Pancasila sebagai Maha Karya

Muhammad Faris Rifqi
Karya Muhammad Faris Rifqi Kategori Motivasi
dipublikasikan 06 Maret 2017
Pancasila sebagai Maha Karya

Hal apa yang dibingungkan para pendiri bangsa semasa hendak membentuk negara ini? Ialah dasar negara. Dasar negara atau falsafah hidup berbangsa merupakan sesuatu yang dapat diibaratkan sebagai sebuah "ruh" bagi setiap bangsa-negara. Suatu bangsa dalam menentukan rumah tangganya memerlukan suatu pola atau aturan tertulis dan lisan yang menjadi pedoman hidup. Hal inilah yang disebut falsafah hidup bangsa. Indonesia sebagai negara yang dihuni berbagai macam etnis, suku, dan pemeluk agama-kepercayaan mendesain dirinya sebagai sebuah negara bangsa yang penulis istilahkan negara "es-campur seger buger". Es campur adalah minuman olahan khas nusantara pelepas dahaga yang terdiri dari setidaknya tape, potongan buah, cincau, dikuahi dengan air santan segar yang dilaruti susu kental manis yang yahud abis ("yahud" nya jangan ditambahi "i"), hehehe. Terdiri dari macam-macam bahan membuat es-campur terasa "manis seger buger". Jika tidak pakai tape, serasa kurang. Apalagi kalau tidak pake air santannya? Sama aja nyemil cincau, tape, dan buah. Jelas kalau begitu bukan es campur lagi namanya. Hehehe. 

Sama halnya Indonesia. Dengan keberagamannya membuatnya makin indah dilihat, makin enak dipandang, makin ajib diperhatikan. Apalagi jika setiap kelompok yang berbeda tersebut dapat saling berintegrasi dan memiliki solidaritas kebangsaan yang kuat. Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang menghargai perbedaan. Bukan hanya menghargai dan mengenal sebatas apa yang berbeda sih, tapi juga harus mau berinteraksi dan menjalin soliditas dengan mereka yang berbeda. Untuk menjalin interaksi dengan mereka yang berbeda kultur-kebudayaan, etnis, maupuk agama, tentu tidak semudah yang dipikirkan. Ada semacam tembok besar penghalang yang bisa membatasi atau bahkan menghalangi terjadinya interaksi dan soliditas antar kelompok yang berbeda tersebut. Salah satunya adalah prasangka sosial. Proses sosialisasi yang tidak sempurna dalam suatu kelompok akan mempermudah timbulnya prasangka sosial para anggotanya terhadap kelompok lain. Prasangka sosial ini tentu bukanlah suatu hal yang baik untuk dipelihara dalam masyarakat multikultural. Jika prasangka sosial terus dikembangbiakkan, munculnya konflik antar kelompok adalah harga mahal yang harus dibayar masyarakat. Seharusnya semakin dewasa usia kita sebagai bangsa sejalan lurus dengan kesadaran solidaritas kebangsaan yang berbasis persaudaraan. Dengan menekan semaksimal mungkin prasangka sosial dengan memanfaatkan lembaga-lembaga sosial yang ada. 

Pancasila sebagai ideologi bangsa merupakan "maha karya" dari proses penggalian nilai-nilai luhur bangsa. Memang benar, Soekarno, Yamin, maupun Soepomo adalah "hero" yang turut andil dalam menelurkan Pancasila. Namun, Soekarno pernah mengatakan bahwa ia bukanlah pencipta Pancasila. Karena menurut beliau asal-muasal dasar negara kita ini adalah nilai luhur bangsa kita sendiri. Maka dari itu, lucu jika sebagian anak bangsa meragukan atau bahkan menolak Pancasila sebagai ideologi ideal bagi negaranya. Tapi lebih menyedihkan lagi jika sebagian anak bangsa menghadap-hadapkan Pancasila dengan agama (mereka sering mengatakan Pancasila bertentangan dengan agama yang mereka anut). Tentu ini pemikiran dan anggapan yang keliru. Inilah yang saya maksud sebagai buah hasil dari proses sosialisasi yang tidak sempurna hingga menyebabkan pemahaman yang salah. Dalam hal ini, proses sosialisasi agama yang diterima mereka tidaklah sempurna. Agama yang seharusnya dipelajari dengan utuh, disubsidikan kepada putra-putri bangsa secara parsial atau sepotong-sepotong, tidak menyeluruh. Sehingga rawan terjadi penyimpangan dalam memahami hal-hal tertentu. Bahkan pemikiran yang mempertentangan agama dengan Pancasila itu dibangun atas landasan pengetahuan yang ahistoris. Jelas mereka gagal melihat fakta sejarah, bahwa para agamawan juga turut terlibat dalam perumusan Pancasila. Dan nilai-nilai Pancasila juga merupakan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh setiap agama.

Agama mengikat masing-masing kelompok penganutnya. Sedangkan, Pancasila mengikat seluruh penganut agama-agama yang ada di Indonesia, menjelma sebagai tali perekat abadi persaudaraan anak bangsa dari berbagai latar belakang. 

Tugas sulit generasi kita adalah menekan prasangka sosial yang rentan menimbulkan perpecahan bangsa. Dengan memberikan sebuah sosialisasi yang sempurna bagi anak-anak kita untuk memahami kehidupan yang tidak sehitam-putih yang dikira. Memahami realitas, bahwa semua insan tidak mungkin seragam dalam berbagai hal (apalagi memakai seragam sekolah yang sama), hehehe.

  • view 93