CATATAN AKHIR KORAN LPM INKAFA GRESIK 18 APRIL 2016

Faiz Muhammad Thoreq
Karya Faiz Muhammad Thoreq Kategori Sejarah
dipublikasikan 19 April 2016
CATATAN AKHIR KORAN LPM INKAFA GRESIK 18 APRIL 2016

Nukleus “La Survie”


Belum lama memang berdirinya, mungkin baru dua atau tiga tahun yang lalu. Pemakarsanya-pun sekarang sudah jauh meninggalkan para penerusnya. Hanya meninggalkan bayang-bayang yang sampai hari ini begitu sulit untuk dipahami kemana-dimana-apa sebenarnya tujuan awal dia menggagas lingkaran komunitas kecil ini. Sekarang mungkin dia sendiri tidak percaya bahwa para pemerhati komunitas ini masih setia memperjuangkan sisa-sisa reruntuhan kemarin, untuk dengan sabar merangkainya kembali menjadi sebuah frame yang hari ini masih berusaha mencari bentuk idealnya.
Dua tahun yang lalu dan masih sangat segar dalam ingatanku. Mereka—generasi kedua—mencoba—meski dengan tertatih tatih—menghimpun kembali sisa-sisa kekuatan untuk kembali hadir, meskipun dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Ruang gerak yang terbatas, jaringan belum terbentuk, dan finansial yang nol, satu dua bulan pertama memang menjadi penghambat yang amat mencekik nafas dan langkah. Tapi tiga bulan bagi mereka telah cukup membuktikan bahwa keterbatasan bisa ditembus dengan meluaskan cakrawala kreativitas dan ide, sementara kekurangan dapat dihancurkan dengan ikhlas dan mensyukuri yang ada untuk diupayakan dan diolah menjadi lebih bermanfaat.
Satu tahun setelahnya saat generasi ketiga naik mengganti generasi kedua, perjalanan selama satu tahun pertama mengambil peran sebagai periode penghimpun massa, sosialisasi nilai positif yang diperoleh bila ikut atau masuk, dan proses pengkaderan serta pembentukan karakter anggota. Satu tahun pertama berlalu dan terbukti usaha mereka tidak sia-sia, karena generasi ketiga datang setelahnya meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dengan tanpa secuilpun lupa akan cita-cita dan tujuan sebelumnya.
Di tahun kedua itu mereka mulai sadar bahwa suatu komunitas harus menemukan bentuk idealnya, agar kerangka bangunan yang terbentuk semakin kuat dan jelas apa dan kemana arah tujuannya dengan tanpa mengesampingkan pengaruh eksternal dari lingkungan yang ditempati.
Satu dua dan tiga tahun telah berlalu, dan hari ini-pun kita masih senantiasa berusaha mencari bentuk yang tepat, membangun jaringan yang kuat, dan mencari sistem yang sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada.
Jaringan
Membentuk jaringan struktural yang kompetitif dan berkomitmen besar bukanlah hal yang mudah dan sebentar. Butuh kesiapan mental dari seorang pemimpin yang ahli diplomasi serta anggun menyebarkan agitasi positif kepada setiap target individual pilihannya. Belum lagi dia harus mencari momentum yang tepat, yang itu membutuhkan ke”peka”an tingkat tinggi untuk berani memprediksi dengan kalkulasi yang cermat, agar setiap target dengan leluasa masuk kedalam jaring tanpa merasa terjaring.
Itu semua hanyalah tahap-tahap awal yang harus disiapkan dan dipenuhi. Karena setelah itu masih ada tahap-tahap lain yang harus dilalui dengan sabar sebagaimana proses—apapun itu—membutuhkan kesabaran yang kontinue.
Inilah sejatinya seni dakwah yang diwariskan oleh leluhur kita, Wali Songo. Yang sebenarnya secara aplikatif, bisa digunakan dibanyak lini untuk menjaring atau menambah daftar anggota, atau mungkin sekedar mengukuhkan bagian-bagian yang mulai retak.
“La survie”
Bila Jacques Derrida mengunakan makna La Survie dalam istilah Hermeneutika, maka izinkalah saya membawa semengat La Survie untuk komunitas kecil ini.
Saya sangat bersyukur bisa berkenalan dengan teman-teman yang sampai hari ini masih setia membangun proses dalam suatu “nukleus” komunitas kecil ini. Tak ada yang memungkiri bahwa perjalanan kita selama ini adalah usaha membangun etos kerja untuk selalu berusaha mengatasi kemengadaan kita. Bukan hanya tempat dan waktu yang problematis, tapi kehadiran atau kemengadaan kita sejatinya adalah sumber masalah tersendiri, yang itu menuntut kita untuk terus mengupayakan—mengatasi kemengadaan kita agar tepat hidup dan lahir kembali.
La Survie atau hidup-terus(sementara Goenawan Muhammad mengartikan mengatasi-hidup) adalah cambukan semangat sekaligus jurang-jurang yang siap bertatapan dengan kita—komunitas kecil kita—hari ini esok dan seterusnya. Bila detik ini kita masih nyaman di-nina bobok-kan oleh keadaan, dan masih belum “nglilir” dari tidur panjang kita, maka jangan sekali-kali berharap kemengadaan kita hari ini bisa melahirkan kemengadaan-kemengadaan baru dihari esok. Kalau toh kelak kita masih bisa lahir kembali, kemungkinan besar kita akan lahir dengan manifesto, struktur, dan semangat yang lain, yang mungkin lebih rendah nilainya, dan mungkin telah lupa atau melupakan diri dari nilai-nilai yang telah senior-senior—dan kita—bangun kemarin dan hari ini.
Semoga kita cukup beruntung untuk terus diberi kepercayaan oleh Tuhan mengelola dan mendaya-gunakan karunia serta anugerah-Nya, dengan selalu menghadir-wujudkan segitiga-cinta dan selalu setia dalam berproses menyebarkan cahaya-cahaya rahmat nilai-Nya.//Mth.

  • view 131