Pendidikan Agama Islam.

Pada masa-masa orientasi kampus pikiran saya mulai terkbuka tentang dunia mahasiswa. Ternyata mahasiswa itu dihadapkan pada berbagai pilihan. Pilihan tersebut menjadi wasilah bagi mewujudnya kita menjadi mahasiswa tipe tertentu. Ada peluang menjadi seorang yang berprestasi ataukah menjadi mahasiswa yang “kurang berarti”. Semuanya ditentukan oleh opsi yang dipilih.

Waktu itu, ketika orientasi kampus tingkat fakultas ada sesi di mana mahasiswa di fakultas saya (FPIPS) diperkenalkan dengan mahasiswa berprestasi ke-1 sampai ke-3 dan mahasiswa berprestasi lain. Lalu, untuk MAWAPRES urutan ke-2 ternyata adalah kakak tingkat saya di program studi Ilmu Pendidikan Agama Islam. Hal ini membuat kebanggaan saya terhadap jurusan ini mulai tumbuh dan terus berkembang.

Ketika  saya menyaksikan kakak kelas saya berbicara tentang pengalamannya sehingga terpilih menjadi MAWAPRES urutan ke-dua, saya tergugah untuk menuliskan mimpi menjadi seperti beliau suatu saat nanti.

“Pokoknya kelak saya yang harus berdiri di sana memberikan kata-kata motivasi bagi adik-adik mahasiswa baru FPIPS,” begitu batin saya dalam hati.

Dengan menuliskan mimpi pada berbagai media yang ada (kertas, buku mimpi, dokumen di laptop) setidaknya mengingatkan bahwa saya memiliki sebuah target yang harus diwujudkan. Dalam meraihnya tentu butuh konsistensi dan kesungguhan.

Perjalanan menjadi seorang mahasiswa berprestasi dilalui dengan durasi yang panjang. Untuk menuliskan CV dengan pencapaian menarik tidak bisa dilakukan satu atau dua bulan saja. Berbagai prestasi yang ditorehkan harus diperjuangkan dalam hitungan tahun. Tak terasa saya pun seperti disihir oleh mimpi sendiri memburu prestasi yang mungkin bisa saya lakukan. Beberapa prestasi yang saya raih adalah berbagai juara di bidang tulis menulis. Ada sebagai juara lomba artikel ke-3 tingkat nasional, juara 1 lomba esai di salah satu PTN di kota Bandung, penerima hibah Program Mahasiswa Wirausaha dan lain-lain. Beberapa penghargaan lain seperti juara fotografi dari tingkat universitas hingga sempat juara 1 tingkat Bandung Raya.

Dalam proses menempuh jalan-jalan prestasi tersebut ternyata tidak lempeng-lempeng saja. Tak terhitung berapa lomba (baik menulis, fotografi, seleksi  MTQ dll.) yang tidak berhasil keluar sebagai juara. Namun, saya merasa masih kuat untuk terus berjalan memperjuangkan mimpi saya menjadi Mahasiswa Berprestasi. Saya kira menjadi Mahasiswa Berprestasi menjadi alat untuk membuka –meminjam bahasa Pak Anies Baswedan– ruang interaksi lebih lebar lagi. Dengan menjadi mahasiswa berprestasi, saya punya akses berkenalan dengan orang-orang hebat di tiap prodi maupun fakultas. Atau juga hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga di rumah. Saya sebenarnya berpikir jauh ke depan juga, berusaha menjadi calon ayah yang membanggakan bagi anak-anak saya nanti.

Menuju tahun ke-3 kuliah, saya memutuskan untuk kursus bahasa Inggris. Kemauan ini didorong kuat oleh keinginan sukses di seleksi nanti. Ketika saya tidak memiliki mimpi yang kuat untuk terpilih menjadi MAWAPRES mungkin saja keinginan menempuh jalan-jalan mewujudkannya akan melempem. Mudah terhasut oleh perkataan melemahkan dari orang-orang sekitar.

Selain mengikuti kursus bahasa Inggris saya pun terpacu untuk aktif di beberapa organisasi termasuk organisasi tingkat universitas, BEM REMA UPI. Saya kira menjadi seorang Mahasiswa Berprestasi harus seimbang dalam segala aktivitasnya. Tidak timpang antara satu bidang dan bidang lainnya. Di bidang lain seperti akademik saya pun terpacu untuk selalu mempertahankan IP selalu baik di tiap semesternya. IPK nanti akan sangat berguna sebagai salah satu pertimbangan lolos seleksi di tingkat prodi. Pokoknya hal-hal yang berkaitan dengan persyaratan MAWAPRES (prestasi (akademik & non akademik), kemampuan bahasa Inggris, dan karya tulis ilmiah) disiapkan jauh-jauh hari. Saya merasa kalau mimpi ini layak untuk diperjuangkan.            

 

Proses Seleksi

Tibalah saya di tingkat 3 di mana kesempatan mengikuti seleksi mahasiswa berprestasi itu terbuka. Saya mempersiapkan berbagai keperluan seleksi seperti CV, presentasi gagasan KTI, dan berlatih presentasi dengan bahasa Inggris. Total peserta yang mengikuti seleksi ada 5 orang. Juri pada waktu itu adalah dosen ahli penelitian IPAI (Pak Abas), dosen Basic Life Skills (Pak Saeful) , dan perwakilan dari fakultas (Pak Bagja). Waktu itu saya tidak terlalu optimis untuk bisa mewakili program studi karena merasa ketika seleksi tidak benar-benar maksimal menjalaninya. Kemampuan bahasa inggris sangat jelek, ide karya tulis yang biasa-biasa saja, dan beberapa kekurangan lain membuat saya sadar diri untuk tidak berharap lebih. Dan akhirnya persangkaan saya terbukti. Perwakilan dari prodi saya adalah teman sekelas saya, dia satu-satunya perempuan dari ke-5 peserta tadi.

Waktu itu saya merasa kecewa dengan diri sendiri. Saya sempat merasa marah dengan keadaan. Kenapa saya tidak berkesempatan membawa harum nama prodi di ajang itu? Namun, hidup harus terus berlanjut. Saya pelan-pelan menerima kenyataan yang bagi saya itu termasuk salah satu pengalaman pahit. Lalu, akhirnya saya berpikir untuk menanam mimpi menjadi Mahasiswa Berprestasi di benak adik-adik tingkat saya. Langkah konkret yang ditempuh adalah membuat sebuah komunitas atau forum berbagi inspirasi dan motivasi di internal prodi. Forum ini dimulai dengan basis online, yakni menggunakan grupwhatsapp.Aktivitas berbagi dan menginspirasi ini dimulai sekitar satu tahun yang lalu tepatnya bulan Agustus 2015.

Saya sendiri memiliki misi melalui grup ini akan dikader calon-calon mahasiswa Berprestasi di tahun berikutnya. Saya secara masif memberikan informasi tentang segala hal yang berhubungan dengan Mahasiswa Berprestasi atau informasi lomba, pelatihan, dan acara bermanfaat lainnya. Respon adik-adik tingkat sangat baik. Nampaknya mereka menyambut positif gerakan ini. Dan ternyata pada kenyataannya di seleksi tahun berikutnya (2016) peserta yang mengikuti seleksi adalah anggota dari grup tersebut. Namanya IPAI Inspiring Forum.

 

Buah dari Ikhtiar

Setahun sudah saya berusaha move on dari kenyataan tidak bisa menjadi mawakili prodi di seleksi MAWAPRES tingkat fakultas. Saya mulai bisa menerima kenyataan tersebut. Saya pun berupaya mendorong, memotivasi, dan mengajak adik-adik tingkat untuk secara serius mempersiapkan persayaratan mengikuti seleksi yang tinggal beberapa bulan lagi. Namun, di sisi lain ternyata diam-diam saya pun terus merapikan berkas-berkas untuk ikut di seleksi itu juga. Saya berpikir barangkali masih ada kesempatan untuk mahasiswa tingkat akhir. Hal tersbut memang karena budaya MAWAPRES di prodi saya adalah untuk mahasiswa tingkat tiga. Jadi, meskipun saya berharap, harapan tersebut diupayakan tidak terlalu dominan meskipun tetap ada di diri saya. Bahkan hal tersebut menjadi resolusi yang saya tulis di buku pribadi di awal tahun 2016.

Ternyata Allah memeluk doa dan mimpi hamba-hamba-Nya yang serius ingin mencapai sesuatu. Kesempatan untuk kembali mengikuti seleksi datang kembali. Saya dan teman-teman angkatan 2012 lain dipersilakan untuk mengikuti seleksi ini lagi. Hanya saja dua orang dari angkatan kami yang mengikutinya. Dua orang itu adalah saya dan mantan Ketua Himpunan IPAI periode sebelumnya yang tak lain adalah anggota IPAI Inspiring Forum juga.

Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Berbagai persyaratan yang sudah saya siapkan dari setahun yang lalu saya rapikan. Lalu sampailah saya di hari itu. Hari di mana mimpi semenjak mahasiswa baru kembali diperjuangkan. Alhamdulillah ternyata saya terpilih menjadi wakil untuk seleksi di tingkat fakultas untuk tahun 2016. Namun, beberapa menit setelah saya diberitahu dosen kalau saya yang mewakili IPAI, saya harus menelan pil pahit bahwa kabar itu diralat. Pihak fakultas yang mendata MAWAPRES masing-masing prodi menyatakan ketidakbolehan angkatan 2012 ikut dalam seleksi tingkat fakultas. Padahal jelas-jelas dalam panduan dari DIKTI tidak ada aturan tersebut. Itu hanya upaya jaga-jaga dari  fakultas supaya ketika yang bersangkutan lolos seleksi ke tahap berikutnya, ia tidak segera melepas status kemahasiswaanya. Waktu itu saya kembali harus menerima kekecewaan.

Ketika ditanya oleh dosen untuk mengganti dengan adik kelas saya hanya bisa menganggukan kepala meski hati tetap tidak mau menerima. Tapi, mungkin ini yang terbaik. Saya harus fokus saja sama skripsi saya. Akan tetapi, keesokan harinya salah satu dosen yang menjadi juri pada seleksi tingkat prodi (pak Cucu) memberi tahu saya via Facebook bahwa saya yang menjadi perwakilan IPAI. Senang dan haru bercampur di hari itu. Tugas selanjutnya harus segera diselesaikan dengan baik.

Saya pun akhirnya mempresentasikan karya tulis ilmiah saya yang berjudul Forum Isnspirasi Siswa Hebat. Gagasannya tentang optimalisasi ektra kulikuler keagamaan di SMA dengan bekerja sama dengan mahasiswa sebagai inspirator. Saya harus presentasi di depan juri yang keduanya profesor menggunakan bahasa Inggris waktu itu. Tapi, kemampuan bahasa Inggris saya masih jelek dan tidak ada bedanya dengan tahun sebelumnya. Namun, saya memaksimalkan penilaian lain seperti prestasi dan ide karya tulis. Optimis dan pesimis berkecemuk di kepala.

Selepas presentasi usai saya begitu lega. Amanah sudah selesai ditunaikan. Urusan hasil, itu jadi soal kesekian. Meskipun di hati kecil saya ada harap yang teralun untuk setidaknya jadi 3 besar.

Akhirnya, beberapa minggu kemudian tibalah saat pengumuman seleksi Mahasiswa Berprestasi. Pengumuman tersebut sekaligus dengan acara upacara tiap bulan yang diadakan per tanggal 17. Ketika perwakilan fakultas menyebutkan kalau MAWAPRES dari prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam atas nama Muhammad Irfan Ilmy keluar sebagai peringkat ke-3, perasaan saya campur aduk. Antara percaya dan masih merasa sangsi. Alhamdulillah, ternyata kerja keras dan konsistensi mimpi menemukan muaranya.

Mimpi yang mulia memang layak untuk dikejar dan diwujudkan. Meski begitu, jangan lupa selalu menyertakan Allah di dalamnya. Jangan lupa pula melakukan apa yang kita impikan bukan hanya berorientasi pada diri sendiri melainkan harus ditargetkan untuk berdampak pada orang banyak. Itu akan jadi spirit luar biasa yang menggerakan diri kita untuk terus berusaha.

 

Bandung, 10 Agustus 2016

 

*Disunting kembali tanggal 12 dan 13 Agustus 2016

sumber gambar: di sini

  • view 236