Ares dan Adat Menikah Budaya Sasak sebagai Simbol Kesetaraan

Muhammad Getar
Karya Muhammad Getar Kategori Budaya
dipublikasikan 26 Juni 2016
Ares dan Adat Menikah Budaya Sasak sebagai Simbol Kesetaraan

Sore menjelang petang, gadis desa itu meninggalkan rumah bersama kekasihnya, orangtua gadis tidak mengetahui hal ini. Ibu dan ayahnya dalam perjalanan ke Masjid untuk sholat maghrib berjamaah. Gadis itu menghilang, dicuri oleh laki-laki yang akan mempersuntingkannya di sebuah pelaminan.

Wak, panggilan saya pada ibu dan ayah gadis itu. Wak dalam bahasa Sasak berarti kakak dari ibu atau ayah. Berbeda jika ibu atau ayah lebih besar, maka panggilannya bisa inaq untuk perempuan, dan amaq untuk laki-laki, diikuti dengan nama anak sulungnya. Inaq Fauziyah, misalnya.

Ibu dan ayahnya baru mengetahui anaknya dicuri setelah ia pulang dari Masjid. Reaksi sedih bercampur bahagia menghiasi raut wajah keduanya. Ia bahagia, anaknya diculik. Ia bersedih, karena satu-satunya anaknya yang tersisa yang belum menikah meninggalkannya.

Gadis itu adalah kakak sepupu saya. Dalam budaya Sasak, mencuri anak gadis adalah hal yang lazim. Mencuri anak gadis berarti sudah dipastikan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Setelah dicuri, gadis tak satu atap dengan pacar atau orang yang menculiknya. Biasanya, ia ditempatkan di rumah saudara atau tetangganya.

Mencuri atau maling, sampai hari ini masih menjadi salah satu cara anak-anak muda untuk menikah. Jangan pikir mencuri seenaknya, semaunya, main ambil saja. Namun, mencuri maksudnya di sini yakni atas persetujuan kedua belah pihak. Gadis dan kekasihnya. Bisa jadi, karena cara itu paling ampuh, sebab, kalau sudah dicuri, gadis tidak boleh kembali ke rumah ibunya sampai proses adat yang cukup lama. Kedua, mencuri dilakukan sebagai salah satu cara untuk membuktikan bahwa anak laki-laki itu sosok pemberani. Ketiga, karena bisa jadi, ayah gadis sangat menentang “anaknya dipinang dengan cara baik.” (baca : mendatangi rumahnya layaknya tamu).

Beberapa pendapat dan filosofis yang mendasarinya ; orangtua gadis merasa hina jika anaknya diminta dengan baik, sebab, yang namanya diminta, tentu (dalam pandangan mereka) adalah hal yang tak istimewa. Sama halnya kita meminta uang lima ribu buat beli jajan. Bandingkan dengan pencuri sapi, emas, atau barang yang bernilai tinggi lainnya. Di sini kita bisa lihat, para orangtua beranggapan kalau anak yang diminta itu sama halnya dengan barang tak berharga, tak bernilai, berbeda degan mencuri. Setiap pencuri tentunya mengincar barang bernilai dan berharga.

Terlepas dari itu semua, tradisi ini sudah sedikit memudar. Namun tak sedikit pula yang masih menggunakannya. Saya melihat cara ini sebagai jalur alternatif. Di Lombok, khusunya di desa saya yang masih cukup ketat dengan tradisi, jika anak perempuan dibawa jalan melewati petang hari atau serep jelo, maka hukumnya wajib nikah. Jika laki-laki terpaksa mengantarnya pulang, perang tidak akan dihindarkan.

Lalu, setelah anak dicuri, beberapa perwakilan dari pihak laki-laki datang ke rumah calon mempelai perempuan. Lantas, membicarakan segala macam, akad dan lainnya. Biasanya, tidak sampai satu minggu, pasangan dinikahkan.

Tapi, selama prosesi itu (sejak dicuri), mempelai perempuan dilarang mengunjungi rumahnya sampai proses begawe ‘pesta’ selesai. Namun sekarang sedikit berubah. Biasanya , diselesaikan dengan sistem kekeluargaan, sehingga, walaupun belum begawe, perempuan boleh mengunjungi ibu dan ayahnya.

Kakak sepupu saya  kemarin kembali pulang, mengunjungi orangtuanya. Esok, akan diadakan pesta. Perihal nyongkolan,atau kegiatan berupa arak-arakan kedua mempelai  dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita  tidak ada.

 

Nyongkolan Sasak Lombok © Lombok Panduan Wisata

 

Ngomong-ngomong masalah begawe dalam budaya Sasak, satu hal yang paling melekat dan hukumnya ‘hampir wajib’ ada, yakni ares. Ares adalah sayur yang terbuat dari batang pisang yang masih muda dan sudah dibuang kulit luarnya yang keras. Lalu diracik dengan bumbu-bumbu macam merica, jahe, kencur, duo bawang, dan lainnya. Warnanya kuning tua bersantan, memiliki cita rasa yang unik. Bisa dipastikan, semua orang Lombok pernah mencicipi ares ini. Paling tidak satu kali dalam seumur hidup.

 

Batang pisang yang sudah dibersihkan © Lombok Panduan Wisata

 

Ares © Google Images

 

Bagi saya, ares adalah simbol persatuan, kebersamaan, dan kekuatan. Di balik pohon pisang yang kita tahu manfaatnya hanya dari buah atau dedaunannya, atau juga dari batangnya yang kadang dikesampingkan. memilki manfaat yang banyak. Ares adalah menu yang hampir ‘wajib ada,’ dan biasanya dihidangkan dengan cara begibung atau makan bersama-sama. Duduk berhadapan dua sampai empat orang. Lalu beberapa orang atau pihak yang menyelenggarakan begawe siap siaga dengan masing-masing panci besar di tangannya. Ada nasi, nangka, pepaya, dan menu wajib, ares. Jika kehabisan nasi atau sayur, tinggal memanggil petugas dan mereka akan menghampiri. Begawe rasa restoran. Bukankah ini adalah sebuah pemerataan? Tanpa memandang ras, suku, atau sosial? Semuanya dilayani dengan merata.

Beruntunglah mereka yang pernah makan ares dan duduk bersama. Semoga gadis itu langgeng selama-lamanya.

 

All Photos : Google Image's

 

  • view 186